Buku Pendidikan Berbasis Entrepreneurship: Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Secara Mandiri menekankan pentingnya kemandirian bagi sekolah swasta melalui entrepreneurship. Membaca buku ini seolah-olah pembaca diajak membangun mindset entrepreneur bagi seluruh warga sekolah untuk memajukan dunia pendidikan.
Tujuan buku ini adalah menjelaskan bagaimana mencari sumber finansial sebagai salah satu penyokong utama kemandirian sekolah swasta. Pada bab pertama, penulis menekankan pentingnya pengelolaan pendidikan secara mandiri, mengingat peranan lembaga pendidikan sebagai aset strategis untuk mewujudkan generasi yang berkarakter dan berintegritas.
Di sisi lain, tuntutan masyarakat yang menghendaki anaknya menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan membuat lembaga pendidikan sebagai penyedia layanan jasa pendidikan dituntut untuk melengkapi sarana dan prasarana guna memberikan pelayanan optimal kepada masyarakat.
Buku ini berusaha menepis anggapan masyarakat bahwa entrepreneurship akan cenderung mengkomersialkan pendidikan.
Konsep pemasaran dalam pendidikan dijelaskan sebagai upaya warga sekolah memberikan pelayanan sehingga citra pendidikan yang berkualitas akan terbangun dengan sendirinya. Pada akhirnya, masyarakat akan tertarik untuk menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan tersebut.
Dalam buku ini juga dicontohkan secara detail berbagai hal yang perlu dilakukan pengelola agar manajemen sekolah berbasis entrepreneurship, yaitu mendayagunakan sumber daya yang ada di sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Fokus Manajemen Pendidikan Berbasis Entrepreneurship (MPBE) di sini lebih terdesentralisasi. Artinya, dalam mengembangkan mutu pendidikan, setiap sekolah memiliki keunggulan masing-masing yang harus dikelola dengan baik.
Buku ini menjelaskan konsep desentralisasi manajemen berbasis entrepreneurship yang bertujuan mendidik manusia agar memiliki karakter dan integritas tinggi.
Konsep desentralisasi juga selaras dengan kebijakan otonomi pendidikan yang mengacu pada UU No. 20/2030 tentang Sisdiknas Pasal 53.
Pentingnya menerapkan konsep kewirausahaan juga berkaitan dengan upaya agar manajemen finansial lembaga pendidikan tidak sepenuhnya bergantung pada pemerintah, mengingat keuangan negara mengalami defisit pembiayaan setiap tahun.
Seperti apa dan bagaimana solusinya, buku ini menjelaskan tentang produktivitas lembaga pendidikan. Kualitas lulusan harus betul-betul menjanjikan sesuai ekspektasi masyarakat, terutama para wali murid.
Selain itu, efektivitas indikator-indikator dalam proses pendidikan harus benar-benar tercapai sesuai tujuan yang telah dicanangkan sejak semula.
Entrepreneurship tidak terlepas dari bentuk usaha yang berkaitan dengan pendapatan maupun sumber pemasukan. Pihak sekolah harus memiliki usaha mandiri.
Lembaga pendidikan harus memilih jenis usaha yang cocok dengan lingkungannya agar tidak mengganggu proses belajar di lembaga pendidikan tersebut dan manfaatnya benar-benar dapat dirasakan oleh warga sekolah.
Keberadaan usaha juga semakin memotivasi pengelola sekolah untuk meningkatkan profesionalitas karena kesejahteraan mereka semakin terjamin melalui kegiatan wirausaha sekolah.
Secara umum, konsep Manajemen Pendidikan Berbasis Entrepreneurship dalam buku ini dapat dicerna dengan baik. Namun, ada satu hal yang dinilai kurang dan perlu direvisi, yaitu penggunaan istilah “peserta didik” yang dianggap sudah tidak relevan.
Berdasarkan Permendikdasmen No. 3 dan No. 6 Tahun 2026, termasuk istilah kegiatan pembelajaran menjadi pengalaman belajar serta proses pembelajaran menjadi proses memuliakan murid. Dengan demikian, buku ini terkesan kurang mengikuti aturan terkini dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Adapun nilai lebih buku ini adalah penguatan antara judul dan subjudul yang saling berkaitan. Dengan demikian, ketika membaca buku ini, pembaca tidak cepat bosan karena penjelasannya tidak bertele-tele.
Namun, dari sisi harga, buku ini dinilai agak mahal, terutama jika dikaitkan dengan bentuk buku yang kecil dan menggunakan jenis kertas yang identik dengan sampulnya yang agak buram.
Konsep jenis usaha yang disebutkan dalam buku ini juga belum menawarkan varian usaha baru yang kekinian, seperti mendayagunakan media sosial untuk membuat tampilan video viral. Buku lebih banyak mencontohkan usaha yang sudah lazim dan mentradisi, seperti koperasi sekolah, jasa fotokopi, serta layanan antar-jemput siswa.





0 Tanggapan
Empty Comments