Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi – 69

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi – 69

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab V berjudul “Muhammadiyah Masa Kebangkitan (1956-2004)”, halaman 195 s/d sebagian 199.

Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 68

***

Halaman 195

Muhammadiyah Sedayu berdiri pada 13 Mei 1966, {66} diawali dengan berdirinya PC Pemuda Muhammadiyah pada 2 tahun sebelumnya (9 Juli 1964). Ranting-ranting yang ada di cabang Sidayu sebanyak 13. Yaitu Wadeng, Golokan, Purwodadi, Bunderan, Kauman, Penghulu, Sedagaran, Serowo, Mriyunan, Sidomulyo, Raci Tengah, Asem Papak dan Tanjung Sari. {67}

PCM Gresik pada 1974 berubah status menjadi PDM. Saat itu diketuai H. Amanullah Adnan. Penataan organisasi terus digalakkan ke kecamatan-kecamatan. Salah satunya di Kecamatan Menganti (1983), tepatnya di Desa Gempol Kurung dibawa Supadi, seorang pedagang kerupuk.

Ia mendapat pengaruh Muhammadiyah setelah aktif mengikuti pengajian rutin di beberapa tempat di Surabaya, yang diasuh oleh Ustadz Abdullah Sattar, Ainur Rafiq, dan Ahmad Ubaid, juga aktif berkonsultasi pada Ustadz Fauzan dari Melirang-Bungah-Gresik. Sejak 7 Juni 1987 berdiri Cabang Menganti, dengan enam ranting, yaitu Ranting Sidowungu, Gempol Kurung, Putat Lor, Boboh, Setro dan Kepatihan.

Pengembangan gerakan terus dilakukan hingga Wringinanom. Sebelum 1993, tepatnya di desa Lebanisuko, dibawa seorang buruh pabrik dari Driyorejo; Mohammad Arifin. Cabang Wringinanom berdiri (1963), membawahi 7 ranting; Wringinanom, Lebanisuko, Tlanak Sembung, Kesamben Kulon, Panggang dan Lebaniwaras. Pada sekitar 1990-an, mulai masuk kawasan Driyorejo, dipelopori pendatang yang bekerja di Driyorejo, di antaranya M. Arifin.

PCM Driyorejo berdiri pada 19 Desember 1997. Tokoh-tokoh berpengaruh pada waktu itu adalah H. M. Saudi Mustofa (berasal dari Lamongan), Drs. Abdul Rahim, dan Purwanto, B.A (Legundi), H.M Yusron Navi, Madkur, H. Qomarudin, H. Djainul Akbar, H.M Djais, dan Abdul Muis (Krikilan), Ishari, Drs. Sapto Raharjo, M. Syaiful Allam, dan Jaksari (Driyorejo Kota Baru), M. Ridwan (Mojosari Rejo), Drs. Sudiro dan Drs. Agus Supriyadi (Sumput Asri).

Halaman 196

PCM membawahi 9 ranting, yakni Legundi, Krikilan, Tenaru, Perum Sumput Asri, Banjaran, Bambe, Kota Baru (Petiken) dan Kencana. Seiring dengan meluaskan perumahan baru di Gresik, yang dihuni oleh sebagian besar kalangan terpelajar, Muhammadiyah juga tumbuh subur dalam perumahan baru, seperti di Gresik Kota Baru (GKB). Pembentukan cabang diproses bersamaan dengan pembentukan ranting.

Rapat di rumah H. Isyaf Ali {68} pada 2000, yang diprakarsai Taufiq Hadi, berhasil menyusun kepengurusan cabang. Taufiq Hadi sebagai ketua, H. Marindra dan H. Isyaf Ali sebagai wakil, Jupri Sekretaris, dan Yamin Bendahara. Cabang ini meliputi Ranting GKB 1 dengan Ketua Hadi, yang luas wilayahnya meliputi Jalan Raya Brantas, Ranting GKB 2 meliputi Jalan Taman Brantas, ketuanya Khairul Hafil dan Ranting GKB 3 di jalan Blitar dengan Ketua M. Choiruz Zimam.

Pada periode 1995-2000, PDM Gresik dipimpin oleh Drs. Muhammad In’am, dilanjutkan K.H. Muchlas Hamim pada 2000-2005.

  1. Kabupaten dan Kota Mojokerto

Ranting Gedeg yang berdiri sejak 1959 berkembang menjadi Cabang pada 1963. Menyusul kemudian Cabang Mojosari pada

Halaman 197

1965. Pada 1966, Muhammadiyah Mojokerto Selatan dan Ngoro resmi menjadi Cabang, disusul oleh Cabang Puri yang berdiri pada 1979. Muhammadiyah Daerah Mojokerto memiliki 16 cabang, dan 80 ranting. Dari jumlah ranting yang ada, sebagian aktif dan sebagian lainnya kurang aktif. Di awal era Orde Baru (1967), IPM berhasil meluncurkan dan melakukan siaran melalui radio dengan gelombang pemancar 64,2. Selain untuk kegiatan dakwah dan syiar Islam di Mojokerto, radio ini juga dimanfaatkan oleh berbagai kegiatan kemasyarakatan.

