Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab II berjudul “Jawa Timur Awal Abad ke-20”, halaman 31, 32, dan sebagian 33.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 14
***
Halaman 31
Di samping itu, ada penganut agama Hindu dan Budha di Jawa Timur, yang merupakan agama terdahulu sebelum digantikan oleh Islam. Penganut agama Hindu dan Budha yang dahulu mayoritas, pada abad ke-20 menjadi minoritas, digantikan oleh umat Islam yang mulai bangkit.
Pada awal abad ke-20, umat Islam di Indonesia mulai bangkit dari kemunduran akibat penjajahan Belanda. Gerakan kebangkitan Islam di Timur Tengah yang dipelopori oleh Sayyid Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha mempengaruhi umat Islam di Indonesia.
Muhammad Abduh dan al-Afghani diusir dari Mesir karena kegiatan politik. Mereka kemudian menuju Paris, dan di sana menerbitkan majalah al-Urwatul Wusqa. Majalah ini dilarang beredar di Indonesia oleh Belanda. Namun K. H. Ahmad Dahlan bisa memperoleh majalah tersebut, yang diselundupkan lewat pelabuhan Tuban. Majalah itu juga dilarang beredar oleh Inggris di Mesir dan India (55).
Umat Islam Indonesia ingin menata dirinya dengan membentuk organisasi, dan yang pertama kali berdiri adalah Jami’at al-Khair oleh orang-orang Arab pada 1905 di Jakarta. Perselisihan antara golongan sayyid dan non-sayyid dalam tubuh Jami’at al-Khair menyebabkan terbentuknya al-Irsyad pada 1914 di Jakarta oleh
Halaman 32
Syaikh Ahmad Surkati, seorang ulama yang berasal dari Sudan. Cabang-cabang al-Irsyad kemudian meluas hingga ke Jawa Timur. (56)
Muhammadiyah berdiri pada 18 Nopember 1912 di Jogjakarta, dipelopori K.H. Ahmad Dahlan, seorang ulama yang pernah mengenyam pendidikan agama di Mekkah, pada 1890 dan 1903-1905, dan berguru kepada Syaikh Ahmad Khatib. Ahmad Dahlan bertindak sebagai khatib di mesjid Kesultanan Jogjakarta menggantikan ayahnya, meskipun itu bukan satu-satunya pekerjaan baginya karena ia juga aktif berdagang batik untuk memenuhi nafkah hidupnya (57).
Ahmad Dahlan juga aktif dalam Budi Utomo sejak 1909. Ia memberikan pelajaran agama bagi anggota-anggota Budi Utomo yang umumnya guru dan pegawai pemerintah. Ia berharap agar guru-guru tersebut dapat meneruskan ajaran yang diberikan kepada murid-muridnya.
Ketika dilaksanakan kongres Budi Utomo pada 1917 di Jogjakarta, rumah Ahmad Dahlan dijadikan pusat kegiatan kongres tersebut. Tabligh Ahmad Dahlan yang dilaksanakan dalam kongres itu memesona para peserta, sehingga banyak orang daerah minta agar didirikan cabang Muhammadiyah di daerah mereka (58).
Kaum modernis yang menginginkan pembaharuan pemikiran Islam mendirikan organisasi Persatuan Islam (Persis) di Bandung pada 17 September 1923, di bawah pimpinan K.H. Zamzam. Persis bertujuan mengembalikan kaum Muslimin pada al-Qur’an dan Hadits, menghidupkan jihad dan ijtihad, membasmi bid’ah, khurafat, takhayul, taklid dan syirik, memperluas tabligh, mendirikan sekolah dan pesantren.
Pada 1926 seorang ulama, Ahmad Hassan bergabung ke Persis dan mendirikan pesantren di Bandung. Namun, pada 1940 Hassan pindah ke Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, dan juga mendirikan pesantren di sana.(59)
Pada dekade ketiga, berdiri organisasi Islam yang berbasis pesantren, Nahdlatul Ulama (NU) pada 31 Januari 1926 di Surabaya. Pelopornya adalah KH. Hasyim Asy’ari, pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Lahirnya NU dilatarbelakangi oleh situasi keagamaan Islam yang sedang menggeliat untuk memperbarui diri.
Sementara itu, para ulama muda yang baru pulang belajar dari Mekkah mendirikan madrasah dan pengajian-pengajian di Surabaya yang dipelopori oleh Kyai Abdul Wahab dan Kyai Mas Mansur.
Halaman 33
Mereka mendirikan Nahdlatul Wathan pada 1914, dan Tashwirul Afkar pada 1918.(60)
Muhammadiyah yang berdiri di Jogjakarta pada 1912 telah merambah ke Jawa Timur, dan telah berdiri di Surabaya pada 1 Nopember 1920. Kyai Mas Mansur akhirnya menyokong organisasi tersebut, dan bersama dengan al-Irsyad yang sudah ada sebelumnya memperbaiki paham keagamaan dalam masyarakat Islam.
Perbedaan-perbedaan pendapat masalah agama yang bersifat furu’iyah terjadi antara kelompok Muhammadiyah, al-Irsyad dan para ulama dari pesantren dan kelompok Tashwirul Afkar. Perselisihan antara kedua kelompok itu juga menyangkut masalah politik di dunia Islam.
***
Buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggotanya adalah Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Sementara konsultannya adalah M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments