Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi – 66

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi – 66

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab V berjudul “Muhammadiyah Masa Kebangkitan (1956-2004)”, halaman 183 s/d sebagian 187.

Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 65

***

Halaman 183

  1. Kabupaten dan Kota Pasuruan

Sampai dengan 1957, kepengurusan Muhammadiyah masih vakum. Pengurus cabang terbentuk dalam pertemuan di rumah Anwar Katsir yang dihadiri para pemuda pada Ahad, 28 Oktober 1957. Yosodirono terpilih sebagai ketua dan M. Sholeh Djambek sebagai wakilnya; Sudibyo dan Zainal Fatah sebagai Penulis I & II, Amin Bendahara.

Anwar Katsir terpilih menjadi Bagian Tabligh, R. Saleh dan Karnasi Bagian Pengajaran, Ahmad Baidlowi dan Padmo Sudarmo. Bagian PKU: M. Ismail Wibisono, M. Munir, Ruslan Suharto Anggota, dan Ny. Hardjo Sentono, Ny. Suyid, Sri Maryati Bagian Aisyiyah. Sholeh Djambek menjadi ketua hingga 1959, diganti R. Suchaimi Rusdi pada periode 1959-1962 dan Hasbullah Sidiq (1962-1965). Pada periode 1965-1970 Maskoer terpilih menjadi ketua. Pada 1967 statusnya berubah menjadi daerah. Maskoer terpilih kembali pada periode 1970-1975. Kemudian

Halaman 184

diganti Mohammad Mirin pada 1975-1980 dan 1980-1985. Dalam Musyawarah Daerah periode 1985-1990 diusulkan pemisahan Kabupaten dan Kotamadya. Pada 1987 usulan tersebut diajukan kepada pimpinan pusat Muhammadiyah dan dikabulkan, sehingga menjadi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kotamadya.

  1. Kota Pasuruan.

Pada periode pemisahan (1985-1990), Djainuri Arif terpilih sebagai ketua PDM Kota. Perluasan gerakan tersebut diikuti dengan terbentuknya tiga pimpinan cabang pada Musycab bersama tanggal 27 Desember 1987 di SMAM 1. Imam Ghozali terpilih sebagai ketua Cabang Purworejo yang membawahi tujuh ranting. Abd. Rochim sebagai ketua Cabang Gading Rejo membawahi sembilan ranting.

Imam Hidayat BA sebagai ketua Cabang Bugul Kidul membawahi delapan ranting. Pada periode 1990-1995 Chumaidy B.A, terpilih sebagai ketua PDM Kota. Pada periode berikutnya (1995-2000) Djainuri Arif terpilih kembali, dan diganti Drs. H. Gozali pada 2000-2005.{37} Aisyiyah sejak 1942 hingga 1975 dipimpin Ny. Hardjo Sentono, lalu pada 1975-1990 diganti Ny. Sholeh Jambek. Pada

Halaman 185

periode 1990-1995 Ny. Supinah Subandi terpilih sebagai ketua; terkahir (1995-2005) dipimpin Ny. Hj. Fatimah Masykur.{38}

Ismail Wibisono, Ruslan Suharto, dan Salam adalah nama-nama pimpinan Pemuda Muhammadiyah sampai dengan 1986. Setelah itu, ketuanya adalah Hery Kustanto (1986-1990), Drs. Abu Nasir (1990-1994), M. Amin (1994-1998), dan Drs. Slamet Suharto (1998-2002). Sementara NA pada periode awal sampai 1994, dipegang oleh Ny. Nahwa dan Ny. Endang. Baru kemudian secara periodik oleh Ny. Juwairiyah (1994-1998), Dewi Atika (1998-2002), dan Zulaikha (2002-2006).

Sedangkan IRM sejak berdiri sampai tahun 1998, dipimpin secara berurutan oleh Akhyar Taman, Heri Kustanto, Sofyan, Ahmad Halimi, M. Nuryasin, kemudian Luthfi Hermansyah. Mulai 1998 Ketua IRM adalah Syahrial Wahyudin (19998-2002), dan Didik Jatmiko (2000-2005).

Tapak Suci di Pasuruan mencatat nama-nama ketua sebagai berikut: Ruslan Jatmiko (Periode I), Hasyim (Periode II), Didik Jatmiko (Periode III). Sedangkan Hizbul Wathan (HW) baru dihidupkan kembali pada 2000. Adapun kepengurusan HW di Pasuruan diketuai oleh Dr. Syamsul Arifin untuk periode 2000-2005.

  1. Kabupaten Pasuruan.

Pada periode 1995-2000, Kabupaten dipimpin Mohammad Mirin; kemudian dilanjutkan Ir. Hasyiruddin pada periode 2000-2005. Cabang-cabang yang dalam pembinaan Kabupaten adalah: Bangil (1928; M. Walijo), Lekok (1939; K.H. Kholil), Beji (1962; M. Ahyak), Pandaan (1963; Ma’sum Arif), Gempol (1965; Abdullah Faqih Mahmud), Kraton (1990; H.M. Mu’in), Prigen (1995; H. Khozinuddin), dan Cabang Purwosari (Tanpa keterangan).{39}

SMPM 5 Pucang SBY

  1. Kabupaten dan Kota Malang

Sebelum pemisahan antara kota dan kabupaten, PDM Malang membina cabang dan ranting, yang terdapat di Kabupaten dan Kota Madya Malang, yang meliputi (1) Malang Tengah; (2) Malang Utara, (3) Malang Timur/Selatan, (4) Singosari, (5) Kepanjen, (6) Pakis Aji, (7) Sumber Manjing Kulon, (8) Sumber Manjing Wetan, (9) Turen, (10) Wajak, (11) Lawang, (12) Tumpang, (13) Batu I dan Batu II, (14) Pujon, (15) Ngantang, (16) Kasembon, (17) Wagir,

Halaman 186

(18) Ampel Gading, (19) Gondang Legi, (20) Sengkaling, dan (21) Karang Ploso. Sebagian dari cabang-cabang tersebut ada yang masih berstatus cabang persiapan.

AMM juga turut berperan mensyiarkan Muhammadiyah. Unit-unit drum band bermunculan, seolah-olah membangkitkan kenangan keberadaan HW di zaman Belanda. Pada zaman itu yang boleh berpawai hanyalah drum band milik HW. Peran Fathurrahman H. M. sebagai kader Kyai Bedja Dermaleksana dalam kebangkitan kembali AMM sangat signifikan.

Sejak 1959 ia dipercaya memegang Bagian Pemuda di Muhammadiyah. Pada masa ini Pemuda Muhammadiyah belum sepopuler GPII atau HW. Sebelum HW diintegrasikan dalam Pramuka, Fathurrahman membina dan membenahi kepengurusan pemuda terlebih dahulu. Pengurus-pengurus cabang diaktifkan dengan menggiatkan pembentukan pemuda di tingkat ranting. Setiap cabang Muhammadiyah harus memiliki cabang Pemuda dan di setiap desa harus ada rantingnya.

Pada 1961/1962 di Kabupaten Malang, yang terdiri dari 27 kecamatan, telah terbentuk 20 cabang Pemuda Muhammadiyah, sedang di Kota sebanyak 46 Ranting. Efektifnya model pembinaan seperti di Malang ini dijadikan model percontohan bagi pembinaan pemuda oleh Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah.

Drum Band Pemuda Muhammadiyah Batu memang bagus, menjuarai Festival Drum Band Nasional tahun 1964 di Bandung. Saat Pembukaan Muktamar Muhammadiyah ke-35 di Jakarta drum band itu disaksikan Bung Karno, kemudian diundang ke Jakarta untuk mengikuti upacara PHBN HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1965 di Jakarta.{40}

Pasca Muktamar ke-37 di Jogjakarta 1968 terbentuklah PDM Malang yang terdiri dari Cabang Malang Tengah (Klojen) Malang Utara (Blimbing) dan Malang Timur/Selatan (Kedung Kandang). Periode 1968-1971 dipimpin K.H. Bedja Dermaleksana untuk Kota, sementara untuk Kabupaten diketuai Asri Rahim.

Belum lagi masyarakat Indonesia menikmati atmosfer kebebasan, Pemerintah Orde Baru dalam konsolidasi kekuasaanya menerbitkan Peraturan Menteri dalam Negeri (Permendagri) Nomor 12/1970 yang menerapkan monoloyalitas. Akibatnya pada periodenya kepemimpinan Imam Hasan sebagai ketua PDM Kodya (1971-

Halaman 187

1974) dan Imam Mawardi sebagai ketua PDM Kabupaten, Muhammadiyah mulai berkurang anggotanya. Untuk itu, Kodya dan Kabupaten digabung. Setelah kondisinya memungkinkan, yaitu pasca Muktamar ke-42 di Yogyakarta tahun 1990, dipisah kembali.{41}

Pada periode 1932-1933 PDM dipimpin A. R. C. Salim. Setelah itu (1933-1934) K.H. M. Nur Yasin, Rajab Gani (1934-1935), Sutarjo (1935-1936), Atmonotoredjo (1936-1937), K. H. Cholil Abdul Aziz (1937-1942), K. H. M. Bedja Dermaleksana (1942-1957), Mohammad Dimyati (1957-1966), Imam Efendi (1966-1968), K. H. M. Bedja Dermaleksana (PDM Kota), Asri Rahim (PDM Kabupaten) (1968-1971), Drs. Imam Hasan (PDM Kota), Imam Mawardi (PDM Kabupaten) (1971-1974), Abdullah Hasyim (1974-1978), H. Soehadji (1978-1985), Abdullah Hasyim (1985-1990).

***

Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 18/07/2026 14:30
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu