Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab V berjudul “Muhammadiyah Masa Kebangkitan (1956-2004)”, halaman 170 s/d sebagian 174.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 62
***
Halaman 170
- Kabupaten Situbondo
Perkembangan Muhammadiyah Situbondo relatif lambat. Sampai dengan 2004 penyebaran di tingkat cabang baru mencapai 30%. Dari 17 kecamatan yang ada di Situbondo, baru berdiri enam cabang Muhammadiyah di lima kecamatan, yakni cabang Asembagus, Panji, Situbondo, Wringinanom, Panarukan, dan Besuki. Sementara untuk ranting baru sekitar 20% yang terbentuk. Dari 137 desa/kelurahan, berdiri 26 ranting yang berada di 21 desa/kelurahan, yakni satu ranting di Asembagus, lima ranting di Panji, enam ranting di Situbondo, tiga ranting di Wringinanom, empat ranting di Panarukan, dan satu ranting di Besuki. {11} Kepemimpinan Muhammadiyah Situbondo mengalami proses regenerasi secara lancar sejak 1985.
Halaman 171
Pada periode 1985-1990, dipimpin Saleh Hadi dengan Sekretaris Adi Mulyo. Periode berikutnya (1990-1995), Adi Mulyo tetap sebagai sekretaris tetapi untuk jabatan ketua diserahkan pada Qomari Rosyadi. Pada 1995-2000, Soewarto terpilih sebagai ketua dan Syamsuri sebagai sekretaris.
Sebagian besar personalia pimpinan Muhammadiyah Situbondo adalah para pendatang yang umumnya menetap di Situbondo karena statusnya pegawai negeri, termasuk pada periode 2000-2005. Ketua H. Achmad Zahri, SH dan Wakil Ketua Drs. Munawarab adalah PNS yang berasal dari Lamongan. Pimpinan lain yang aktif, diantaranya Drs. Muhammad Shaleh (sekretaris) dan Djauharul Abidin, SH. (bendahara).
- Kabupaten Bondowoso
Cabang Muhammadiyah Bondowoso periode pertama dipimpin dr. Kusnadi, berkantor di rumahnya, Jl. Dr. Sutomo (sekarang menjadi RS Husada Bakti Bondowoso). Setelah ia pindah ke Jakarta dan kemudian menjadi salah satu anggota pimpinan pusat, jabatan ketua digantikan oleh M. Husein. Pada periode ke-3 ketuanya dijabat Sukarto, berkantor di Jl. A Yani. Selanjutnya secara berturut-turut dipegang Trunojoyo dan Rekso Atmodjo. Pada periode berikutnya, ketua cabang dipegang oleh Sarwaji, dari
Halaman 172
Kecamatan Tenggarang, kemudian Abdur Roja’, lalu diganti Ibnu Hasan dan Bahru. Pada periode Bahru, posisi Sekretaris dipegang oleh Prawoto.
Sebelum masa bakti Prawoto berakhir, tongkat kepemimpinan diserahkan kepada Abdus Salam (sebelum Musyawarah Daerah 1996). Ortom baru tampak ketika pengurusan Aisyiyah dipimpin Ny. Zaibiyah. Kepengurusannya mengalami enam kali pergantian secara berurutan: Ny. Murtinah, Ny. Trunojojoyo, Ny. Ramlah Abd. Rahman/Ny. Abd. Rahman, Ny. Misral, Ny. Ibnu Hasan, dan hingga sekarang ‘Aisyiyah Daerah dipegang oleh Ny. Sahid. Sementara kepengurusan NA dipegang Ny. Sa’diyah/Ny. Nurlaili Wati. Saat itu nama NA terekenal karena terdapatnya kursus menjahit bagi remaja putri yang dibimbing Ny. Dibyo.
Pada periode 1986-1995, status cabang berubah menjadi daerah. Ketika itu yang berkembang pesat adalah cabang Tamanan yang diketuai Daliman, kemudian menurun karena keterbatasan sumber daya manusia. Kini terdapat enam cabang, yakni cabang Bondowoso, Tenggarang, Tamanan, Wonosari, Prajekan dan Cermee. Untuk Kecamatan Klabang, pendidirnnya baru dalam proses penyiapan. Ortomnya meliputi Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, NA, Pandu HW, Tapak Suci Putera Muhammadiyah, dan Ikatan Remaja Muhammadiyah. Pada periode 1995-2000 dan 2000-2005, PDM tetap dipimpin Drs. Abdus Salam.
- Kabupaten Jember
Muhammadiyah Jember berubah status menjadi daerah pada 1967. Secara berturut-turut ketua pimpinan Muhammadiyah Jember sejak Muktamar Palembang dipegang Sekco, KH. Achmad Zainuri, Hakim Malik, H. Achmad Sucipno, H. Bahrudin, dan H. Baharudin Rasyid. Kebanyakan anggota Pimpinan Daerah berasal dari kalangan dosen dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Jember, guru dan juga dari para pengusaha. Dapat dikatakan bahwa pengembangan organisasi merata di setiap kecamatan. Kendala yang dihadapi adalah sikap mayoritas masyarakat Jember yang sulit menerima perubahan.
Pada 1950 berdirilah Ranting Cakru. Empat tahun kemudian berdiri Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Islam, diikuti dengan meluasnya aktivitas Kepanduan HW. Selanjutnya, MTs Al-Islam
Halaman 173
diubah menjadi SMP Muhammadiyah. Pada 1956 Ranting Cakru bergabung dengan Cabang Watu Kebo. Empat tahun kemudian (1960), dengan modal enam ranting di sekitar Cakru terbentuklah Cabang Cakru. Ortomnya ialah Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, NA, IPM dan Tapak Suci Putra Muhammadiyah. {12}
Setahun kemudian, Cabang Wuluwan terbentuk setelah terlebih dahulu diawali dengan pembentukan ranting, yang masih bergabung dengan Cabang Watu Kebo. Setelah berdiri 2 ranting baru, Tanjungrejo dan Ampel, pada 1961 Cabang Wuluwan diresmikan oleh PP Muhammadiyah. {13} Cabang Wuluwan memiliki 13 Ranting dari tujuh desa yang ada, yaitu Ranting Wuluwan, Ampel, Tanjungrejo, Sambiringin, Gawok, Dukuh, Poomo/Grobyog, Tamansari, Kepel, Lojejer, Purwojati, Glundengan dan Kesilir. Aisyiyah, NA, Pemuda Muhammadiyah, IRM, Tapak Suci dan Kepanduan HW terus berkembang. {14} Di antara kadernya adalah Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2000-2005). {15}
Bersamaan dengan itu, Muhammadiyah mulai diperkenalkan di Kalisat (1960) oleh KH. Moh. Fanan dari Jember melalui kegiatan da’wah di desa-desa, di antaranya bertempat di SD Nasional. Dua tahun kemudian (1962), berdirilah Muhammadiyah di Kalisat. {16}
Pertama kali Shalat ‘Id di lapangan diadakan di Lapangan Polri Ajung yang diikuti 16 orang. Peran Moh. Bahayyil sebagai bendahara sangat menentukan perjalanan Muhammadiyah Kalisat saat itu. Selanjutnya faham Muhammadiyah masuk ke Balung. Melalui Joko Santoso, seorang Mantri cacar dari Surabaya, awalnya gerakan ini ditentang masyarakat, dan Muhammadiyah dianggap Kristen halus.
Gagasan-gagasan modern yang disampaikan oleh Joko, KH Fanan dan Achmad Zaenuri lewat pengajian-pengajian dan koperasi ditolak, tetapi kegiatan bakti sosialnya diterima. Secara berangsur, masyarakat mulai menerima secara positif. Akhirnya terbentuk cabang pada 1963, dengan susunan pimpinan: Achmad Kurdi (ketua), Abdul Kohir (wakil ketua), Arba’i, Badrus (sekretaris), A. Markum, Sirat (bendahara), Fajeri, dan M. Fadil (pembantu). {17}
Melalui peran penting Haji Amin, gerakan pembaharuan ini terbentuk di Rowotengah. Ketika masyarakat masih kuat mempertahankan tradisi lama yang berbau syirik, Amin melakukan
Halaman 174
perubahan pola pikir masyarakat. Ia memerintahkan Haji Ali Sadiq, menantunya, untuk berdakwah melalui kegiatan pendidikan. Ali Sadiq bersama Ruba’i, Masduki, Palal, dan Hamim pada tahun 1958 mendirikan SD, dan selanjutnya pada 1965 mendirikan SMP dengan biaya dari zakat, infak dan sadaqah serta sumbangan dana dari murid. Gurunya didatangkan dari Jogjakarta.
Kedatangan mereka kian menambah jamaah dan memperkuat gerakan. Dari mereka pula muncul pemikiran untuk mendirikan Muhammadiyah. Maka pada 1977 berdirilah Ranting Rowotengah, bergabung dengan Cabang Tanggul. Untuk memperluas gerakan, dibentuklah ranting. Diawali dengan penambahan dua ranting pada 17 Juni 1995, maka pada 5 Juli 1996 berdirilah Cabang Rowotengah. {18}
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments