Jombang tidak sedang menjadi milik NU saja. Hari-hari ini, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas dipenuhi muktamirin. Mereka datang dari berbagai penjuru. Membawa gagasan. Membawa harapan. Membawa masa depan organisasi.
Tetapi ada pemandangan lain. Sekitar 500 meter dari lokasi pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, berdiri sebuah posko. Namanya Posko Muhammadiyah.
Di sana ada bakso. Ada mi telur rebus. Ada layanan kesehatan. Semuanya gratis. Siapa saja boleh datang. Tidak perlu bertanya: NU atau Muhammadiyah?
Layani dulu. Begitulah cara sederhana persaudaraan bekerja.
Kamis (27/8/2026), Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir datang ke posko itu. Dia tidak datang untuk berpidato panjang. Dia makan bakso. Bakso daging sapi.
Haedar mencicipinya pelan-pelan. Kuahnya hangat. Rasanya gurih. Segar. Rasa dagingnya dominan.
“Rasanya sangat layak untuk dinikmati, saya merasa cocok dengan rasanya. Perlu ditambah bakmi,” kata Haedar.
Kalimat sederhana. Tetapi suasananya tidak sederhana. Ada pesan yang lebih besar di balik semangkuk bakso itu.
Muhammadiyah sedang bertamu ke rumah NU. Bukan sekadar bertamu. Ikut melayani. Ikut memastikan para muktamirin nyaman. Ikut menjaga kesehatan. Dan, yang paling penting, ikut merawat persaudaraan.
***
Haedar tidak datang sendirian. Ada Sekretaris Umum PP Muhammadiyah yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu’ti. Ada pula Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM.
Mereka hadir di tengah perhelatan besar NU. Lalu berkunjung ke Posko Muhammadiyah.
Posko itu didirikan keluarga besar Muhammadiyah Kabupaten Jombang. Tujuannya sederhana. Melayani. Muktamirin NU yang membutuhkan makanan bisa datang. Masyarakat umum juga boleh. Yang membutuhkan layanan kesehatan juga dilayani.
Panitia bahkan menyiapkan 10.000 porsi bakso dan mi telur rebus. Gratis. Sepuluh ribu porsi. Angka yang besar. Tetapi sebenarnya bukan jumlah itu yang paling penting.

Yang penting adalah pesan di baliknya. Bahwa persaudaraan tidak selalu harus dimulai dengan seminar. Tidak harus dengan panggung. Tidak harus dengan spanduk besar.
Kadang cukup dengan semangkuk bakso. Dengan segelas air. Dengan tenaga kesehatan yang siap membantu. Dengan tangan yang mau melayani.
***
Almarhum KH Hasyim Muzadi pernah menggambarkan hubungan NU dan Muhammadiyah dengan sangat sederhana. Seperti sepasang sandal. Harus bersama. Kalau hanya satu yang dipakai, perjalanan menjadi tidak nyaman.
Gambaran itu terasa semakin relevan hari ini. NU dan Muhammadiyah memang berbeda. Sejarahnya berbeda. Tradisinya berbeda. Cara membaca sebagian persoalan keagamaan juga berbeda.Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih besar yang menyatukan. Keduanya sama-sama ingin melihat umat menjadi kuat. Sama-sama ingin pendidikan maju.
Sama-sama ingin masyarakat berdaya. Sama-sama ingin kemiskinan berkurang. Sama-sama ingin bangsa ini memiliki masa depan.
Maka, untuk apa terus sibuk mencari perbedaan? Perbedaan tetap ada. Biarkan. Ia bagian dari kekayaan umat.
Yang tidak boleh hilang adalah persaudaraan. Sebab bangsa sebesar Indonesia tidak mungkin dibangun dengan satu kelompok saja. Apalagi oleh ego masing-masing.
***
Persaudaraan akan kehilangan makna kalau berhenti pada foto bersama. Ia harus turun ke jalan. Masuk ke kampung. Menyentuh sekolah. Menyentuh pesantren. Menyentuh petani. Menyentuh nelayan. Menyentuh pelaku usaha kecil.
Menyentuh anak-anak yang putus sekolah. Menyentuh keluarga yang kesulitan mendapatkan layanan kesehatan.nDi situlah NU dan Muhammadiyah sebenarnya mempunyai ruang kolaborasi yang sangat luas.
Bayangkan jika kekuatan keduanya disatukan. Jaringan pesantren bertemu dengan jaringan sekolah.
Rumah sakit bertemu dengan klinik dan layanan kesehatan masyarakat. Lembaga zakat bertemu dengan gerakan pemberdayaan ekonomi. Perguruan tinggi bertemu dengan pesantren.
Pemuda NU bertemu pemuda Muhammadiyah. Saling belajar. Saling menguatkan. Tidak harus melebur menjadi satu. Cukup bekerja bersama pada titik-titik yang sama. Sebab masalah bangsa tidak mengenal label organisasi.
Kemiskinan tidak bertanya seseorang NU atau Muhammadiyah. Banjir tidak memilih korban berdasarkan organisasi.
Anak yang sakit tidak membutuhkan identitas ormas sebelum mendapatkan pertolongan. Pengangguran juga tidak mengenal batas tradisi. Maka kerja sama pun seharusnya melampaui batas-batas itu. Menyentuh Akar
Indonesia hari ini membutuhkan lebih banyak kerja nyata. Bukan sekadar kesepakatan. Bukan sekadar jargon. Masyarakat membutuhkan lapangan kerja.
Anak-anak membutuhkan pendidikan bermutu. Keluarga miskin membutuhkan akses kesehatan. Petani membutuhkan pasar. Pelaku UMKM membutuhkan pembiayaan dan pendampingan. Anak muda membutuhkan keterampilan. Desa membutuhkan penguatan ekonomi.
Semua itu tidak selesai dengan pidato. Harus ada program. Harus ada orang yang bekerja. Harus ada lembaga yang mau berbagi sumber daya. Di sinilah kekuatan NU dan Muhammadiyah bisa menjadi sangat besar.
Masing-masing memiliki jaringan. Masing-masing memiliki sumber daya manusia. Masing-masing memiliki lembaga pendidikan. Masing-masing memiliki pengalaman panjang dalam melayani masyarakat.
Tinggal satu hal. Mau duduk bersama. Lalu bertanya: Apa yang bisa kita kerjakan bersama? Bukan: Apa yang membedakan kita?
****
Haedar melihat Posko Muhammadiyah bukan sekadar tempat membagikan makanan. Dia melihatnya sebagai ruang silaturahmi. Ruang persaudaraan.
“Dengan pelayanan ini kita merajut silaturahmi, sekaligus mendukung kesuksesan pelaksanaan Muktamar dari saudara-saudara kita NU,” kata Haedar.
Lalu ia menyampaikan pesan yang sangat Muhammadiyah. “Sukses selalu, semangat selalu, dan inilah Muhammadiyah, selalu melayani dan berukhuwah dengan siapa saja.”
Kalimat itu terasa tepat di Jombang. Sebab ukhuwah memang tidak cukup diucapkan. Dia harus dilayani. Harus diberi makan. Harus dijaga kesehatannya. Harus ditemani ketika membutuhkan. Dan harus dibuktikan dalam kerja bersama.
Haedar juga berharap Muktamar ke-35 NU berjalan lancar. Bukan hanya menghasilkan keputusan yang maslahat bagi NU. Tetapi juga bagi umat. Bagi bangsa. Bahkan bagi ranah global.
Ada alasan untuk berharap. NU memiliki pengalaman panjang dalam merawat ukhuwah. Muktamar adalah momentum untuk memperluasnya. Bukan hanya ukhuwah internal.
Tetapi ukhuwah yang melintas. Melintas organisasi. Melintas kelompok.Melintas perbedaan.
***
Kita sering membicarakan Indonesia sebagai bangsa besar. Memang besar. Tetapi bangsa besar menghadapi masalah besar pula. Kemiskinan. Kesenjangan. Krisis pendidikan. Pengangguran. Perubahan teknologi. Ancaman lingkungan. Disrupsi sosial.
Tidak mungkin semua itu diselesaikan sendirian. NU tidak harus menjadi Muhammadiyah. Muhammadiyah juga tidak perlu menjadi NU. Keduanya cukup menjadi dirinya sendiri.
Tetapi ketika ada kepentingan umat dan bangsa, keduanya bisa berjalan beriringan. Seperti sandal. Kanan tetap kanan. Kiri tetap kiri. Tidak perlu bertukar posisi.

Yang penting berjalan bersama. Sebab satu sandal saja tidak cukup untuk menempuh perjalanan jauh.
Mungkin itulah makna paling dalam dari Posko Muhammadiyah di tengah Muktamar NU. Tidak ada yang kehilangan identitas. Tidak ada yang harus menjadi sama.
Yang ada adalah saling menguatkan. Semangkuk bakso mungkin tampak sederhana.
Sepuluh ribu porsi juga mungkin akan habis dalam beberapa hari. Tetapi pesan yang ditinggalkannya jauh lebih panjang. Bahwa persaudaraan bisa dimulai dari hal kecil. Dari melayani. Dari memberi. Dari hadir. Dan dari kesediaan mengatakan: Rumahmu adalah rumah saudaraku.
Haedar menutup pesannya dengan sebuah ajakan. “Mari bareng-bareng NU, Muhammadiyah, dan seluruh komponen bangsa menjadi pilar yang memajukan Indonesia.”
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi Indonesia memang membutuhkan yang sederhana seperti itu. Tidak selalu perlu sepakat dalam segala hal. Cukup sepakat bahwa umat harus kuat. Bangsa harus maju. Dan persaudaraan harus tetap hidup.
Karena perjalanan Indonesia masih panjang. Dan perjalanan panjang akan lebih ringan jika sandal kanan dan kiri mau berjalan bersama. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments