Hampir sepuluh tahun saya tidak main bola. Lalu, Kamis (27/8/2026), saya nekat. Bukan di stadion. Bukan di lapangan rumput yang luas. Hanya di lapangan mini soccer Bay Arena Mini Soccer Field, Kenpark, Surabaya. Tetapi rasanya seperti kembali ke masa lalu.
Sore itu, Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) bertanding persahabatan dengan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).
Bareng kawan-kawan lama. Ada Rektor Umsura Prof Mundakir. Juga dua wakil rektornya, Dr. Muhammad Anas dan Dr. Radius Setiyawan.
Pertandingan persahabatan. Artinya, tidak ada yang benar-benar kalah. Walau, tentu saja, ketika sudah berada di lapangan, naluri ingin menang tetap muncul. Bola itu aneh. Begitu ditendang, gengsi ikut bergerak.
Saya tahu tubuh saya sudah berubah. Dulu saya bisa berlari mengejar bola tanpa banyak berpikir. Sekarang, sebelum mengejar bola, saya berpikir dulu.
“Kalau saya kejar, habis tidak napas saya?” Itu problem pertama.
Problem kedua: kaki. Kaki saya masih mengenal bola. Tetapi bola sepertinya sudah tidak terlalu mengenal kaki saya.

Passing yang dulu mudah, kini kadang mengirim bola ke tempat yang tidak direncanakan.
Tendangan pun begitu. Dulu saya berpikir ke mana bola harus diarahkan. Sekarang saya lebih sering berharap bola mau menurut. Tidak selalu. Tetapi saya menikmatinya. Sangat menikmatinya.
Sepak bola memang olahraga favorit saya. Selain bulu tangkis, tenis meja, dan bola voli. Ada sesuatu yang membuat sepak bola berbeda.
Bola tidak boleh terlalu lama berada di kaki kita. Ia harus bergerak. Diberikan kepada teman. Dipantulkan. Dikirim ke ruang kosong. Kadang ke depan. Kadang ke belakang. Bahkan kadang harus dibuang jauh-jauh.
Saya kira hidup juga begitu. Tidak semua persoalan harus kita kuasai sendiri. Tidak semua pekerjaan harus kita kerjakan sendiri. Dan tidak semua keberhasilan harus membawa nama kita.
Ada waktunya kita menjadi pencetak gol. Tapi lebih sering kita justru menjadi pemberi umpan.
Sayangnya, pemberi umpan sering tidak mendapatkan tepuk tangan sebanyak pencetak gol. Padahal tanpa umpannya, gol itu mungkin tidak pernah terjadi.
***
Di lapangan mini soccer itu, saya mencoba kembali menjadi dirijen. Bukan dirijen yang berdiri dengan tongkat.
Saya berdiri di tengah permainan. Melihat kanan. Melihat kiri. Mencari celah. Mencari teman yang berada di posisi paling menguntungkan. Lalu mengirim bola. Umpan matang. Istilah sepak bola menyebutnya begitu. Saya suka istilah itu.
Umpan yang matang tidak asal diberikan. Ia harus tahu siapa yang menerima. Di mana orang itu berdiri. Seberapa cepat ia bergerak. Dan ke mana ia akan berlari setelah menerima bola.
Jadi, umpan terbaik sebenarnya bukan bola yang paling keras. Bukan pula bola yang paling jauh. Umpan terbaik adalah bola yang membuat teman kita berada dalam posisi lebih baik. Di situlah sepak bola mengajarkan kepemimpinan.
Pemimpin tidak selalu harus berada di depan.Kadang justru berada di tengah. Melihat keseluruhan permainan. Membaca situasi. Kemudian membuat orang lain bisa bergerak lebih baik.
Saya semakin menyukai filosofi bola. Bola tidak pernah bertanya siapa yang paling senior. Ia tidak peduli jabatan. Tidak peduli gelar. Tidak peduli siapa rektor, wakil rektor, dosen, pegawai, atau mahasiswa.
Ketika pertandingan dimulai, semuanya sama. Yang menentukan adalah bagaimana kita bermain. Dan satu hal lagi: Bola selalu bergerak. Itulah hukum sederhananya.
Kalau bola berhenti, permainan juga berhenti. Mungkin manusia juga begitu. Kita tidak boleh terlalu lama berhenti. Harus bergerak. Belajar. Beradaptasi. Memberi kesempatan kepada orang lain.
Dan ketika sudah tidak mampu berlari sejauh dulu, kita tidak perlu memaksakan diri menjadi pemain yang sama. Cari cara bermain yang baru. Itulah yang saya lakukan sore itu.

Saya tidak lagi mengandalkan kecepatan. Saya mengandalkan pandangan. Membaca ruang. Membaca pergerakan. Mengatur tempo.
Kalau tidak bisa mengejar bola, ya kirim bola lebih dulu ke tempat yang akan dituju teman. Sederhana. Tetapi ternyata efektif.
***
Sepak bola juga mengajarkan tentang kepercayaan. Ketika kita mengirim umpan ke depan, kita percaya teman akan mengejarnya.
Ketika teman mengirim bola kepada kita, ia percaya kita bisa menguasainya. Tidak ada permainan tanpa kepercayaan.
Begitu pula organisasi. Begitu pula kampus. Begitu pula kehidupan. Kita tidak mungkin mengerjakan semuanya sendiri. Harus ada yang mengoper. Harus ada yang menerima. Harus ada yang berlari. Harus ada yang menjaga.
Dan ketika seseorang kehilangan bola, jangan buru-buru menyalahkan. Rebut kembali. Bantu dia. Permainan terus berjalan. Bukankah kehidupan juga begitu?
Kita semua pernah salah passing. Pernah salah mengambil keputusan. Pernah kehilangan kesempatan.
Tetapi pertandingan belum selesai. Selama peluit akhir belum berbunyi, masih ada kesempatan memperbaiki permainan. Hampir sepuluh tahun saya tidak main bola.
Kamis itu saya kembali. Saya tidak menemukan kaki saya yang dulu. Kecepatan saya juga tidak kembali. Tetapi saya menemukan sesuatu yang lebih penting. Kegembiraan.
Ternyata olahraga tidak selalu harus tentang menang. Kadang ia hanya tentang kembali merasa muda. Tentang berkeringat bersama. Tentang bercanda setelah gagal mencetak gol. Tentang menepuk bahu teman.
Tentang satu umpan yang berhasil. Tentang satu kesempatan yang terlewat. Dan tentang kesadaran bahwa tubuh boleh menua, tetapi kegembiraan tidak harus ikut menua.
Sore itu saya pulang dengan badan pegal. Kaki terasa berat. Napas masih tersisa sedikit-sedikit. Tetapi hati ringan. Saya kembali diingatkan oleh sebiji bola:
Dalam hidup, kita tidak harus selalu mencetak gol. Kadang tugas kita hanya memastikan bola sampai kepada orang yang tepat, pada waktu yang tepat.
Setelah itu, biarkan permainan berjalan. Dan mungkin, itulah seni menjadi dirijen.
Bukan menjadi orang yang paling banyak bergerak. Melainkan orang yang tahu kapan harus menggerakkan yang lain. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments