Siapa yang tidak ingin bahagia? Hampir setiap orang mengejar kebahagiaan, tetapi tidak semua orang benar-benar menemukan ketenangan. Di tengah kemajuan zaman, berbagai kemudahan hidup justru berjalan beriringan dengan jiwa yang semakin mudah rapuh, lelah, dan gelisah. Kita memiliki banyak cara untuk memenuhi keinginan, tetapi belum tentu memiliki cara untuk membuat hati merasa cukup.
Kegelisahan itulah yang menjadi salah satu pintu masuk buku ini. Penulis mempertanyakan mengapa semakin banyak orang berharap bahagia, tetapi semakin sedikit yang merasa tenang. Mengapa berbagai kemajuan yang seharusnya membuat hidup lebih mudah justru tidak selalu membuat jiwa lebih tenteram? Pertanyaan tersebut kemudian membawa pembaca untuk melihat kembali makna kebahagiaan melalui hikmah sunnah Nabi Saw, sekaligus mempertemukannya dengan perspektif psikologi modern.
Selama ini, tak sedikit di antara kita yang memaknai bahagia hanya dengan bersandar pada telaah psikologi modern. Pendekatan tersebut memang mampu mengukur tingkat kepuasan dan menjelaskan berbagai faktor yang memengaruhi kebahagiaan. Namun, di situlah terdapat keterbatasan: psikologi modern tidak selalu mampu memberikan arah nilai yang kokoh. Karena itu, kebahagiaan dalam psikologi sering bersifat subjektif dan relatif, bergantung pada persepsi setiap individu (h. 11).
Psikologi modern mengakui bahwa kebahagiaan bukan kondisi permanen. Ia fluktuatif dan dipengaruhi oleh relasi, pekerjaan, kesehatan, serta kondisi mental. Sementara itu, sunnah Nabi Saw memberikan batas agar makna bahagia tidak bergerak liar hingga justru menjadi penyebab kerusakan jiwa (h. 12–13). Di sinilah buku ini menjadi menarik: ia tidak sekadar mengajak pembaca mencari kebahagiaan, tetapi mengajak memahami dari mana kebahagiaan itu seharusnya bermula.
Buku yang mengajak pembaca menyelami persoalan tersebut berjudul Prophetic Happiness: Menemukan Kebahagiaan dan Kesehatan Mental Ala Nabi Saw, karya Muhammad Misbah. Buku ini diterbitkan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, pada 2026. Dengan ketebalan xvi + 315 halaman, buku ini memadukan hikmah sunnah Nabi Saw dengan perspektif psikologi modern untuk membahas kebahagiaan, ketenangan jiwa, kesehatan mental, relasi, tujuan hidup, hingga bagaimana manusia menghadapi kenyataan yang tidak selalu sesuai harapan.
Memaknai Bahagia ala Nabi
Bab I, Memaknai Bahagia ala Nabi Saw, menjadi pijakan awal pembahasan. Dalam hal bahagia, Nabi Saw memberikan batas. Pertama, bahagia tidak boleh lepas dari iman. Kedua, bahagia tidak boleh bertentangan dengan fitrah. Ketiga, bahagia selalu dipandang dalam rentang dunia dan akhirat.
Bagi Nabi Saw, bahagia bukan kondisi statis, melainkan keadaan batin yang tumbuh seiring perjalanan iman dan amal manusia. Bahagia bukan sesuatu yang sekadar “dimiliki”, tetapi dijalani (h. 13–16).
Lantas, dari mana Nabi Saw memulai kebahagiaan? Berdasarkan HR Muslim, kebahagiaan bermula dari keamanan batin dan ketercukupan hidup: pada pagi hari seseorang berada dalam keadaan aman, sehat, dan memiliki makanan untuk hari itu (h. 20–21).
Jiwa manusia mengalami kebahagiaan dalam banyak bentuk dan kedalaman. Pertama, ridha. Berdasarkan HR Tirmidzi, seseorang bahagia ketika jiwanya tidak lagi bertentangan dengan takdir (h. 26).
Kedua, surur. Berdasarkan HR Bukhari, kebahagiaan dapat hadir sebagai buah dari kebaikan, salah satunya melalui silaturahim.
Ketiga, rahah. Bahagia hadir dalam ketenangan jiwa karena terbebas dari beban. Rahah adalah rasa lega ketika jiwa menemukan tempat pulang. Di sini kita diingatkan pada hadis, “Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat” (HR Abu Dawud).
Keempat, sakinah. Inilah ketenangan yang diturunkan, bukan semata-mata diusahakan. Sakinah menjadi lapisan terdalam kebahagiaan ala Nabi Saw. Ia bukan sekadar hasil latihan, kondisi, atau usaha jiwa, melainkan ketenangan yang Allah turunkan kepada hamba-Nya dalam keadaan tertentu. Berdasarkan HR Muslim, orang-orang yang berkumpul di masjid untuk membaca Kitabullah dan saling mengajarkan akan mendapatkan sakinah atau ketenangan (h. 26–29).
Indikator Orang Bahagia
Bahagia merupakan buah dari amal, bukan sesuatu yang menjadi target secara langsung. Lalu, apa tanda orang bahagia menurut Nabi Saw?
Pertama, hati tetap tenang meski keadaan tidak ideal. Kedua, tidak reaktif menghadapi ujian dan perubahan. Ketiga, dunia tidak menjadi beban dalam hidupnya. Keempat, merasa aman dalam hubungannya dengan Allah. Kelima, mampu menemukan ketenangan dalam ibadah. Keenam, hidup terasa bermakna meski tidak selalu mudah (h. 35–49).
Keenam ukuran tersebut ada sandaran hadisnya. Karena itu, kebahagiaan tertinggi bukan ketika hidup bebas dari masalah, melainkan ketika hati merasa aman bersama Allah (h. 43).
Di titik ini tampak perbedaan antara kebahagiaan duniawi dan kebahagiaan ala Nabi Saw. Bahagia duniawi bisa hadir tanpa iman, tetapi ia rapuh, terbatas waktu, dan berhenti ketika kematian datang. Sementara itu, bahagia ala Nabi Saw tidak selalu riuh dan tidak selalu mudah, tetapi memiliki kesinambungan makna. Dunia bisa memberi kesenangan, tetapi iman memberikan rasa aman (h. 50).
Salah satu kelebihan buku ini adalah banyaknya kutipan yang ditampilkan secara khusus, antara lain dengan cetak bold dan box. Dalam Bab III, Ketenangan yang Dicari Jiwa, misalnya, terdapat sejumlah gagasan yang menarik.
Penulis menjelaskan bahwa seseorang yang hanya berdoa ketika terdesak sebenarnya sedang hidup dalam relasi yang rapuh. Hubungannya dengan Allah bersifat reaktif, bukan intim (h. 78). Jiwa tidak hanya membutuhkan solusi, tetapi juga membutuhkan kehadiran Allah sebelum solusi itu datang (h. 80). Tawakkal bukan berarti menggugurkan ikhtiar, melainkan menempatkan ikhtiar pada porsinya yang tepat (h. 93).
Bab V, Ketika Tujuan Tidak Lagi Membahagiakan, juga menyajikan banyak kutipan elok. Kepuasan sejati tidak karena apa yang dimiliki, tetapi oleh bagaimana jiwa memandang apa yang dimiliki. Gagasan ini diilhami HR Muslim bahwa kekayaan hakiki adalah kekayaan jiwa (h. 136–137).
Penulis juga mengingatkan budaya kekinian yang lebih cepat menyarankan target baru daripada mengajak merenung. Budaya tersebut lebih cepat memotivasi daripada menemani dalam keheningan (h. 144).
Karena itu, seseorang perlu memiliki tujuan hidup yang jelas. Hidup yang bermakna bagi diri sendiri dan orang lain membuat seseorang lebih tahan menghadapi stres, lebih stabil secara emosi, serta lebih mampu menerima ketidaksempurnaan hidup (h. 146).
Sikap qanaah juga penting, yaitu kemampuan jiwa untuk berhenti merasa kurang meski tetap bergerak dan berikhtiar (h. 147). Qanaah melatih jiwa berhenti membandingkan. Banyak ketidakpuasan bukan lahir dari kekurangan nyata, melainkan dari kebiasaan membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain (h. 148).
Pada Bab VI, Relasi yang Menenangkan Jiwa, ditegaskan bahwa kebahagiaan cara Nabi Saw bukan kebahagiaan individualistik. Kebahagiaan bersifat relasional, lahir ketika seseorang tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri (h. 156).
Epilog Elok
Pembahasan kemudian berlanjut pada Bab VIII, Saat Kenyataan Tak Sesuai Harapan; Bab IX, Kamu Tak Akan Hidup Tanpa Harapan; Bab X, Untuk Apa Aku Hidup?; dan Bab XI, Allah sebagai Satu-satunya Sandaran Jiwa.
Epilog berjudul Ketika Jiwa Menemukan Rumahnya menjadi penutup yang inspiratif. Jika ingin bahagia, seseorang perlu memiliki rumah jiwa yang tidak pernah jauh. Rumah itu tidak berada di masa depan yang ideal, tidak bergantung pada keadaan sempurna, dan tidak menunggu hadirnya versi diri yang tanpa cela (h. 314).
Alhasil, hidup bahagia bukanlah hidup tanpa masalah. Hidup bahagia adalah ketika kita merasa tenang dan ridha atas semua pemberian Allah. Karena itu, teruslah berkarya dalam usaha meraih hidup yang bermakna. Untuk menemukan kebahagiaan, teladanilah bagaimana Rasulullah Saw meraihnya, antara lain sebagaimana yang dijelaskan dalam buku ini.
Kalimat-kalimat dalam buku ini efektif dan inspiratif. Pesannya tidak menggurui. Bahasanya indah dan menyejukkan. Karena itu, buku ini bermanfaat dibaca semua kalangan, tua maupun muda.
Sebagai penyempurnaan, buku dengan sampul menarik ini akan lebih bagus jika dilengkapi daftar pustaka. Dengan demikian, pembaca dapat “terbimbing” untuk membaca lebih luas materi yang dibahas. Akan lebih mantap pula jika layout yang sudah apik dilengkapi indeks.
Pada akhirnya, buku ini mengajak kita melihat kembali sesuatu yang sering kita cari jauh-jauh: kebahagiaan ternyata tidak selalu berada di luar diri. Ia tumbuh ketika jiwa memiliki iman, mampu menerima takdir, menemukan makna, dan menjadikan Allah sebagai tempat bersandar. Selamat membaca dan menemukan kembali rumah bagi jiwa.***





0 Tanggapan
Empty Comments