Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed., menegaskan bahwa pendidikan anak sejatinya dimulai jauh sebelum seorang anak memasuki bangku sekolah. Bahkan, menurutnya, proses pendidikan sudah dimulai sejak seseorang memilih pasangan hidup.
Hal itu disampaikan Abdul Mu’ti saat memberikan pengarahan dalam Konsolidasi Pendidikan Muhammadiyah Jawa Timur yang digelar Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Aula Mas Mansyur, Kantor PWM Jawa Timur, Surabaya, Rabu (29/7/2026).
Kegiatan bertema “Transformasi Pendidikan Bermutu untuk Semua: Mewujudkan Sumber Daya Unggul Berkemajuan” tersebut diikuti pimpinan dan pengelola amal usaha pendidikan Muhammadiyah dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Dalam pemaparannya, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa kualitas pendidikan anak tidak hanya ditentukan oleh proses belajar di sekolah, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan keluarga sejak awal kehidupan.
“Pendidikan dimulai sejak memilih pasangan hidup,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam perspektif agama, proses pendidikan bahkan telah berlangsung sejak anak berada di dalam kandungan. Pada fase tersebut, perkembangan otak janin sudah mulai terjadi sehingga berbagai stimulasi positif akan memberikan pengaruh terhadap tumbuh kembang anak.
Menurut Abdul Mu’ti, kebiasaan ibu selama masa kehamilan menjadi bagian penting dalam membangun fondasi karakter dan spiritual anak.
“Jika seorang ibu sering mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan mengaji selama masa kehamilan, anak akan lebih terbiasa dengan Al-Qur’an,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengalaman awal yang diterima anak akan menjadi bekal penting yang memengaruhi perkembangan mereka pada masa-masa berikutnya. Oleh karena itu, keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam membangun kualitas generasi sejak dini.
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti juga menjelaskan salah satu kebijakan pemerintah di bidang pendidikan, yakni penerapan wajib belajar 13 tahun. Menurutnya, kebijakan tersebut didasarkan pada pentingnya memberikan akses pendidikan yang lebih panjang pada fase perkembangan anak yang sangat menentukan.
“Salah satu strategi kami adalah menerapkan wajib belajar 13 tahun karena periode tersebut merupakan masa yang sangat krusial bagi seseorang untuk memperoleh pendidikan,” katanya.
Selain memperluas akses pendidikan, Abdul Mu’ti juga mengingatkan pentingnya perubahan pendekatan pembelajaran di sekolah. Ia menilai proses belajar tidak boleh berhenti pada aktivitas menghafal, tetapi harus mampu memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.
“Dalam menjalankan pendidikan kita harus menerapkan pembelajaran, bukan sekadar menghafal. Jangan hanya menyuruh siswa menghafal, tetapi hadirkan pengalaman belajar yang benar-benar bermakna (meaningful learning),” tegasnya.
Menurut Abdul Mu’ti, pembelajaran yang bermakna akan membantu peserta didik memahami konsep secara mendalam, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, sekaligus membentuk karakter yang kuat. Dengan pendekatan tersebut, pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepribadian, spiritualitas, dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan masa depan.
Melalui Konsolidasi Pendidikan Muhammadiyah Jawa Timur, ia berharap seluruh sekolah Muhammadiyah terus memperkuat kolaborasi dalam menghadirkan pendidikan yang berkualitas, berkarakter, dan relevan dengan perkembangan zaman. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments