Dalam hiruk-pikuk gaya hidup modern yang serba cepat, sering kali kita terjebak dalam standar kesehatan dan kecantikan yang kaku.
Buku terbaru karya Dewi Musdalifah, Buah Naga Lauk Ikan Pindang, hadir sebagai sebuah refleksi mendalam tentang perjuangan seseorang dalam berdamai dengan tubuhnya sendiri.
Melalui gaya bahasa yang intim dan jujur, penulis mengajak pembaca menyelami narasi “perjalanan pulang”—sebuah metafora untuk kembali ke fitrah diri dan mencintai kesehatan tanpa rasa takut.
Dewi Musdalifah bukanlah nama baru dalam jagat literasi Jawa Timur, khususnya di Kota Gresik.
Sebagai seorang pendidik di SMA Muhammadiyah 1 Gresik, ia telah lama mendedikasikan hidupnya untuk menyemai benih kreativitas melalui yayasan kebudayaan dan berbagai organisasi literasi.
Sosoknya dikenal sebagai penulis yang piawai memotret realitas keseharian, sebuah keahlian yang telah membawanya meraih penghargaan di ajang bergengsi seperti GTK Creative Camp Jawa Timur.
Dalam setiap goresan penanya, Dewi sering kali mengeksplorasi kedalaman makna di balik peristiwa sederhana.
Melalui karya-karya sebelumnya seperti buku puisi Kembara dan Sakau, ia telah menunjukkan karakteristik tulisan yang hangat dan reflektif.
Kini, melalui buku terbarunya, ia melangkah lebih jauh dengan membedah pengalaman personalnya sendiri, mengubah kegelisahan batin menjadi pesan universal yang menyentuh.
Pada buku terbarunya ini, Dewi membuka tirai pengalamannya dalam menghadapi obesitas dan kecemasan yang menghantui seputar angka-angka medis, mulai dari kolesterol hingga tekanan darah.
Judulnya yang unik, Buah Naga Lauk Ikan Pindang, mencerminkan kesederhanaan dan realitas keseharian yang ia jalani.
Di satu sisi, buah naga melambangkan upaya pembersihan dan nutrisi, sementara ikan pindang adalah simbol kebersahajaan dan kearifan lokal yang akrab di lidah masyarakat Jawa Timur.
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah keberanian penulis untuk mengakui bahwa diet sering kali terasa seperti “hukuman”.
Namun, melalui proses kontemplasi, ia berhasil mengubah paradigma tersebut.
Menjaga pola makan bukan lagi tentang membatasi diri karena benci pada bentuk tubuh, melainkan bentuk rasa syukur dan kasih sayang kepada diri sendiri.
Ia menekankan bahwa perjalanan menurunkan berat badan adalah sebuah proses spiritual untuk “pulang” ke kondisi tubuh yang lebih selaras.
Dewi Musdalifah mampu meramu kegelisahan personal menjadi pesan universal.
Pembaca akan merasa ditemani, terutama bagi mereka yang pernah merasa gagal dalam program diet atau merasa tertekan oleh tuntutan sosial mengenai penampilan fisik.
Narasi yang dibangun terasa mengalir dan tidak menggurui, membuat pesan-pesan filosofis di dalamnya mudah dicerna.
Buah Naga Lauk Ikan Pindang adalah bacaan wajib bagi siapa pun yang ingin memulai pola hidup sehat dengan sudut pandang yang lebih humanis.
Buku ini mengingatkan kita bahwa kesehatan sejati dimulai dari ketenangan pikiran dan penerimaan diri. Sebuah karya yang hangat, jujur, dan sangat relevan dengan realitas masyarakat saat ini.***





0 Tanggapan
Empty Comments