Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi – 3

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi – 3
Cover depan dan cover dalam buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004 (Foto: dok/PWMU.CO)

Tulisan di bawah ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004.” Diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, pada Juni 2005. PWMU.CO akan menerbitkannya secara berserial, dengan tetap mencantumkan halaman yang terdapat dalam buku aslinya di setiap tulisan.

Buku ini ditulis oleh Tim Penulis yang terdiri: Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Sementara anggotanya adalah Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Sementara konsultannya adalah M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

***

(halaman 5)

Perdebatan di kalangan Tim juga muncul di sekitar bagaimana sejarah ini harus ditulis. Sebagian berpendapat bahwa buku ini akan lebih menarik jika ditulis dalam bentuk sejarah analitis dan memanfaatkan ilmu bantu, seperti ilmu-ilmu sosial. Keuntungan dari pendekatan ini adalah bahwa data-data yang ada dipandang cukup memadai, tinggal Tim menganalisisnya dan menafsirkannya dalam setting sosial tertentu. Perhatian sejarah akan mengarah pada hubungan antarperistiwa atau sebab-akibat, bagaimana peristiwa itu terjadi, dan apa maknanya dalam kerangka pandangan dunia (worldview) Muhammadiyah. Pilihan ini ternyata ditinggalkan.

Sejarah analitis sesungguhnya sangat penting, tetapi dengan pertimbangan wilayah cakupannya yang amat luas, yakni mencakup seluruh Jawa Timur dan rentang waktunya juga amat panjang dari 1921 sampai dengan 2004, dalam pada itu waktunya semakin mendekat, maka pilihan jatuh pada sejarah naratif (narrative). Sejarah dalam bentuk ini sesungguhnya sangat diperlukan juga. Paparannya yang penuh dengan data-data akan memberikan gambaran sebuah peristiwa

(halaman 6)

tertentu. Lebih-lebih, para peneliti bisa memanfaatkan data-data itu untuk kepentingan penelitiannya.

Dari sejarah naratif ini akan lahir karya-karya, termasuk karya akademik, yang bercorak sejarah analitis. Marilah kita melihat sebentar apa yang terjadi dengan sejarah Islam, seperti Ibn Hisyam (penulis yang merekonstruksi karya yang hilang dari Ibn Ishaq), al-Thabari dan al-Ya’qubi. Bersumber dari karya-karya itu, telah muncul karya-karya sejarah yang sangat mengagumkan.

Penulis-penulis modern pun tidak bisa lepas dari karya-karya klasik itu ketika menulis sejarah Islam masa awal. Ibn Khaldun, seorang sejarawan yang sekaligus bapak sosiologi dan filsafat sejarah, menulis sebuah buku yang berjudul al-Muqaddimah. Isinya sangat analitis dan filosofis, yang sampai sekarang masih sangat mengagumkan apalagi jika dilihat dalam konteks jamannya.

Tetapi, ia juga menulis sebuah kitab yang berjudul Kitab al-‘Ibar, yang isinya adalah narasi sejarah (historical narrative). Mengaca pada itu, Tim tampaknya merasa yakin bahwa karya yang ditulis dalam bentuk narasi ini akan bermanfaat, dan, seperti telah disebut di muka, menjadi pijakan bagi lahirnya karya-karya baru.

Buku ini berjudul Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004. Judul itu sendiri menggambarkan bahwa isinya meliputi masa kurang lebih 83 tahun perjalanan Muhammadiyah di semua daerah kabupaten dan kota, yang paralel dengan pembagian administrasi pemerintahan sekarang. Sebenarnya, menurut ketentuan Muhammadiyah, kepemimpinan Persyarikatan tidak mutlak harus paralel dengan administrasi pemerintahan. Pembagian daerah kepemimpinan bisa disesuaikan dengan kondisi dan situasi organisasi.

SMPM 5 Pucang SBY

Dengan cakupan yang meliputi seluruh wilayah Jawa Timur, maka diharapkan tergambar perkembangan di setiap daerah. Namun demikian, ada dua hal yang patut disadari. Pertama, sejarah Jawa Timur tidak identik dengan agregat sejarah 36 daerah. Karena itu, Tim mencoba menata buku ini sedemikian rupa sehingga terlihat wajah Muhammadiyah Jawa Timur.

Kedua, porsi pemaparan tidak selalu sama dari satu daerah ke daerah yang lain. Tim punya keterbatasan dalam menggali sumber-sumber sejarah secara merata atau seimbang, sehingga ada suatu daerah yang hanya ditulis dalam

(halaman 7)

satu atau dua halaman, dan ada pula daerah yang mencapai sepuluh halaman. Ketidakseimbangan itu kami yakin tidak akan mengurangi pemahaman terhadap Muhammadiyah Jawa Timur sebagai sebuah entitas sejarah.

Dari substansi sejarah pada masa dan di kawasan tertentu itu, ditulislah sebuah judul metaforik, yakni Menembus Benteng Tradisi. Untuk menjelaskan makna judul ini, ada dua hal penting untuk dicatat. Pertama, ialah bahwa Muhammadiyah lahir dengan membawa misi sucinya, yakni dakwah amar makruf nahi munkar (al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar), yang identik dengan proses pencerahan. Proses itu harus juga berwatak tajdid (pembaharuan).

Jadi, dakwah, pencerahan dan tajdid merupakan satu kesatuan watak Muhammadiyah yang tak terpisahkan, dan usaha yang serius sebagai cerminan watak itulah yang dilambangkan dengan kata-kata “menembus” dalam judul buku ini. Benteng tradisi melambangkan bahwa Jawa Timur dikenal orang sebagai benteng pertahanan tradisi yang telah berkembang sejak zaman nenek moyang sampai sekarang. Tradisi abangan tradisional dicerminkan dalam budaya sedekah bumi, sedekah laut, ngruwat dan lain-lain. Tradisi santri tradisional tercermin dalam upacara ritual dan mitos yang tidak berpangkal pada Islam.

Kedua tradisi itu kemudian ditambah dengan sindrom kejumudan, keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan. Benteng inilah yang telah ditembus oleh Muhammadiyah selama 83 tahun di Jawa Timur. Adapun sejauh mana kemampuan dan keberhasilan dalam melakukan pencerahan setelah menembus benteng itu, maka penilaiannya harus dilakukan dengan mempertimbangkan relasi Muhammadiyah dengan berbagai kekuatan tradisi, kekuatan ekonomi, kekuatan sosial, dan kekuatan politik. Yang jelas Muhammadiyah terus berkembang dan beramal tiada henti.

Penting untuk diketahui bahwa inspirasi judul itu muncul dalam perbincangan antaranggota Sidang Tanwir dari Jawa Timur (Prof. Dr. Fasichul Lisan, K.H. Mu’amal Hamidy, Prof. Dr. Syafiq A. Mughni, Drs. Nurcholis Huda, M.Si, dan Dr. Esty Martiana Rachmie) di arena Sidang Tanwir 2004 di Mataram. Setelah membahas dan sedikit merevisi judul tentatif yang disampaikan oleh anggota Tanwir pada 11 Maret 2005, Tim Penulis kemudian sepakat dengan judul yang sekarang ini.

(bersambung)

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 21/05/2026 00:02
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