Pada periode 1985-1990, PDM Mojokerto dipimpin oleh Nazaruddin Rachman, BA. Pada periode berikutnya (1990-1995) dipimpin Drs. H. Chusni Walujo. Ketika Musyda periode 1995-2000 H. Ali Munadi terpilih sebagai ketua. Pada periode 2000-2005 dipimpin oleh Drs. Holiin Daelani. Di tengah perjalanan kepemimpinan periode ini, ketua PDM diganti oleh Drs. H. Qowaid.

SMPM 5 Pucang SBY

  1. Kabupaten Jombang

Sebagai salah wujud kepedulian Muhammadiyah di bidang dakwah sosial, pada 1954 Muhammadiyah Cabang Jombang membeli tanah seluas 3000 m persegi untuk pembangunan gedung panti anak yatim (PAY). Peletakan batu pertama pembangunan gedung tersebut dilakukan Ketua Perwakilan Pusat Muhammadiyah Jawa Timur tanggal 9 Agustus 1954/10 Dzulhijjah 1373 H.

Para pimpinan Muhammadiyah Jombang yang dapat disebutkan di sini antara lain K.H. Abdul Muchid Djaelani yang menjadi ketua pada periode 1995-2000, dan K.H. Fauzan yang terpilih sebagai ketua periode 2000-2005. Sampai 2002, terdapat 15 PCM yang berada dalam pembinaan Muhammadiyah Daerah Jombang dari 21 kecamatan yang ada dan 71 ranting. Jumlah anggota yang terdaftar sebanyak 4.611, dan sekitar 28.000 simpatisan. {70}

  1. Kabupaten Blitar

Upaya membangkitkan kembali Muhammadiyah Blitar dilakukan dengan pengajian. Sebelumnya, diadakan di Sumberpucung, Malang yang diikuti tokoh-tokoh Muhammadiyah Blitar, seperti Nato Ilham, Mangun Suwiryo, Hadi Wasito dan Parto Mukri. Ketika pengajian diadakan di Blitar, didatangkan muballigh dari pusat, H. Abdul Azis,

Halaman 198

dan dilanjutkan dialog. Di wilayah itu orang-orang Komunis dirasakan sangat membenci dan mengganggu kegiatan Muhammadiyah. Itulah sebabnya H. Abdul Azis saat datang ke Blitar mendatangi tokoh PKI di Jalan Irian untuk mengajak menjalankan agama yang lurus dan tidak mengganggu aktivitas Muhammadiyah. Karena acapkali pengajian Muhammadiyah diganggu oleh mereka.

Pengenalan doktrin gerakan ini tidak langsung direspon positif oleh masyarakat, tetapi dengan kegigihan para penyebarnya, secara perlahan mulai memperoleh simpati masyarakat. Tokoh-tokohnya, Darmosarono, H. Abdullah, Parto Mukri, Maksum, Sastrowahono, Hadiwarsito, Bustami, Harjo Wisastro, Moh. Tahsis, R. Sosrowijoyo, Mohammad Daenuri, Mohammad Salim dan Mohammad Barnawi.

Mereka yang tergabung dalam angkatan muda antara lain Marchum Fuadi, Abdul Hamid, Tamam Bin Bardan, Ahmadi, Mohammad Bambang Prayitno, Suwoto dan sebagainya, sedangkan yang tergabung pada Pemuda Muhammadiyah ialah Mohammad Anshor, Subiyantoro, Nasjrudin, Mohammad Sudarminto, Mohammad Sundarto, Mohammad Yantonis, dan Mohammad Nurman.

Ketika digelar Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) pada 1964, ada sebagian delegasi Arab yang berkunjung ke Blitar. Pemerintah dan Pengurus Muhammadiyah Blitar menyambut bersama. Saat itu hubungan Pimpinan Muhammadiyah dengan Dandim 0808 sangat baik. Untuk menyambut kedatangan tamu tersebut didatangkan Drum Band Pemuda Muhammadiyah Sumberpucung dan Drum Band Nasyiatul ‘Aisyiyah Kepanjen, Malang.

Dua unit Drum Band itu dimainkan penuh semangat, tertib dan kompak, didukung pakaian baret, baju kuning celana coklat berslempang biru. Di unit yang lain berseragam putih berslempang merah. Blitar digemparkan penampilan dua Drum Band tersebut. Nama Muhammadiyah kian dikenal masyarakat dan selanjutnya di Blitar bermunculan Drum Band. {71}

Pada awal Orde Baru, sulit mendatangkan muballigh dari luar daerah. Ketika akan menghadirkan Abdul Wahid Suyoso dari Surabaya, panitia disidang di Kodim 0808 untuk mempertanggungjawabkan ceramah yang akan disampaikan. Ternyata isinya sangat membantu pemerintah. Setelah itu, Muhammadiyah bisa mendatangkan mubaligh dari luar seperti Ustadz Bey Arifin dari

Halaman 199

Surabaya, dan Moh. Sjamlan dari Tulungagung. Sejak itulah gerakan Muhammadiyah berlangsung tanpa kendala, khususnya tabligh ke ranting-ranting. Selanjutnya, Cabang Kota Blitar berubah status menjadi daerah dan memiliki beberapa cabang serta ranting. Kini terdapat 10 Cabang dan 34 ranting. Cabang-cabang itu adalah Srengat, Talun, Nglegok, Wlingi, Kepanjen Kidul, Kesamben, Kanigoro, Wates, Garum dan Sutojayan.

***

Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 18/07/2026 14:46
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu