Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi – 67

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi – 67

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab V berjudul “Muhammadiyah Masa Kebangkitan (1956-2004)”, halaman 187 s/d sebagian 191.

Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 66

***

Halaman 187

Setelah dipisah, Abdullah Hasyim terpilih sebagai ketua PDM Kota pada periode 1990-1995, Drs. Thohir Luth (PDM Kabupaten), Drs. Muchlis Usman, MA, (PDM Kota) (1995-2000), Drs. Thohir Luth MA (PDM Kabupaten), Drs. H. Taufiq Kusuma (PDM Kota) (2000-2005), Drs. Khusnul Fatoni MAg. (PDM Kabupaten), H. Abdul Muchith (PDM Kota Batu), Daerah Muhammadiyah Kota Batu mempunyai enam cabang, yakni Batu, Bumiaji, Pujon, Ngantang dan Kasembon.

Masa kepemimpinan Bedja Dermaleksana diliputi penuh kesulitan dan tantangan, tetapi kegiatan tetap berjalan rutin dengan gaya dan ciri khasnya, jujur, ikhlas tak kenal berhenti beramal, meskipun sarana penunjangnya sangat minim sebagai perwujudan dari semboyan atau sesanti: “sedikit bicara banyak kerja” dan “Siapa yang menanam, akan mengetam”.{42}

Sesudah itu (1990-1995) PDM berkantor di Jl. Brigjen Slamet Riyadi 134 Malang. Pada periode ini PDM Malang dipisah menjadi Kodya dan Kabupaten. PDM Kota dipegang H. Abdullah Hasyim sedangkan Kabupaten dipimpin Drs. Thohir Luth. Pada masa kepemimpinan Drs. H. Mukhlis Usman (1995-200) PDM Kota membangun kantor di Jl. Gajayana atas bantuan UMM.

Pada 2000 status Batu berubah menjadi Kota Administratif (Kotatif) dan terakhir menjadi Kota. Dengan perubahan tersebut Muhammadiyah Batu yang semula berstatus cabang berubah

Halaman 188

menjadi daerah dengan cabang-cabangnya meliputi Kasembon, Pujon dan Ngantang. PDM Batu meliputi enam cabang termasuk Batu, Bumiaji dan Junrejo dan sekaligus hal itu berlaku pada Aisyiyah dan ortom-ortomnya. Pada 2004 yang menjabat sebagai Ketua PDM Kota Batu adalah K.H. Abdul Mukhid.

Dimasukkannya Cabang Pujon, Ngantang dan Kasembon ternyata menimbulkan masalah, karena cabang-cabang tersebut tidak terdaftar di Kabupaten Malang. Sehingga keberadaannya tidak diakui Pemerintah setempat. Selanjutnya, ketiga cabang tersebut dikembalikan kepada PDM Kabupaten.

Untuk mengatasi persoalan itu, ketika pelantikan pengurus PDM pada 26 Desember 2004, Pemerintah di tiga cabang tersebut diundang. Jumlah cabang, dengan ranting masing-masing yang menjadi wilayah kerja kabupaten adalah Bululawang (3), Dau (8), Donomulyo (2), Gondanglegi (2), Karangploso (6), Kasembon (3), Kepanjen (3), Kromengan (3), Lawang (6), Ngajum (3), Ngantang (5), Pagak (2), Pagelaran (4), Pakis (5), Pakisaji (3), Poncokusumo (3), Pujon (4), Singosari (4), Sumberpucung (4), Tajinan (3), Tumpang (7), Turen (10), Wagir (3), dan Wajak (6).{43}

  1. Kota Surabaya.

Muhammadiyah Surabaya pada periode 1956-1959 dipimpin Saleh Ibrahim. Ia sekaligus menjadi Ketua Majelis Perwakilan PP Muhammadiyah untuk Daerah eks Karesidenan Surabaya.{44} Setelah itu, ketua Muhammadiyah Daerah eks Karesidenan Surabaya digantikan M. Zuchal Kusuma dalam posisinya sebagai Ketua Majelis Perwakilan PP Muhammadiyah eks Karesidenan Surabaya, yang kemudian dipindahkan ke Jombang. Dalam perkembangan selanjutnya, Surabaya memisahkan diri dari Perwakilan PP.

Pada periode 1962-1964 Muhammadiyah Surabaya dipimpin dr. M. Suwandi. Beliau adalah seorang dokter yang dinilai memiliki jasa yang amat besar di bidang kesehatan, sehingga namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum di Tambah Rejo Tambaksari Surabaya.

Pada periode ini Surabaya dibagi menjadi lima cabang dengan ketua masing-masing; Cabang Tengah (dr. M. Suwandi), Cabang Timur (H.M. Usman Muttaqien), Cabang Selatan (Suwinto), Cabang

Halaman 189

Utara (Achmad Gani), dan Cabang Barat. Karena dr. Suwandi kemudian terpilih sebagai ketua cabang Surabaya Tengah, ketua PDM Kota Surabaya dijabat H. M. Anwar Zain, dan sekretaris Noer Hasan Zain. Keduanya terpilih kembali untuk periode 1964-1966.

Di bawah kepemimpinan Anwar Zain, lima cabang sebelumnya berkembang menjadi 17 cabang, mengikuti pemekaran kecamatan yang ada di Surabaya. Sejak 1966, cabang Surabaya ini berubah menjadi daerah dengan luas wilayah kerja meliputi seluruh wilayah Pemerintah Kota Surabaya.{45} Pada 1968 Anwar Zain terpilih menjadi Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur.

SMPM 5 Pucang SBY

Berdasarkan Sejarah Muhammadiyah Surabaya, ketua PDM periode 1971-1974 adalah H.M. Ainur Rofiq Mansur putera K.H. Mas Mansur. Wakil Ketua I dan II dijabat Sismono dan Wisatmo. Sekretaris Drs. Musta’in dan Bendahara Nurhasan Zain. Pada periode selanjutnya Wisatmo terpilih sebagai ketua. Sementara Nur Hasan Zain yang sebelumnya bendahara diangkat sebagai wakil ketua. Untuk sekretaris I & II dijabat Mustaqim dan Satoto. Pada periode kepemimpinan Wisatmo inilah Surabaya menjadi tuan rumah Muktamar ke-40.

Selanjutnya, (1980-1985) ketua PDM dijabat Drs. Ec. Lubis Arsyad Muthahir dengan Sekretaris Abdillah. Pada periode 1985-1990 Abdillah terpilih kembali sebagai ketua. Anggota pimpinan lainnya adalah H. Supardi, Mashadi, BA., K. Djuraid Machfudz, Drs. Noer K. Hasan, Drs. Mundzir, Satoto, BA, Sa’idu Marhaban.{46}

Menjelang berakhirnya masa bakti (1990), diadakan penyempurnaan kepengurusan dengan susunan: Abdillah (Ketua), K.H. Djuraid Machfudz, H. Soepardi (Wakil Ketua I dan II), Drs. Saifuddin Zaini, Zainal Ihsan (Sekretaris & Wakil Sekretaris), H. Saidu Marhaban, Drs. H. Abbas CH., (Bendahara dan Wakil Bendahara), M. Jayid Ibnu Jaiz, Mashadi, BA., Satoto, BA., Sonhadji Bisri, M. Md. Surjat (Anggota).{47}

Kota Surabaya yang pada 1988 terdiri dari 24 kecamatan, pada 2004 menjadi 27 kecamatan. Wilayah kerja PCM disesuaikan dengan wilayah kerja Pemerintahan Kecamatan, kecuali Cabang Ngagel yang wilayah kerjanya sebagian masuk Kecamatan Wonokromo dan

Halaman 190

sebagian lainnya berada di Kecamatan Gubeng. Pada masa kepemimpinan Abdillah (1985-1990), berhasil dibentuk 19 PCM dan 110 PRM, didirikan radio amatir, Korp Muballigh, diterbitkan buletin Mimbar Jum’at, dan penghimpunan dana peningkatan kesejahteraan para muballigh. {48} Di bidang Tajih, kajian-kajian hukum yang berkaitan dengan masalah ibadah sering dilakukan. {49}

Pada periode selanjutnya (1990-1995) PDM dipimpin oleh Mohammad Yazid sebagai ketua, H. Supardi dan Drs. Saifuddin Zaini sebagai wakil ketua I & II, Drs. Agus Suwondo, Drs. Mulyono (sekretaris I & II), H. Achmad Marzuqie Thoa, Drs. Ec. Lubis (bendahara & wakil bendahara), K. M. Amin Djamal, Drs. M. Syafii, SH, Arsyad Muthaher, H. Noor Faqih, Piet Subagio, Imam Syafii, SH, Drs. Abdul Wahid Syukur (anggota).

Pada periode ini disusun Tuntunan Manasik Haji dan Umrah, kualitas pendidikan juga mulai ditingkatkan. {50} Munculnya One Day School SD Muhammadiyah 4 adalah salah wujud hasilnya. Pada periode ini pula Sidang Tanwir Muhammadiyah Tahun 1993 diselenggarakan di Surabaya.

Setelah kepemimpinan M. Yazid berakhir, Drs. Abdurrachman Aziz, M.Si., terpilih sebagai ketua pada periode 1995-2000, dibantu M. Yazid, dan Drs. H. A. Wachid Syukur sebagai wakil ketua. Drs. Saifuddin Zaini, dan Drs. Mulyono Najamuddin menjadi sekretaris dan wakil sekretaris. Drs. Agus Suwondo, H.M. Bisri Nur Ch. (bendahara & wakil bendahara), Drs. Ezif M. Fahmi Wasi’an, SK, Drs. Rahmat Mu’in, Drs. Suherman Rosyidi, M. Com, Piet Subagio (Anggota). {51} Selanjutnya, tongkat estafet kepemimpinan diserahkan kepada Drs. Abdul Wahid Syukur untuk masa jabatan 2000-2005.

14. Kabupaten Sidoarjo.

Setelah vakum selama hampir dua dasa warsa (1942-1959), Muhammadiyah Sidoarjo bangkit kembali pada 1961, yang dipelopori H. Muhammad Arief, H. Munir Syaf, Abdul Salam Akhmad, Akhmad Syafii, M. Maliki, M. Burhan, A. Hamid Wijaya, dan M.K. Agus Salim. Selanjutnya pengurus Cabang Sidoarjo terbentuk dengan A. Hamid Wijaya sebagai Ketua. Kepengurusan A. Hamid Wijaya didukung oleh antara lain M.K. Agus Salim (Dosen IKIP Surabaya), M. Elyas Asy’ari (Pengusaha), Abdul Muthalib (Jaksa Sidoarjo), M. Asdirun (Wedana Sidoarjo). Semasa

Halaman 191

kepemimpinan ini, secara begotong royong mampu membeli lahan untuk pendidikan. Para dermawan mulai tertarik untuk mewakafkan tanah. Seperti wakaf dari H. Elyas Asy’ari untuk gedung SD Jetis II, H. Anwar Asmah untuk TK-SD Pucang Anom I, dan H. Abdullah Mansur. Wakaf H. Anwar Asmah berupa tanah tanah di Sidowayah yang kemudian dibangun kompleks SMU Muhammadiyah 2, Masjid An-Nur, dan Kampus I Umsida. {52}

***

Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 18/07/2026 14:36
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu