Di pekan pertama September 2026, di media sosial muncul (lagi) pembicaraan tentang buku berjudul Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam. Warganet lalu riuh menanggapinya.
Sebagian mengira buku itu baru terbit, padahal sudah sejak 2025. Meski saya tidak punya buku itu dan belum membaca isinya, judul buku tersebut perlu dikritisi. Prabowo itu siapa? Ulama besarkah? Pemikir Islamkah?
Judul buku seperti itu tidak boleh kita biarkan tanpa catatan serius. Hal ini karena bisa saja nanti akan banyak terbit buku-buku berjudul serupa, misalnya Islam ala Budi, Islam ala Wati, dan seterusnya. Tentu, mudah dibayangkan, betapa akan kacaunya situasi.
Islam itu satu. Islam itu berasal dari Allah dan disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. Hanya Islam yang diajarkan Muhammad saw. yang wajib kita pegang. Tak ada Islam Nusantara, tak ada Islam Liberal, dan istilah-istilah lain yang serupa.
Perihal Judul
Bagaimana menulis judul yang baik? Pada 2023, saya menulis buku Terampil Jurnalistik Tampil Simpatik. Di situ, antara lain, saya sampaikan bahwa judul harus: 1) mencerminkan tema atau arah tulisan, sehingga bisa menjadi semacam miniatur isi keseluruhannya; 2) mampu mencuri perhatian pembaca; 3) ringkas dan padat (h. 151).
Sekali lagi, bagaimana membuat judul yang baik? Mari ikuti pendapat Mohammad Fauzil Adhim yang telah menulis banyak buku dan sebagian di antaranya best seller. Dia menulis buku-buku bertema pendidikan anak dan pernikahan.
Berikut ini, sekadar lima judul di antara karya-karyanya: Segenggam Iman Anak Kita, Positive Parenting, Membuat Anak Gila Membaca, Kupinang Engkau dengan Hamdallah, dan Agar Cinta Selalu Bersemi.
Dunia Kata: Mewujudkan Impian Menjadi Penulis Brilian adalah buku Fauzil Adhim yang lain. Di dalamnya, ada bahasan tentang judul buku yang baik.
Kata Fauzil Adhim, judul yang baik itu, jika: 1) singkat, sekitar 3–5 kata; 2) mudah diucapkan dan gampang dimengerti; 3) kuat maknanya. Begitu membaca judul, orang memiliki bayangan tentang apa yang mau dibaca meskipun bisa saja tidak sesuai dengan kenyataan (2004: 124–128).
Saya dan Fauzil Adhim serupa dalam satu hal pokok. Judul yang baik membuat orang memiliki bayangan tentang apa yang mau dibaca, kata Fauzil Adhim. Judul yang baik dapat menjadi miniatur isi keseluruhan tulisan, kata saya.
Tiga Persoalan
Kembali kepada judul buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam. Tulisan saya ini hanya menelaah judul buku tersebut.
Saya berharap, segera ada yang menulis tanggapan kritis atas isi buku itu. Bahkan, tanggapan yang dimaksud bukan sekadar artikel, tetapi juga berupa buku.
Jika melihat judul yang lugas di sampul buku itu, pembaca akan punya bayangan bahwa nantinya mereka akan mendapati banyak contoh amaliah keseharian Prabowo yang islami. Islami? Seperti apa sajakah?
Mari kita kaji judul buku itu dengan sekadar tiga masalah saja. Pertama, bagaimana cara Prabowo mengucapkan salam?
Kedua, bagaimana cara Prabowo memilih kata yang keluar lewat lisannya? Ketiga, bagaimana cara Prabowo menempatkan diri di hadapan keutamaan Jumat dan salat Jumat?
Model Salam
Prabowo kerap (untuk tidak menyebut selalu) membuka pembicaraan, saat berpidato misalnya, dengan salam lintas agama. Contoh, pada 2026, lihat Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo di Sidang Tahunan MPR RI (https://www.youtube.com/watch?v=mFeHiRfWNyg).
Contoh lain, sepuluh tahun lalu. Bukalah FB. Pada 5 November 2016, Prabowo menulis status dengan awalan: “Assalamualaikum Wr. Wb. Salam Sejahtera. Shalom Om Swastiastu Namo Buddhaya. Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air di mana pun engkau berada. Saya Prabowo Subianto ingin menyampaikan beberapa pesan. ….” (https://www.facebook.com/PrabowoSubianto/posts/assalamualaikum-wr-wb-salam-sejahtera-shalom-om-swastiastu-namo-buddhayasaudara-/10153992234216179/).
Terkait, bagaimana fatwa MUI tentang Salam Lintas Agama? Berdasarkan KEPUTUSAN IJTIMA’ ULAMA KOMISI FATWA SE-INDONESIA VIII Nomor 02/Ijtima’ Ulama/VIII/2024 tentang PANDUAN HUBUNGAN ANTARUMAT BERAGAMA, MUI menetapkan lima poin terkait Fikih Salam Lintas Agama, dua di antaranya sebagai berikut:
Dalam Islam, pengucapan salam “Assalamu’alaikum” merupakan doa yang bersifat ubudiah, karenanya harus mengikuti ketentuan syariat Islam dan tidak boleh dicampuradukkan dengan ucapan salam dari agama lain.
Pengucapan salam yang berdimensi doa khusus agama lain oleh umat Islam hukumnya haram.
Kontrol Lisan
Silakan baca berita pada 2026 ini: Umpatan “Ndasmu!” Presiden Prabowo Pematik Kontroversi (https://www.tempo.co/ 26 Juni 2026).
Juga, baca kabar pada 2025 ini: Presiden Prabowo sebut ‘ndasmu’ terhadap pengritiknya – ‘Kritik terbuka seolah-olah musuh’ (https://www.bbc.com/ 18 Februari 2025).
Baca lagi, berita pada 2023 ini: Prabowo Mengumpat ‘Ndasmu’ Berkali-kali, Ada Masalah dengan Watak Asli? (https://www.jpnn.com 17 Desember 2023).
Pada berita ini, disebutkan antara lain: Prabowo kembali menjadi viral setelah klip video yang memperlihatkan pidatonya berisi pisuhan ‘ndasmu’ beredar di berbagai platform media sosial. Pisuhan itu dilontarkan Prabowo dalam pidatonya di Konsolidasi Nasional Partai Gerindra di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, pada 15/12/2023.
Masih di berita yang sama, bahwa jejak digital mencatat, Prabowo pernah mengeluarkan pisuhan ‘ndasmu’ pada masa kampanye Pilpres 2019. Saat itu, Prabowo merupakan rival Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menjadi capres petahana.
Dalam sebuah pidato di JIExpo Kemayoran pada 7/2/2019, Presiden Ketujuh RI itu mengeklaim pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 mencapai angka 5,17 persen. Namun, Prabowo dalam kampanye di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor pada 29/03/2019, menampik klaim itu.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah lima persen. Lima persen ndasmu!” ujar Prabowo di depan ribuan pendukungnya. Prabowo juga mengulangi pisuhan yang sama dalam kampanye akbar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada 07/04/2019.
Bagaimana pandangan Islam dalam hal adab berkata-kata? Al-Qur’an dan hadis telah mengingatkan agar berhati-hati dalam berkata-kata, yaitu hanya yang baik saja.
Perhatikan ayat ini: “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaf [50]: 18).
Simak hadis ini: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah berkata baik atau diam.” (HR Bukhari-Muslim).
Abai Jumat?
Bagi umat Islam, hari Jumat itu istimewa. Jumat itu penghulu semua hari. Jumat itu terbaik. Jumat itu, berdasar HR Thabrani, termasuk Hari Raya. Kaum Muslimin harus mengisi hari Jumat secara spesial. Menunaikan salat Jumat secara baik, termasuk yang harus diutamakan.
Salat Jumat itu wajib dan sunah untuk datang lebih awal. Simak sabda Nabi saw. ini: “Orang-orang itu nanti pada Hari Kiamat akan duduk berurutan menurut kesegeraan mereka pergi ke salat Jumat, yakni yang pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Sedang yang keempat itu tidak jauh dari Allah.” (HR Ibnu Majah dan Al-Mundziri).
Lalu, bagaimana dengan Prabowo? Bacalah ini: Prabowo Pidato 2 Jam, Selesai Menjelang Salat Jumat. Adapun lead berita ini, begini: Presiden Prabowo Subianto berpidato hampir 2 jam dalam Sidang Tahunan MPR 2026. Diingatkan netizen tak lupa salat Jumat (https://www.tempo.co/ 14 Agustus 2026).
Berikut ini, sebagian isi beritanya: Prabowo baru mengakhiri pidatonya ketika waktu menunjukkan pukul 11.45 WIB. Masyarakat yang memantau secara daring pidato kepala negara melalui saluran YouTube TVR Parlemen riuh berkomentar mengenai waktu ibadah salat Jumat.
Netizen mengingatkan kepala negara untuk segera menutup pidato kenegaraannya lantaran sudah mepet pelaksanaan salat Jumat. “Kalau jumatan itu sebaik-baiknya sudah ada di masjid sebelum adzan,” tulis salah satu netizen @ary**** di kolom komentar. Adapun pelaksanaan salat Jumat pada 14 Agustus 2026 dimulai pada 12.01.
Perhatikan, Prabowo menyudahi pidato pukul 11.45. Sementara, masuk waktu Jumatan pukul 12.01. Hanya ada 16 menit. Bisakah dalam waktu itu mengerjakan hal-hal seperti mengikuti protokoler penutupan acara, mengambil wudu, merapikan diri, berjalan menuju masjid, dan mengambil saf di masjid? Bisakah sampai ke masjid sebelum khatib naik mimbar?
Masih dari berita di atas. Dalam agenda serupa setahun sebelumnya, Prabowo berpidato selama kurang lebih 75 menit dalam Sidang Tahunan MPR pada Jumat 15 Agustus 2025. Dia memulai berpidato pada pukul 10.25 dan selesai pada 11.40 WIB.
Di tengah-tengah pidato, warganet yang ikut menyimak secara daring mengingatkan Prabowo untuk segera menyelesaikan pidatonya. Hal itu dikarenakan adanya kewajiban menunaikan ibadah salat Jumat untuk muslim yang dimulai pada pukul 11.57 WIB.
Warganet ramai-ramai mengingatkan Presiden Prabowo untuk menunaikan ibadah salat Jumat. “Ayo Jumatan, Pak,” tulis salah seorang warganet dalam kolom komentar di siaran langsung YouTube Sekretariat Presiden. Sejumlah netizen lainnya juga menyampaikan hal serupa, di antaranya, “Segera ke masjid Pak Prabowo,” hingga “Prabowo langsung ke masjid.”
Tampak, pada 2025 terbilang sama dengan 2026, durasi waktunya 17 menit. Prabowo menyudahi pidato pukul 11.40, sementara jadwal Jumatan 11.57. Bisakah, dalam 17 menit hadir di masjid sebelum khatib naik mimbar?
Sekarang, perhatikan bagaimana Islam mengajarkan keutamaan salat Jumat dengan cara bersegera mendatanginya lewat ayat ini: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS Al-Jumuah [62]: 9).
Jujur, Jujur!
Dengan uraian di atas, kita bisa menimbang judul buku Islam ala Prabowo. Tepatkah? Beralasankah?
Alhasil, mari belajar terus. Mudah-mudahan kita selalu dalam petunjuk dan pertolongan Allah. Semoga Allah mengampuni kita, amin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments