Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi – 65

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi – 65

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab V berjudul “Muhammadiyah Masa Kebangkitan (1956-2004)”, halaman 179 s/d sebagian 183.

Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 64

***

Halaman 179

  1. Kabupaten Bangkalan

Masa Orde Lama merupakan masa sulit bagi Muhammadiyah Bangkalan untuk mengembangkan organisasi dan amal usahanya. Cabang Kwanyar merupakan salah satu dari 16 cabang di Madura yang berdiri pada 1962. PCM Kwanyar saat itu dipimpin Kustomo (ketua), Isra’ Kusnoto Mochamad (Sekretaris), Moh. Sofyan (Bendahara), dan Cholili Adnan (Anggota). {28}

Untuk mengembangkan organisasi dan mutu pimpinan diadakan Latihan Pimpinan Muhammadiyah se-Madura di Bangkalan pada 4-10 Juni 1962, yang diikuti pimpinan Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Pada periode 1971-1974, Muhammadiyah Daerah Bangkalan dipimpin Mudakir Joyokusumo. Wakil Ketua R. H. M. Hanafia; Sekretaris I Hasan Judah; Sekreataris II Darmowongso; Bendahara Kastojo; Anggota Wiryo, Wiryo Kasim, Jabbar, Munir Su’ib.

Daerah Bangkalan memiliki 13 cabang, tetapi dua tahun kemudian yang tercatat aktif hanya 11 cabang (sebagian adalah calon cabang). Menurut Laporan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bangkalan tahun 1975, Bangkalan terdiri dari 5 cabang, dan 6 calon cabang. Cabang-cabang tersebut ada yang hanya merupakan kegiatan pengajian rutin biasa, tidak ada amal usahanya yang penting di bidang sosial pendidikan.

Pada 1974-1977, PDM dipimpin Mudakir Joyokusumo. Anggota-anggota: M. Kawakib, B. Basuni Sasrokusumo, Kastojo, AA Djabbar, Mohammad Amin, H. Moh Hanafia, Abd Latif Notodiharjo dan Mohammad Abbas. {29} Pada 5 Maret 1979, diadakan Musyda untuk menyusun pimpinan baru periode 1978-1981. Ketua Mudakir Joyokusumo; Wakil Ketua I Satibi, BA; Wakil Ketua II Kawakib; Sekretaris Moh Amin Luthfi; Bendahara MB Sastrokusumo; Anggota Muammar HS, Abd. Mughni, A.A. Djabbar, Abd. Qahhar.

Belum habis masa jabatan untuk periode ini, 5 anggota pimpinan menyatakan mengundurkan diri; mereka adalah Mudakir Joyokusumo, karena kondisinya yang sakit-sakitan dan kesibukannya di DPR, menyatakan diri keluar dari anggota pimpinan pada 9

Halaman 180

Desember 1979; Muammar HS mengundurkan diri karena sesuatu hal pada 6 Maret 1979; Abd Mughni menyatakan keluar pada 23 April 1979. M. Besuni Sastrokusumo mengundurkan diri pada 23 Desember 1979; Kawakib karena aktif di DPR, tidak diperbolehkan duduk di pimpinan daerah.

Upaya dinamisasi gerak organisasi dilakukan pada 27 April 1981 dengan penyegaran pengurus dan menyusun kepengurusan daerah. Susunan pengurus yang terbentuk sebagai berikut: Ketua Satibi, BA; Wakil Ketua I RH Moh Hanafia; Wakil Ketua II Abd Rasyid; Sekretaris Moh. Amin Luthfi; Anggota AA Jabbar, Abd. Qahhar, Abd Ghani, Achmad, Abd Latif.

Penyegaran ini tidak banyak berpengaruh terhadap gerak Persyarikatan, karena sebagian anggota pimpinan mengundurkan diri baik karena keterlibatan dalam politik dan anggota legislatif, maupun karena pindah dinas, atau alasan kesehatan. Satibi pindah dinas ke Sampang; Abd Rasjid aktif di DPR, keluar dari anggota pimpinan; Abd. Qahhar, mengundurkan diri; AA Jabbar dan R. H. Moh. Hanafia sakit.

Untuk mengisi kekosongan pimpinan, pada 13 Maret 1985 disusun anggota pimpinan sebagai berikut: Ketua Abd. Mughni; Anggota Moh Syahid, Moh Amin Luthfi, Abd Rahem, Moh Joesoef, Achmad, Moh Hanafia, Abd Ghani, Moh Hosen BA. Setelah Muktamar ke-41, diadakan Musyda pada 27 April 1985, dan berhasil

Halaman 181

menyusun pimpinan sebagai berikut: Ketua Amiruddin BA; Wakil Ketua H Zainal Abidin; Sekreataris I Moh Syahid; Sekretaris II Achmad; Bendahara RP Moh Zain; Anggota RP Abd Rahem, Muammar Hs, Moh Sajjadi, Kawakib. Belum berjalan lama, Kawakib keluar dari anggota pimpinan karena aktif dalam partai politik.

Enam bulan kemudian Amiruddin keluar dan H. Zainal Abidin meninggal dunia. Kondisi ini berlangsung sampai menjelang Muktamar ke-42 di Jogjakarta. Muammar Hs kemudian ditunjuk sebagai ketua PDM Bangkalan. Ortom yang aktif dalam pasang surut gerakan dakwah di Bangkalan adalah Aisyiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, dan IPM.

  1. Kabupaten Lumajang

Pada periode 1985-1990 Muhammadiyah Daerah Lumajang dipimpin KH Abdi Manaf sebagai Ketua, Moch. Khoiri Wakil Ketua, Ahmad al-Aksari dan Jakfar Lasianto Sekretaris I & II dan H. Abdul Hamid Bendahara. {30}

SMPM 5 Pucang SBY

Mochammad Khoiri yang semula sebagai wakil ketua, pada periode berikutnya (1990-1995), ditetapkan sebagai sebagai ketua. Wakilnya, H. Zainuddin MA, dengan sekretaris Jakfar Lasianto dasn wakilnya Moch. Khoyum. Untuk posisi bendahara dipercayakan kepada H. Abdul Hamid. Pada periode ini digelar peringatan Milad di Masjid Al-Ikhlas Bagosari.

Periode berikutnya (1995-2000), yang terpilih sebagai ketua adalah Akhmad al-Aksari dan H. Zainuddin, MA sebagai wakil. Moch. Khoiri dan Jakfar Lasianto Sekretaris I & II, M.A. Syueb Bendahara, Suharyo AP.SH dan Drs. Yusuf Wibisono sebagai Anggota. Dalam kepemimpinan Al-Aksari, berdiri pengajian eksekutif yang diikuti para elit di Kabupaten Lumajang.

Mereka rata-rata adalah simpatisan Muhammadiyah. Pengajian ini dimaksudkan sebagai media komunikasi dan konsultasi keagamaan dan memperoleh respon positif dari berbagai pihak. Ketika Akhmad Al-Aksari sebagai perintisnya wafat, program ini tidak terkordinasi secara baik.

Sepeninggal Akhmad Al-Aksari, posisi ketua diganti Zainuddin M.A., yang kemudian terpilih kembali pada 2000-2005. Pada periode ini Zainuddin dibantu Suharyo A.P., Moch Khoiri sebagai Wakil Ketua, Drs. Moch. Khoyum Sekretaris, dan MA Syueb Bendahara,

Halaman 182

sedang yang lainnya sebagai kordinator masing-masing Majelis.{31} Pada masa jabatan ini, PDM membina 15 cabang dan 57 ranting. Ketua masing-masing cabang adalah: PCM Lumajang Abdul Muin S.Pd., Sukodono Ir. Mukrib Achponi, Tempeh H. Abdul Ghoni, Rowokangkung Sudarsono, Senduro Gatot Subandriyo, S.Pd., Randu Agung H. Hasan Rahmat, Yosowilangun Ahmad Shodiq, Tekung Ahmad Yusuf, Tempursari Drs. A.S. Mukhtar, Kunir Mahmud S.Pd., Kedung Jajang Sudiyo, Pasirian Mohammad Alfan Candipuro Abdul Manan, Klakah Amak Al-Katiri, dan Cabang Jatiroto Ahmad Sobari.{32} Sedangkan pimpinan Aisyiyah, Ny. Siti Salamah; Pemuda Muhammadiyah, Jamal Abdullah al-Katiri; dan NA, Sarunti S.Pd.

  1. Kabupaten dan Kota Probolinggo

Muhammadiyah Probolinggo pada 1965-1970 dipimpin H. Moh. Dja’far, dan terpilih kembali untuk periode 1970-1975. Dua periode berikutnya (1975-1980 dan 1980-1985) dipimpin oleh H. Muh. Wasim. Lalu pada 1985-1990 dipimpin Dahat Salimun dan digantikan oleh H. Ibrahim pada periode 1990-1995. Menjelang dipisah menjadi kabupaten dan kota, pada periode 1995-2000 dipimpin oleh K.H. Abdul Cholik Toha.{33}

Dalam periode 2000-2005, PDM Probolinggo dikembangkan menjadi Kota dan Kabupaten. Untuk Kota dipimpin oleh Faeshol Abbas, sedangkan kabupaten yang terbentuk pada 9 Juni 2001, dipimpin Budiono, SH. CN., sebagai Ketua Drs. Sugi Sulaiman, dan H. Zainal Abidin, S. Ag sebagai wakil ketua, Drs. Samsul Muarif dan Drs. Slamet sekretaris, H. Mohammad Endo, W. Hamim Thohari, S.Pd. Bendahara, dan Drs. H. Sanewi, Mohammad Nasir Anggota.{34}

Guna menghidupkan kembali HW, PDM Probolinggo bekerja sama dengan Kwarda Hizbul Wathan Probolinggo dan Kwarwil Hizbul Wathan Jatim mengadakan jambore Pandu HW tingkat Kabupaten dan didukung Bupati Probolinggo H. Murhadi (1998-2003). Upacara pembukaannya dilakukan Kwarnas HW, disaksikan Kwarwil Pandu HW Jogjakarta, Bandung dan Semarang.

Kota memiliki 3 Cabang, Sementara kabupaten memiliki 7 cabang dari 24 kecamatan yang ada, antara lain Kraksaan yang terbentuk pada 1964 di bawah pimpinan H. Hasyim. Pada saat itu pula dibuka SMP Muhammadiyah Kraksaan yang dipimpin H. Hasyim sampai

Halaman 183

1966, kemudian digantikan oleh R. Soenarjo, salah seorang perintis Muhammadiyah di kota Kraksaan.

Tatkala pecah G 30 S/PKI di Kraksaan dibentuk Kokam di bawah pimpinan Hadar. Guna menampung kegiatan dan kreativitas anak-anak Muda Muhammadiyah juga dibentuk pasukan drum band. Muhammadiyah mendapat hibah rumah milik R.Soenarjo, yang kemudian dijadikan sebagai kantor PCM dan SMPM. Sebagai gantinya Aisyiyah mendirikan TK Harapan. Pada 1991 gedung itu dipugar menjadi Masjid at-Taqwa.{35} Pada 1952 dibentuk Ranting Muhammadiyah Pendil dipimpin H. Zayadi (1952-1955), dan kemudian H. Adnan (1955-1958).

Dalam waktu bersamaan di Pajarakan juga diperkenalkan ajaran-ajaran Muhammadiyah oleh L. Subagio melalui pengajian dari rumah ke rumah, khitanan massal, zakat fitrah, pelaksanaan shalat Id di lapangan dan penyembelihan korban. Pada 1995 terbentuklah kepengurusan PCM Pajarakan, dengan pimpinannya Drs. Syamsul Mu’arif (1995-2000).

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain pengajian rutin, di Masjid Al-Ikhlas PG Pajarakan. Juga dibentuk grup pencak silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Pada 2000 kepengurusan Syamsul Mu’arif berakhir, dan lewat Musycab Pajarakan digantikan oleh Darmawan Arief (2000-2005).{36}

***

Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 18/07/2026 12:26
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu