Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab V berjudul “Muhammadiyah Masa Kebangkitan (1956-2004)”, halaman 191 s/d sebagian 195.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 67
***
Halaman 191
Kini terdapat 16 Cabang (satu belum resmi) {53} dengan 145 ranting, Ketua Cabang dan jumlah ranting-rantingnya, yaitu : Sidoarjo (H. Ali Fikri, 14), Sepanjang (H. Maid, 21), Porong (Mahzumi, 6), Krian (fahmi, 15), Sukodono (Hanafi, 8), Tulangan (Darsono, 10), Balongbendo (Soim, 6), Gedangan (Hendro, 6), Candi (H. Ma’ruf, 16), Tarik (H. Suroso, 4), Sedati (Suwignya, 4), Tanggulangin (Abdullah Hasan, 15), Krembung (Sugiono, 4), Waru (Hamam, 9), Buduran (Sa’rozi Khumaidi, 4), dan Wonoayu. (2). {54} Jumlah masjid yang dikelola ada 24, tersebar di Sidoarjo 1, Tulangan 2, Balongbendo 2, Sukodono 1, Tanggulangin 3, Porong 2, Candi 4, Gedangan 5, waru 1, Sepanjang 1, dan Krian 2.
Sidoarjo pada 27-31 April 1968 menjadi tuan rumah Muktamar Tarjih, yang dihadiri 132 utusan dari pusat, wilayah dan daerah. Dari Yogyakarta 8, DKI Jakarta 8, Jawa Barat 10, Jawa Tengah 18, Jawa Timur 33, Sumatra Selatan 3, Jambi 2, Kalimantan Selatan 2, dan Sulawesi Tengah 1.
Agenda yang dibicarakan mengenai riba dan bungan bank, Perjudian dan Taruhan, Keluarga Berencana (KB), Hijab, dan hukum pemasangan gambar K.H. Ahmad Dahlan. Pada periode 1995-2000, PDM Sidoarjo dipimpin oleh Drs. Sokheh, kemudian digantikan oleh Drs. Abu bakar pada periode 2000-2005.
- Kabupaten Gresik.
Pada 1957 Muhammadiyah Gresik mulai melebarkan sayapnya dengan membentuk ranting di beberapa kecamatan. Di Kecamatan Kebomas, diawali dengan silahturrahim Idul Fithri 1957 yang dihadiri beberapa tokoh Muhammadiyah Cabang Gresik, antara lain H. Usman, Kari Iman, dan Kadar.
Mereka berkumpul di rumah H. Khozin kampung Kajen Giri. H. Khozin telah menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut Muhammad Hasan Khozin, Wan Salim, Abdul Ghafar Thalib, dan Muhammad Asyraf. Dalam
Halaman 192
pertemuan tersebut dibicarakan tentang rencana pembagian zakat fitrah tahun 1958 dari Cabang Gresik, dan tata cara pembagiannya. Sebagian masyarakat menerima zakat tersebut, dan selainnya menolak karena zakat itu dari Muhammadiyah. Sebelum ranting Kebomas terbentuk, di kampung Kajen Giri Kebomas sering diadakan pengajian Ustadz Abdul Manan dari Socah, Bangkalan. Materi pengajiannya sekitar masalah aqidah dan ibadah. Dari materi yang disampaikan dalam forum Kajen itu, kemudian muncul niatan untuk mendirikan Muhammadiyah.
Pada 1961 dilaksanakan pelantikan Ranting Kebomas di rumah Wan Salim yang berlokasi di Kajen Giri dengan susunan: Hasan Usman (Ketua), Yusuf Hamid (Wakil Ketua), dan Umar Faqih (Sekretaris), H. Sholihin Adjib dan Abdul Ghafar Thalibi (Bendahara dan Wakil Bendahara). Ranting Kebomas resmi menjadi cabang pada 26 Februari 1968. {55} Pada 2003 Cabang Kebomas memiliki 7 ranting. Yaitu Kawis Anyar, Kedahanan, Kajen, Giri Gajah, Kedayang, Sidomoro dan Giri Asri. {56}
Sekitar 1957, Muhammadiyah masuk ke Balongpanggang. Perintisnya adalah Sukarji Kandhibowo berasal dari Jombatan Kesamben Jombang. Ranting Balongpanggang didirikan pada 1957. Setahun kemudian dibentuk Cabang Balongpanggang tahun 1958.
Ketuanya dijabat Dasoeki. Pada periode pertama baru membentuk Bagian Tabligh, yang dikordinasikan oleh Sukardji Kandhibowo. Saat ini mengkoordinasi 10 ranting yaitu Barat, Mojoroto, Kedungpring, Balongpanggang, Pucung, Banjar Agung, Karang Semanding, Wotan Sari, Sekar Putih dan Tanjungan.
Pada tahun ini juga (1957), paham Muhammadiyah masuk Benjeng (Desa Bulurejo). Dimulai dari pembicaraan informal sekelompok masyarakat di masjid dan mushalla. Kemudian dihadirkan Sukardji Kandhibowo ulama dari Jombang untuk memberikan pengajian di rumah Karlim, seorang warga Muhammadiyah, lalu diteruskan pengajian di mushalla-mushalla dan di rumah-rumah warga yang lain. Sebelumnya di Benjeng juga telah ada Madrasah Dakwatul Choiriyah di Dusun Nyayat, sedang di Bulurejo telah berdiri Sekolah Dasar Islam (SDI) pada 1957 yang
Halaman 193
dikelola warga Masyumi. Kemudian diubah menjadi SD Muhammadiyah pada 1964.
Pada 1960 Muhammadiyah Gresik membentuk Pengurus Ranting Muhammadiyah Manyar. Susunan pengurusnya masih sangat sederhana, terdiri dari seorang ketua bernama Syamsul Anam, dengan dukungan para sesepuh dan pemuda. Para sesepuh tersebut antara lain H. Rafiq, H. Hambali, Ma’shum, H. Alimun, H. Abdak, H. Jufri sedangkan golongan muda terdiri dari Rohis Nurman, Zawawi, dan Salihin.
Pada tahun itu juga pengurus Muhammadiyah Ranting Manyar dilantik oleh Pimpinan Muhammadiyah Cabang Gresik, terdiri dari Muhdi, Kari Iman, dan Kadar. Perkembangan Muhammadiyah Manyar juga tidak lepas dari peran H. Abdul Manan. Mereka yang pernah menduduki ketua antara lain Syamsul Anam, H. Abdak, Suprapto, Drs Lukman Hakim, dan Anwar Sodiq B.A. PCM Manyar saat ini membawahi 6 ranting. Yaitu Gumeno, Karangrejo, Sembayat, Tanggulrejo, B. Wangi dan Pongangan. {57}
Setahun kemudian (1961) Muhammadiyah Gresik mendapat kepercayaan untuk menggelar sekaligus tuan rumah Kongres Daerah, di Kecamatan Dukun yang diikuti Muhammadiyah Surabaya, Jombang, Mojokerto, Lamongan, Sidoarjo dan Gresik selaku tuan rumah. {58}
Pada 1963 gerakan ini masuk Ujung Pangkah, dibawa Ahmad Munif Syihab, Shihabul Millah, dan H. Abdul Bashor. Pelantikan tahun 1963 diadakan di rumah H. Khudori, dan dihadiri K.H. Zuhal Kusuma dari Surabaya. {59}
Meskipun mendapat tantangan, upaya pembaharuan keagamaan terus digiatkan, lewat pengajian-pengajian dan pendidikan. Kini terdapat 7 Ranting; Pangkah Wetan, Pangkah Kulon, Banyu Urip, Ngimboh, Cangaan, Gosari dan Sekapuk dengan anggota sekitar 2500. {60}
Pada 23 Mei 1963 didirikan Madrasah Islam As-Sa’adah yang menempati tanah waqaf dari H. Yasin dan hasil pembelian tanah Mat Rifan. {61} Perguruan ini kemudian dilengkapi dengan bangunan masjid (Al-Muhajirin) yang dibangun di atas tanah hasil pembelian pengurus Muhammadiyah dari H. Kafi. PCM Bungah saat ini terdiri
Halaman 194
dari 5 Ranting, yaitu Bungah, Melirang, Sidomukti, Mojopuro Gede dan Mojopuro Wetan.
Muhammadiyah Gresik terus melakukan perluasan daerah syiarnya dan pada 1962 masuk ke wilayah Duduk Sampeyan, dibawa Ismail dan H. Zaenal Abidin, diperkuat dengan dorongan dari Ustadz Abdul Manan (dari Madura). Tak lama kemudian berdiri Cabang Duduk Sampeyan dengan ketua pertama yaitu H. Hilal Hamzah. PCM Duduk Sampeyan membina 8 ranting yaitu Ambeng-Ambeng, Tembaloan, Kramat, Mendepo, Duduk Sampeyan, Duduk, Jetek dan Brak.
Pada 7 Mei 1964, Rupiangus, Ponaji, Abdullah Syahab, H. Ismail mengadakan rapat di Desa Cerme Lor, dan menghasilkan susunan pengurus ranting. M.A Chaerudin sebagai ketua, Rapiangus sebagai sekretaris I, Ponaji sebagai sekretaris II, Abdullah Syahab sebagai bendahara I, dan H. Ismail bendahara II, yang berpusat di Cerme Lor, dengan anggota sekitar 50 orang.
Disusul Cerme Selatan, dipelopori H. Azhari dan Munawir; Cerme Kidul, Ngabetan, dan Lengkong oleh Bunadi dan Lasmono. Dari beberapa ranting yang sudah didirikan, kemudian terbentuk Cabang Cerme pada 1965, dan M.A Chaerudin sebagai ketua sampai 1987.
Pada 1964 PCM Panceng terbentuk, dengan ketua Mohammad Said, dibantu H. Abdul Hamid, H. Fatkhur R, H. Haroen, H. Abu Faqih, H. Mohammad Sholeh, Kartasim, Sudarman dan Haroen. Pada awalnya perjuangannya lebih banyak berupa dakwah sosial, meski pada saat itu masyarakat belum bisa menerima kehadiran Muhammadiyah. Dengan kegigihan segenap pengurus, akhirnya dapat diterima dan berkembang di 11 ranting, yaitu Ranting Campurrejo, Banyu Tengah, Pantenan, Lemah Ireng, Sono, Wotan Doudo, Petung, Karang Tumpuk dan Prupuh. {62}
Pada 29 April 1965 terbentuk Muhammadiyah Bawean, dengan ketua Muthar Jamil dan Sholeh Ahmari sebagai wakil. Penulis Moh Yusuf dengan wakilnya Nur Ihsan. Bendahara dijabat Abd. Ra’uf dengan wakil Sudarlan dan R Usman Basya sebagai pembantu umum. {63} Kepanduan HW berdiri, disusul Aisyiyah (1965), {64} dengan ketua Hadijah Sholeh Amari dengan wakil Faidah Usman Basya. Sekretaris dijabat oleh Nasifah Hamid Abduh dengan wakil Nengcik dan bendahara Salmarhuma. Pemuda Muhammadiyah berdiri pada 25 Oktober 1965 dengan ketua Musthofa Habil dan IPM (1976)
Halaman 195
dengan ketua R. Huzaini. Beberapa ranting berdiri, antara lain Pudakit (27 Mei 1965), Dahun (8 September 1965), Suwari (11 September 1965), Sangkapura (19 September 1965), Kumalasa (27 Januari 1960 dan Kepoh (11 Oktober 1966). Kini memiliki 6 ranting, yaitu Pudakit, Duhun, Suwari, Sangkapura, Kumalasa dan Kepoh. {65}
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments