Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Prof Muhadjir Effendy Ungkap Strategi Kemandirian Ekonomi Muhammadiyah dari Daerah

Iklan Landscape Smamda
Prof Muhadjir Effendy Ungkap Strategi Kemandirian Ekonomi Muhammadiyah dari Daerah
Prof Muhadjir Effendy dalam acara Silaturahmi dan Regional Meeting Muhammadiyah se-Sumatera (Foto: Nas/PWMU.CO)
pwmu.co -

Topik tentang kemandirian ekonomi Muhammadiyah menjadi perhatian menarik dalam diskusi yang menghadirkan Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr Muhadjir Effendy, MAP di Bukit Tinggi, Sabtu (20/9/2026). Hadir bersama sekretaris PP Muhammadiyah Izzul Muslimin, Muhadjir memaparkan strategi ekonomi di hadapan para ketua dan perwakilan sembilan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) se-Sumatera.

Dalam diskusi mengemuka, audit keuangan di Muhammadiyah sangat ketat sehingga terkesan lebih ketat daripada audit di pemerintahan. Hal ini menjadikan pimpinan wilayah atau daerah maupun amal usaha Muhammadiyah ekstra hati-hati dalam mengelola keuangan persyarikatan.

Meski demikian, Muhadjir meyakinkan agar wilayah atau daerah tidak takut membuat terobosan. Yang penting harus memiliki perhitungan risiko matang, atau yang disebut risk appetite dalam berbisnis.

“Muhammadiyah bukan pemilik modal besar untuk membuat perusahaan berjejaring dari pusat hingga ke daerah-daerah. Kemandirian ekonomi Muhammadiyah justru tumbuh melalui inisiatif dari bawah yang kemudian berjejaring secara nasional,” kata Muhadjir dalam agenda bertajuk Silaturahmi dan Regional Meeting Muhammadiyah se-Sumatera itu.

Lebih lanjut, Muhadjir memaparkan justru karakter itulah yang menjadi kekuatan Muhammadiyah. Ormas ini bertahan lebih dari seratus tahun tak lepas dari pilihan strategi KH Dahlan dalam berdakwah yang memilih terobosan yang berani dan berbeda di saat tokoh lain tidak melakukannya, yakni bersikap kooperatif dengan pemerintah Hindia Belanda. Misalnya dia menjadi guru agama di sekolah Belanda. Pengalamannya itulah yang digunakan untuk membangun sekolah maupun rumah sakit Muhammadiyah yang inklusif

Selain memiliki DNA dakwah, kata Muhadjir, Muhammadiyah juga memiliki DNA ekonomi. Dalam bidang dakwah anak KH Ahmad Dahlan, Irfan Dahlan, dikirim ke India untuk belajar di Lahore. Ia kemudian menetap di Thailand untuk berdakwah di sana.

Sedangkan di bidang ekonomi, KH Dahlan sendiri merupakan saudagar batik di masanya. Selain itu anak Kyai Dahlan dari  Ibu RA Sutidjah Widyaningrum bernama Raden Haji Dhuri dikirim ke Prancis dan dititipkan kepada seorang pastor. Di sana dia belajar senin musik dan berbisnis.

“Saat pulang Raden Dhuri membangun pabrik sarung untuk diekspor dan dealer sepeda, lalu sempat menjadi bendahara Hoofdbestuur Muhammadiyah pada masa kepemimpinan KH Mas Mansur. Kyai Mas Mansur ingin agar Dhuri menulari kemandirian ekonomi melalui tradisi saudagar pada Muhammadiyah,” terangnya.

Pada Muktamar Muhammadiyah ke-46 di Makassar, Muhammadiyah meletakkan ekonomi sebagai pilar ke-3. Namun pilar ini memang diakuinya masih kurang terlihat dibanding dengan pendidikan dan pelayanan kesehatan dan sosial. Hal ini juga menjadi kritik Ketua PWM Sumatera Utara, Prof. Hasyimsah Nasution. Menurutnya, kemandirian ekonomi di Muhammadiyah belum interkoneksi dengan banyak aspek lainnya. “Majelis ekonomi masih banyak diisi dosen ekonomi bukan pengusaha atau pelaku ekonomi, jadi lebih banyak berdiskusi.

Padahal menurutnya, jika ada social engineering harusnya juga ada economical engineering dari Muhammadiyah. “Wilayah jangan cerita masalah-masalah tetapi ada prioritas berdasarkan terobosan yang ada di PP,” katanya.

SMPM 5 Pucang SBY

Dibenarkan Muhadjir, karakter Muhammadiyah memang tumbuh dari bawah. Hal ini berbeda dengan pendekatan ekonomi yang dimiliki konglomerat yang bisa langsung membangun jaringan bisnis besar dan menjual sahamnya ke publik.

“Muhammadiyah harus bisa mengukur risk appetite. Muhammadiyah bisa berumur sangat panjang salah satunya karena kehati-hatiannya. Ia lebih mirip marathon alih-alih sprint. Ia tau kapan mempercepat lari, kapan mengambil nafas, dan mengatur ritme agar mencapai tujuan dengan tepat. Bukan lari untuk cepat sampai tetapi jaraknya pendek,” ungkap Muhadjir.

Begitu juga dalam membangun kemandirian ekonomi. Muhadjir menceritakan pengalaman menjadi rektor UMM, di mana bisnis yang berkaitan langsung dengan kampusnya lebih realistis untuk mendukung finansial. Pilihan sektor riil lebih tepat mengingat Muhammadiyah yang memiliki ratusan rumah sakit, puluhan ribu sekolah dan ratusan kampus dapat dikapitalisasi menjadi ekosistem ekonomi yang tumbuh dan berkembang.

Membangun pabrik infus, dicontohkan Muhadjir, adalah salah satunya untuk memenuhi kebutuhan RS Muhammadiyah. Dalam setahun kebutuhan infus mencapai 16 hingga 18 juta botol, jika 10 hingga 40% saja bisa dipenuhi dari produk sendiri, itu sudah sangat bagus. Ke depan perlu juga dikembangkan untuk membangun pabrik jarum suntik, kapas dan perban.

Pilihan lainnya adalah bisnis di bidang ritel. Menurut Muhadjir, UMKM yang sudah mulai berkembang di kalangan Muhammadiyah perlu masuk ke dalam jejaring bisnis ritel. Sebab sebaik apapun produk UMKM jika packaging dan jejaring penjualannya masih konvensional tentu masih mengalami kesulitan berkembang. “Itulah sebabnya, daerah-daerah harus bisa memunculkan terobosan-terobosan yang kemudian berjejaring satu sama lain,” ungkapnya.

Dalam diskusi juga mengemuka tentang kekayaan Muhammadiyah yang dinilai sangat besar oleh publik. Ketua PWM Jambi Suhaimi Chan mengatakan Muhammadiyah terbebani sebagai ormas dengan kekayaan 4 triliun Rupiah, sehingga ketika mengajukan proposal bantuan ditolak karena dianggap sudah kaya. “Padahal kekayaan Muhammadiyah adalah aset atau valuasi, bukan liquid, hal ini harus dicari solusinya agar tidak menjadi beban tetapi menjadi modal kepercayaan atau trust,” harapnya.

Muhadjir yang juga Penasehat Khusus Presiden Bidang Haji mengapresiasi PWM Sumatera Barat yang menginisiasi acara. Menurutnya pertemuan semacam ini dapat memperpendek rentang kendali “Bagus juga kalau bisa diterapkan di regional lain seperti Kalimantan, Sulawesi, atau regional barat, tengah, timur,” katanya.

Ketua PWM Sumatera Barat, Dr Bahtiar, mengatakan acara ini dimaksudkan sebagai forum strategis untuk mempertemukan pimpinan Muhammadiyah dari sepuluh provinsi di Sumatera, berbagi pengalaman dan praktik baik, memetakan sumber daya, serta merumuskan agenda kolaborasi bersama. Selain itu, juga untuk membangun komitmen bersama untuk menyemarakkan dan menyukseskan Muktamar ke-49 di Medan tahun depan.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 20/09/2026 20:41
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu