Di tengah hiruk-pikuk kota lama Surabaya, ada sebuah jembatan yang mungkin dilewati banyak orang tanpa pernah bertanya: siapa yang memberinya nama?
Namanya Jembatan Tjantian. Kini, nama itu nyaris hilang dari ingatan warga Surabaya. Generasi muda mungkin lebih mengenal kawasan Kapasan, Pabean, atau Pegirian. Tetapi Tjantian seperti sebuah nama yang tertinggal di halaman lama sejarah kota.
Padahal, jembatan ini bukan sekadar penghubung jalan. Ia menyimpan cerita tentang perubahan wajah Surabaya. Tentang kampung-kampung lama. Tentang perdagangan. Tentang orang-orang Tionghoa. Tentang industri rumahan. Bahkan tentang jejak awal pendidikan Muhammadiyah di Surabaya.
Dan di antara nama-nama yang muncul dari lorong sejarah itu terdapat seorang tokoh bernama Kiai Ali.
Sejarawan Muhammadiyah Muh. Kholid, AS, menengarai nama Tjantian memiliki hubungan erat dengan Kampung Tjantian. Di kampung itulah, menurut penelusurannya, pernah berdiri rumah Kiai Ali, tokoh yang dikenal sebagai pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren Muhammadiyah modern pada masa kolonial.
Petunjuk penting mengenai keberadaan Kiai Ali dan kawasan tersebut ditemukan Kholis dalam surat kabar Oetosan Hindia Nomor 28 Tahun 1920.
Temuan itu menarik. Sebab, nama Tjantian ternyata bukan sekadar nama jembatan yang muncul begitu saja. Ia terhubung dengan kehidupan sebuah kampung dan orang-orang yang pernah tinggal serta beraktivitas di dalamnya.
Dengan kata lain, jika ingin menelusuri sejarah Jembatan Tjantian, kita tidak cukup hanya melihat batunya.
Kita perlu melihat kampung di sekelilingnya. Dan manusia yang pernah hidup di sana.

Jembatan yang Melintasi Zaman
Jejak Jembatan Tjantian dapat ditelusuri setidaknya hingga peta Surabaya tahun 1825. Artinya, keberadaannya bukan cerita kemarin sore. Jembatan ini berada di kawasan yang sejak lama menjadi bagian penting perkembangan Surabaya.
Posisi tersebut menghubungkan kawasan Pecinan lama dengan wilayah di sebelah timurnya yang kini dikenal sebagai Kapasan.
Sekarang secara administratif, jembatan itu berada di perbatasan Kecamatan Pabean Cantian dan Kecamatan Simokerto.
Namun jangan berharap menemukan plakat besar bertuliskan “Jembatan Tjantian”. Tidak ada. Nama itu seperti sengaja ditelan waktu.
Yang masih bisa dikenali dari bangunan lamanya terutama adalah parapet atau dinding batu pembatas jembatan. Sebagian struktur lama masih bertahan pada salah satu sisi. Sisi lainnya sudah kehilangan jejak aslinya.
Bagi orang yang melintas, mungkin tidak ada yang istimewa. Bagi pemburu sejarah, justru di situlah persoalannya. Sisa kecil itu adalah petunjuk.
Pernah Ditutup, Lalu Dibangun Lagi
Jembatan Tjantian ternyata pernah beberapa kali diperbaiki. Surat kabar The Indische Courant edisi 31 Desember 1925 dan 12 Februari 1926 mencatat bahwa jembatan tersebut pernah ditutup untuk lalu lintas mulai 4 Januari 1926.
Beberapa minggu kemudian, jembatan kembali dibuka. Namun perubahan besar datang satu dasawarsa kemudian.
Pada 1937, Pemerintah Kota Surabaya atau Gemeente Surabaya melakukan penataan Kali Pegirian. Jembatan Tjantian ikut dibangun kembali.
Menurut Kuncarsono Prasetyo, pemerhati sejarah Surabaya sekaligus salah satu Co-Founder Begandring Soerabaia, kondisi Kali Pegirian ketika itu jauh dari kata nyaman.
“Kalau sekarang kita membayangkan sungai sebagai bagian dari wajah kota, dulu kondisinya berbeda. Kali Pegirian ketika itu menyerupai saluran pembuangan terbuka. Baunya bahkan dilaporkan sering tidak tertahankan,” kata Kuncar.
Karena itu, pembangunan jembatan tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari proyek yang lebih besar: menata kembali aliran Kali Pegirian sekaligus memperbaiki akses jalan.
Dalam pemberitaan The Indische Courant 1 November 1937, tercatat beberapa perusahaan yang mengikuti tender pembangunan Jembatan Tjantian.
Ada Tan dan Tio dengan penawaran ƒ 8.087. Kemudian R. D. de Jong sebesar ƒ 9.285, Firma Arsitektur Soemadi & Co. ƒ 9.238, Hollandsche Beton Mij. ƒ 9.850, dan Lobry ƒ 8.875. Pemenangnya? Tan dan Tio. Nilai kontraknya ƒ 8.087.
Jembatan baru itu dirancang sebagai jembatan beton. Badan jalannya selebar 12 meter. Di kedua sisinya terdapat trotoar, masing-masing selebar 2,50 meter.
Posisi badan jalan juga dibuat sekitar 70 sentimeter lebih rendah dibandingkan jembatan sebelumnya. Pembangunannya berlangsung sekitar tiga bulan. Kemudian datang hari yang ditunggu.
7 April 1938. Gemeente Surabaya membuka Jembatan Tjantian yang baru untuk lalu lintas. Surat kabar Soerabaijasch Handelsblad edisi 9 April 1938 mencatat peristiwa tersebut.
Pembukaan dilakukan dengan seremoni sederhana: pemotongan pita oleh anggota Dewan Kota, Van Gennep.
Sebuah jembatan lama selesai. Sebuah jembatan baru lahir. Tetapi namanya tetap sama. Tjantian.

Dari Mana Nama Tjantian?
Di sinilah cerita menjadi menarik. Asal-usul nama Tjantian belum memiliki satu jawaban yang benar-benar tunggal.
Ada beberapa versi. Tagar Jatim, dalam tulisan tentang asal-usul nama Pabean Cantian yang terbit 5 Februari 2025, mengutip ahli budaya Choesni Herlingga yang menyebut istilah “Cantikan” berkaitan dengan bahasa prokem komunitas Tionghoa Surabaya masa lampau.
Disebutkan, istilah tersebut berasal dari kata Can Tee dalam bahasa Cina, yang memiliki dua makna: sekumpulan orang dan pinjaman uang.
Namun ada versi lain. Tri Priyo Wijoyo, pemerhati sejarah Surabaya masa klasik dari Begandring Soerabaia, menduga nama Tjantian berasal dari toponim kampung: Petjantean atau Tjantean.
Nama Petjantean, katanya, sudah muncul dalam peta Surabaya tahun 1825. Dan ada dugaan menarik bahwa nama tersebut berkaitan dengan aktivitas pembuatan batik.
Kalau benar, berarti Tjantian bukan sekadar nama sebuah jembatan. Ia adalah nama sebuah ruang hidup. Sebuah kampung. Sebuah kawasan yang pernah memiliki aktivitas ekonomi dan sosial yang khas.
Tjantian dan Wajah Kota Praindustri
Petunjuk lain datang dari sejarah perkembangan Surabaya pada akhir abad ke-19.
Dalam kajian Andi Achdian dan Erna E. Chotin dari Program Studi Sosiologi Universitas Nasional Jakarta berjudul “Kelas Menengah Kota dan Politik Kewargaan di Kota Kolonial Surabaya Akhir Abad ke-19”, yang diterbitkan dalam Jurnal Masyarakat dan Budaya pada 2018, Tjantian disebut sebagai salah satu kawasan yang memperlihatkan perkembangan aktivitas ekonomi masyarakat kota.
Ketika itu, Surabaya sedang tumbuh. Pembagian kerja semakin berkembang. Industri tidak selalu berbentuk pabrik besar. Banyak kegiatan ekonomi berlangsung dari rumah ke rumah.
Ada jahitan dan bordir. Ada pemintalan. Ada pembuatan batik. Ada kerajinan emas dan perak. Masing-masing kawasan kota kemudian memiliki aktivitas khas.
Tjantian, misalnya, disebut sebagai salah satu kawasan tempat para pembuat jam beraktivitas.
Gambaran itu memperlihatkan Surabaya sebagai kota yang sedang bergerak menuju masyarakat modern.
Belum sepenuhnya menjadi kota industri. Tetapi sudah jauh meninggalkan pola kehidupan agraris tradisional.
Jembatan menjadi bagian dari denyut perubahan itu. Orang bergerak melintasinya. Barang berpindah. Kampung tumbuh. Profesi berkembang. Dan gagasan-gagasan baru ikut berjalan bersamanya.

Lalu Ada Kiai Ali
Di antara denyut kehidupan Kampung Tjantian itu, muncul satu nama yang menarik perhatian: Kiai Ali.
Sejarawan Muhammadiyah Muh. Kholis, AS, menemukan jejaknya melalui surat kabar Oetosan Hindia Nomor 28 Tahun 1920.
Kiai Ali disebut memiliki rumah di kawasan Kampung Tjantian. Bukan sekadar tempat tinggal. Ia dikenal sebagai pendiri dan pengasuh pondok pesantren Muhammadiyah modern pada masa kolonial.
Di titik inilah sejarah jembatan bertemu dengan sejarah Muhammadiyah. Tjantian yang selama ini hanya tampak sebagai nama lama di peta Surabaya tiba-tiba memiliki dimensi lain.
Ada kampung. Ada rumah. Ada seorang kiai. Ada pesantren. Dan ada gagasan pendidikan Islam modern yang sedang tumbuh di tengah kota kolonial.
Barangkali inilah alasan mengapa sejarah sebuah jembatan tidak pernah benar-benar hanya soal jembatan.
Batu-batunya memang bisu. Tetapi kampung di sekitarnya pernah ramai oleh manusia dan gagasan.
Jangan Sampai Tjantian Hilang untuk Kedua Kalinya
Hari ini, Jembatan Tjantian masih berdiri. Tetapi namanya nyaris hilang. Struktur lamanya tinggal sebagian. Plakat sejarah tidak terlihat. Informasi mengenai riwayatnya juga tidak mudah ditemukan oleh orang yang melintas.
Padahal, jembatan ini menyimpan banyak lapisan sejarah Surabaya. Ia berkaitan dengan perkembangan kawasan Pecinan dan Kapasan. Ia menjadi bagian dari penataan Kali Pegirian.
Ia merekam perubahan teknologi konstruksi jembatan pada masa kolonial. Ia bersentuhan dengan aktivitas ekonomi masyarakat kota.

Dan, jika penelusuran Muh. Kholid AS mengenai Kampung Tjantian dan Kiai Ali terus diperkuat oleh arsip-arsip lain, jembatan ini juga dapat menjadi salah satu pintu untuk membaca sejarah awal perkembangan Muhammadiyah di Surabaya.
Karena itu, Kuncarsono Prasetiyo menilai Jembatan Tjantian layak dipertimbangkan untuk diajukan sebagai bangunan cagar budaya.
“Jembatan Tjantian sebenarnya cukup layak diajukan sebagai cagar budaya. Selain mewakili gaya bangunan pada masanya, jembatan ini memiliki nilai budaya sebagai warisan sejarah perkembangan Kota Surabaya. Tentu diperlukan kajian lebih lanjut,” ujarnya.
Memang. Yang dibutuhkan bukan sekadar mempertahankan sebuah bangunan tua. Yang lebih penting adalah menyelamatkan ceritanya. Sebab kota yang kehilangan bangunan masih mungkin dibangun kembali.
Tetapi kota yang kehilangan ingatan akan sulit mengenali dirinya sendiri. Jembatan Tjantian masih ada. Mungkin tidak megah. Mungkin tidak terkenal. Mungkin dilewati setiap hari tanpa pernah diperhatikan.
Namun di bawah beton dan batu tuanya, ada jejak sebuah kota yang pernah tumbuh.
Ada nama-nama kampung. Ada para pedagang dan pekerja. Ada Kali Pegirian. Ada orang-orang Tionghoa. Ada teknologi kolonial. Dan ada Kiai Ali.
Sejarah kadang tidak bersembunyi di museum. Ia justru berdiri di pinggir jalan. Menunggu seseorang berhenti.
Lalu bertanya: “Mengapa jembatan ini bernama Tjantian?”
Dari pertanyaan kecil itulah, pintu sejarah Surabaya terbuka. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments