Ada perjalanan yang hanya memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Tetapi ada pula perjalanan yang membawa kita pulang kepada kenangan.
Kamis, 27 Agustus 2026, saya mendapat tugas ke Medan. Di sela kesibukan, tangan saya meraih dawai. Saya membuka kembali nomor-nomor telepon kawan lama.
Nama-nama yang pernah begitu dekat dalam perjalanan organisasi, tetapi karena waktu dan kesibukan, jarang lagi bertemu. Salah satu nama yang saya cari adalah Dr. H. Ihsan Rambe, SE., M.Si.
Mas Ihsan bukan orang baru dalam perjalanan saya. Kami pernah berada dalam satu lorong perjuangan di Pemuda Muhammadiyah. Dia pernah dipercaya memimpin PW Pemuda Muhammadiyah Sumatera Utara, kemudian menjadi Wakil Ketua PWM Sumatera Utara periode 2015–2022.
Pertemuan dengan sahabat lama memang selalu punya cara sendiri untuk menghidupkan masa lalu. Percakapan yang semula sederhana tiba-tiba melebar ke mana-mana. Tentang organisasi. Tentang kepemimpinan. Tentang kawan-kawan seperjuangan. Tentang idealisme yang dahulu begitu berapi-api.
Malam itu kami berkeliling Medan. Kami menikmati Sop Kambing Thamrin. Setelah itu, obrolan berlanjut di Champion Cafe. Musik Batak mengalun secara langsung. Bersama kami ada Ridho Lubis, sahabat dari KAHMI Medan.
Di tengah nostalgia, lahirlah sebuah rencana kecil. “Besok kita lihat tempat Muktamar.”
Bukan sekadar melihat gedung. Kami ingin melihat dari dekat sebuah proyek besar yang sedang dikebut untuk menyambut perhelatan penting Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Jumat, 28 Agustus. Selepas salat Jumat, kami berangkat dari Hotel Aryaduta menuju kawasan Kampus 4 Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Perjalanan sekitar 45 menit.
Sebelum menuju lokasi pembangunan gedung Muktamar, saya mampir ke Kampus 2 UMSU. Ada rasa ingin tahu yang sulit ditahan. Saya ingin melihat bagaimana salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di Sumatera Utara ini tumbuh.
UMSU kini memiliki sekitar 24 ribu mahasiswa. Angka itu bagi saya bukan sekadar statistik.
Di sana saya melihat salah satu wajah Muhammadiyah hari ini: gerakan yang tidak berhenti pada dakwah di mimbar dan masjid, tetapi juga membangun sekolah, universitas, pusat riset, rumah sakit, dan berbagai ruang pengembangan sumber daya manusia.
Muhammadiyah tumbuh melalui ilmu. Dan kampus adalah salah satu ladang terbesarnya.
Sekitar pukul 16.00 WIB, kami tiba di kawasan Kampus 4 UMSU. Dari pintu gerbang, suasana pembangunan langsung terasa.
Kami disambut jajaran sekuriti. Dengan ramah, mereka mengantar kami berkeliling. Debu pembangunan, suara aktivitas pekerja, material bangunan, dan struktur gedung yang sedang dikebut menjadi pemandangan sore itu. Saya berdiri cukup lama di depan sebuah bangunan.
Inilah Gedung Muktamar Muhammadiyah. Pembangunannya telah memasuki tahap pemasangan atap. Struktur utama mulai memperlihatkan bentuknya.
Dari kejauhan, bangunan itu perlahan mulai menjawab pertanyaan yang mungkin ada di benak banyak orang: seperti apa kelak tempat para peserta Muktamar Muhammadiyah berkumpul?
Di seberangnya berdiri Gedung Muktamar Aisyiyah. Bangunan ini tampak lebih maju. Atap telah terpasang. Di bagian kanan belakang, paving mulai ditata. Beberapa pohon mulai menghijaukan kawasan.
Belum selesai memang. Tetapi justru karena belum selesai, saya bisa melihat denyut sebuah proses.
Pembangunan secara keseluruhan baru sekitar 70 persen. Namun bentuk dan wajah bangunannya sudah mulai terlihat.
Yang paling menarik perhatian saya bukan semata-mata beton, atap, atau arsitektur gedung. Melainkan manusia-manusia yang berada di baliknya.
Para pekerja terus berpacu dengan waktu. Pekerjaan dilakukan siang dan malam. Mereka seperti sedang berkejaran dengan kalender. November semakin dekat. Dan Muktamar tidak mungkin menunggu.
Di antara dua gedung itu, sebuah masjid juga sedang dibangun. Saya memandangnya dengan perasaan berbeda.
Sebab masjid bukan sekadar bangunan pelengkap. Ia kelak menjadi bagian dari kehidupan kawasan kampus dan dakwah Muhammadiyah.
Dari situ saya mulai melihat keseluruhan proyek ini dengan cara yang berbeda. Ini bukan sekadar proyek konstruksi. Ini adalah pembangunan sebuah ruang sejarah.
Gedung memang akan menjadi tempat persidangan. Tetapi yang berlangsung di dalamnya kelak bukan sekadar rapat.
Akan ada gagasan. Akan ada perdebatan. Akan ada evaluasi. Akan ada keputusan. Akan ada pertemuan ribuan manusia yang datang dari berbagai penjuru Indonesia dengan satu identitas besar: Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Muktamar bagi Muhammadiyah bukan sekadar agenda lima tahunan.
Di sanalah organisasi membaca perubahan zaman. Menengok perjalanan yang telah ditempuh. Mengoreksi kekurangan. Menyusun agenda baru. Kemudian menentukan ke mana langkah Persyarikatan harus diarahkan.
Karena itu, gedung ini kelak bukan hanya tempat orang duduk dan bersidang. Ia akan menjadi saksi. Saksi lahirnya gagasan. Saksi lahirnya keputusan. Saksi bertemunya kader-kader dari berbagai daerah.
Dan mungkin, saksi lahirnya keputusan-keputusan yang pengaruhnya jauh lebih panjang daripada usia bangunannya sendiri.
Ada hal lain yang membuat perjalanan sore itu terasa istimewa bagi saya. Saya kembali bertemu dengan masa lalu. Saya dan Mas Ihsan Rambe dahulu sama-sama belajar di Pemuda Muhammadiyah.
Organisasi mengajarkan banyak hal kepada kami. Kami belajar memimpin. Belajar berdebat. Belajar menerima perbedaan. Belajar menghadapi dinamika.
Dan, yang paling penting, belajar bahwa membangun organisasi tidak pernah bisa dilakukan secara instan. Butuh waktu. Butuh kesabaran. Butuh ketulusan.
Puluhan tahun kemudian, kami bertemu lagi. Tetapi kali ini bukan untuk membicarakan bagaimana membuat sebuah gerakan. Kami sedang melihat sebuah gerakan membangun rumahnya.

Saya tersenyum sendiri memikirkan perjalanan itu. Dulu kami masih muda. Banyak gagasan. Banyak mimpi. Banyak energi.
Kini rambut mungkin sudah tak lagi sehitam dulu. Kesibukan dan tanggung jawab telah membawa kami ke jalan pengabdian masing-masing.
Namun ketika berbicara tentang Muhammadiyah, rasanya ada sesuatu yang tidak berubah. Semangat itu masih ada. Persaudaraan itu masih terasa. Dan cita-cita itu masih hidup.
Muhammadiyah telah melewati perjalanan sejarah yang panjang. Dakwahnya menjelajah banyak ruang: pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, pemberdayaan masyarakat, hingga kemanusiaan.
Gedung-gedung baru terus tumbuh. Tetapi saya kembali diingatkan bahwa gedung hanyalah instrumen. Beton tidak memiliki makna tanpa manusia yang menghidupinya. Atap tidak memiliki arti tanpa gagasan yang berlangsung di bawahnya.
Ruang persidangan menjadi penting karena di sanalah orang-orang memikirkan masa depan. Begitu pula gedung Muktamar yang sedang dibangun di Kampus 4 UMSU ini. Ia mungkin akan tampak megah ketika selesai. Tetapi kemegahan sesungguhnya bukan terletak pada tinggi bangunan atau luas ruangannya.
Kemegahan itu akan lahir dari gagasan yang diputuskan di dalamnya dan amal yang kemudian dikerjakan setelah Muktamar usai.
Ketika meninggalkan kawasan pembangunan, saya kembali menoleh. Dua gedung itu masih belum sempurna. Masih ada pekerjaan. Masih ada bagian yang harus dirapikan. Masih ada kawasan yang perlu ditata.
Namun sore itu saya justru melihat optimisme dari sesuatu yang belum selesai. Para pekerja terus bekerja. Sekuriti menjaga kawasan. Pengelola kampus memastikan pembangunan berjalan. Dan waktu terus bergerak menuju November.
Saya membayangkan beberapa bulan lagi. Kawasan yang sore itu masih dipenuhi aktivitas pembangunan akan berubah menjadi ruang yang ramai.
Ribuan peserta dan tamu datang. Salam bersahutan. Kader-kader bertemu. Persidangan berlangsung. Gagasan dipertukarkan. Kemudian keputusan lahir. Dan sejarah bergerak lagi.
Saya berharap Gedung Muktamar Muhammadiyah, Gedung Muktamar Aisyiyah, serta masjid yang berada di antara keduanya dapat selesai sesuai target. Lebih dari itu, saya berharap bangunan-bangunan ini tidak berhenti sebagai monumen.
Semoga ia menjadi rumah bagi gagasan-gagasan besar. Menjadi ruang bagi persaudaraan. Menjadi tempat lahirnya keputusan-keputusan terbaik.
Dan menjadi salah satu titik penting bagi Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk terus bergerak: tumbuh, maju, dan memberi manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Dalam perjalanan pulang sore itu, saya membawa satu kesan yang sederhana. Sebuah bangunan memang bisa menjadi simbol. Tetapi bangunan baru benar-benar hidup ketika di dalamnya ada gagasan, persaudaraan, dan amal.
Dan saya berharap, dari Medan nanti, lahir energi baru untuk perjalanan panjang Muhammadiyah dan Aisyiyah. Sebab yang sedang dibangun di sana bukan hanya gedung. Yang sedang dibangun adalah ruang untuk masa depan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments