Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab V berjudul “Muhammadiyah Masa Kebangkitan (1956-2004)”, halaman 174 s/d sebagian 179.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 63
***
Halaman 174
Di Paleran, awal gerakan pemurnian aqidah dikenalkan Kholil dari Pesantren Persis Bangil. KH Ach. Zaenuri dari Watu Kebo dihadirkan untuk memberikan sentuhan rohani pada pengajian-pengajian yang diadakan bersama Cabang Bangsalsari. Pembinaan yang dilakukan terus-menerus akhirnya menuai hasil.
Sebagian masyarakat Paleran sudah bisa menerima, terutama kalangan perempuan. Ketika Muhammadiyah di Paleran belum terbentuk, Aisyiyah sudah muncul lebih dulu, karena kaum laki-laki belum berani secara terbuka masuk Muhammadiyah, akibat adanya anggapan yang terus dihembuskan oleh kalangan tertentu bahwa
Halaman 175
Muhammadiyah adalah Kristen halus. Pada 1970-an, diadakan shalat ‘Id di lapangan Paleran. Kendati muncul pro-kontra, shalat ‘Id tetap berjalan. Sejak saat itu dakwah dilakukan secara terbuka hingga 1975. Akhirnya terbentuk pimpinan ranting Paleran pada 15 Sya’ban 1408/2 April 1988. Terpilih sebagai ketua pada periode 1976-1980 adalah Sumarsono, 1981-1985 KH A. Haifa, 1986-1990 Kasmun, dan 1991-2000 Drs. Syaikhun.
Jumlah anggotanya terus berkembang, tetapi masih ikut Cabang Bangsalsari. Selanjutnya didirikan ranting Curah Sawah, Karang Genteng, dan Paleran, yang ditetapkan pada 10 Desember 2001. Pada periode 2001-2005 Ranting Paleran berubah menjadi cabang dan diketuai Drs. Syaikhun. {19} Pada 1960 berdiri ranting Mangli, yang dalam perkembangannya berubah status menjadi cabang yang dikukuhkan pada 20 Rabi’ul akhir 1422/12 Juli 2001. {20}
- Kabupaten Sumenep
Perkembangan Muhammadiyah di Sumenep selama masa Orde Baru dapat dikatakan kurang menggembirakan. Pada masa kepemimpinan Drs. Abd. Rofik selama tiga periode, berdiri Baitul Mal yang dikelola Majelis Ekonomi, dan Koperasi Matahari yang keuntungan usahanya sebagian dikontribusikan untuk amal usaha Muhammadiyah yang lain, terutama Panti Asuhan. {21}
Di samping itu, berdiri pesantren, BKIA, dan SMA Muhammadiyah yang terkenal dan menjadi pilihan utama di antara sekolah-sekolah swasta. Kini daerah Sumenep memiliki 12 cabang dan 25 Ranting. Pada periode 2000-2005, PDM dipimpin Syaiful Bahri (ketua), dibantu Asmawi Sandhi dan Drs. Mohammad Yasin sebagai wakil. Drs. Iskandar dan Wagiman KS sebagai sekretaris dan wakil sekretaris, serta Muhammad Baidhowi sebagai bendahara.
- Kabupaten Pamekasan
Status pimpinan cabang Muhammadiyah Pamekasan, pada 1964-1968, diubah menjadi pimpinan daerah dan dipimpin oleh KH Abdul Kadir Prawirokusumo. {22} Pada periode 1974-1977 pimpinan daerah disahkan Pimpinan Pusat, dengan komposisi sebagai berikut: Abdul Kadir Prawirokusumo (Ketua), anggota-anggota Muhammad
Halaman 176
Ibrahim, Daeng A. Rachem, Hadi Waluyo BA., Taufiq Bauzir BA., Irsyad Haryono, M. Zahir Asm BA., Achmad Umar dan Zainal Abidin. {23} Pada periode 1985-1990, Abdul Kadir Prawirokusumo terpilih kembali sebagai ketua. Pada periode berikutnya, 1991-1995 selain ia terpilih sebagai ketua, Drs Moh Amin dan Drs. Sihabuddin Muchtar ditetapkan sebagai wakil ketua, Sekretaris H. Achmad Oemar dan Bendahara HR Zainal Abidin.
Perkembangan Muhammadiyah di cabang-cabang menurun dari sembilan cabang menjadi tujuh cabang dan 24 ranting. Pada periode 2000-2005, ketua PDM tetap dipegang K.H. Abdul Kadir Prawiro (Ketua), dibantu Mahmud Mansur dan Drs. Imam Santoso sebagai wakil. Untuk sekretaris dijabat Drs. Achmad Sihabuddin Muchtar.
Ortom yang tetap eksis adalah Tapak Suci Putera Muhammadiyah, NA, Aisyiyah, dan Pemuda Muhammadiyah, IPM/IRM. Secara berturut-turut yang memimpin IPM adalah Imam Santoso (1970-1985), Qamaruzzaman (1986-1990), Rudi Karyanto (1990-1995), Subhan Mas (1995-2000), (2000-2001), dan Sukma P. (2001-2005).
Pemuda Muhammadiyah dikembangkan mantan aktivis IPM Imam Santoso, dilanjutkan Ali Hasbullah (1985-2001), dan Drs. Mohammad Wardi (2001-2005). NA selama dua dasa warsa (1980-2001) dipegang Dra. Indrawati, dilanjutkan Dra. Nurul Kojimah (2001-2002), dan Ruhayati (2002-2005). Upaya
Halaman 177
menghidupkan kembali HW pertama kali di bawah kendali Achmad Jaesuli, BA. (2001-2005).
- Kabupaten Sampang.
Setelah vakum dalam beberapa dekade, tahun 1960-an muncul kembali kesadaran untuk mengembangkan gerakan Muhammadiyah. Perkembangan baru ini dirintis antara lain oleh Achmad Putrodiharjo yang ketika itu menjabat sebagai kepala P&K Kabupaten Sampang. Dimulai dengan kegiatan pengajian tafsir yang dikoordinir Mastufah, seorang tokoh Masyumi, setiap malam Kamis. Generasi mudanya mengadakan pengajian barzanji dan tafsir al-Qur’an yang dimotori M. Rusydi Hasyim dan M. Mahsyudin (menantu K. Bedja Dermaleksana).
Pengajian tersebut menjadi cikal-bakal munculnya kembali Muhammadiyah di Sampang. Kedatangan Kasman Singodimedjo ke Sampang dan pengajian akbar di halaman Penjara Sampang oleh K. Bedja Dermaleksana menjadi titik awal kebangkitan Muhammadiyah. Generasi muda yang tertarik dengan faham Muhammadiyah juga mengikuti pengajian yang diadakan Islam Study Club di Pamekasan. {24}
Muhammadiyah Sampang bangkit kembali pada awal 1960-an itu dengan mengadakan kegiatan dakwah terbuka yang dinamakan Amul Fil di lokasi yang sering dipakai kegiatan PKI. Training Center Pemuda Muhammadiyah diadakan di rumah pemujaan Cina beragama Kong Huchu, diisi oleh tokoh-tokoh seperti Abdullah (guru SMA), Zainal Alim dari Pekalongan, dan Taufiq Bauzir (guru Muhammadiyah di Pamekasan).
Hasilnya adalah pengembangan dakwah ke desa-desa, seperti Krampon, Taddan, Camplong dan Tanjung. Di antara aktivisnya adalah Sutardjo (pendiri Pesantren Persis di Camplong), yang pada 1961 mundur dari dinas di Pengadilan Negeri. Dukungan dari pihak militer (Komandan Kodim 0828) sangat berarti bagi kelangsungan kegiatan Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Situasi ini mengalami perubahan menjelang terjadi Gestapu dan dengan terbunuhnya Komandan Resort Polisi Sampang. Peristiwa G30S/PKI 1965 sangat mempengaruhi gerak Muhammadiyah. Beberapa tahun kemudian, Muhammadiyah Sampang mengalami kemandekan. Geliat
Halaman 178
Muhammadiyah mulai tampak setelah pada 1970 dibangun masjid yang dibiayai melalui pengumpulan dana celengan yang diletakkan di rumah-rumah warga dan toko-toko yang ada di pasar-pasar di Sampang. Dana yang terkumpul digunakan membangun masjid Rasyidin dan merenovasi masjid Dakwah yang dijadikan tempat shalat Jum’at, dan membiayai pendirian Taman Kanak-Kanak Aisyiyah di Jalan Pahlawan Sampang.
Pada awal 1970-an status cabang berubah menjadi daerah, dan beberapa cabang mulai terbentuk, seperti Krampon, Tanjung dan Camplong. Perkembangan ini didukung kegiatan Darul Arqam tingkat wilayah yang diadakan di Batu yang diikuti utusan dari setiap daerah, termasuk Sampang yang diwakili oleh R. Surawi. Setiap peserta diwajibkan mengadakan kegiatan serupa di tingkat daerah. Training yang diikuti oleh angkatan muda Muhammadiyah dilaksanakan pada 1974. {25}
Kaderisasi model ini dapat mendinamisasi Muhammadiyah di cabang-cabang yang telah dibentuk. Pada awal dekade 70-an Muhammadiyah Sampang dipimpin Mochammad Syafi’i. Selama masa kepemimpinannya, kegiatan ditekankan pada pembinaan kader, penataan kelembagaan, dan perluasan dakwah. Dukungan tokoh bekas Masyumi, seperti KH. Badri terhadap perkembangan dakwah Muhammadiyah cukup berarti, dan pada saat itu berdiri cabang Ketapang yang diresmikan oleh M. Anwar Zain sebagai ketua PWM. {26}
Achmad Munier terpilih sebagai ketua pada periode 1974-1977. Anggota pengurus lainnya adalah Abdul Aziz, BA, NA Putrodihardjo, Surawi, M. Muchlish, Moentaha, Moeh Nadjih, M. Rusydi Hasyim, BA, dan Moh Moenir. {27} Kemudian pada periode 1991-1995 yang menjabat ketua adalah Munawar BA; Wakil Ketua Surawi, Sekretaris Soepardi, Bendahara I H Achmad Sutardjo, Bendahara II Drs. Syafruddin. Sedangkan pada periode 1995-2000, yang menjabat ketua adalah Satibi, S.Ag.
Satibi ketika menjadi ketua PDM Sampang adalah Pegawai Departemen Agama. Bersamaan dengan berakhirnya masa jabatan di Muhammadiyah, Satibi memasuki masa pensiun. Ia tidak bisa terlibat lagi dalam menggerakkan Persyarikatan, karena kembali ke kampung asal Jogjakarta. Pada periode 2000-2005, PDM Sampang
Halaman 179
dipimpin Drs. Rivai. Cabang-cabang yang menjadi binaan Daerah Sampang sebanyak 7 cabang dan 14 ranting.
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments