Jauh sebelum presentasi dengan layar menjadi bagian dari rapat dan seminar, Muhammadiyah telah mengawalinya. Dalam kongres yang ke-15, sekarang namanya berganti menjadi Muktamar, Muhammadiyah pada 1926 menggunakan teknologi proyeksi.
Surabaya, 2 Maret 1926. Malam telah turun ketika sekitar 1.000 orang memenuhi Stadstuin-Theater. Di antara mereka terdapat anggota kepanduan dan kaum perempuan. Tempat itu menjadi lokasi lanjutan Muktamar Muhammadiyah yang tengah berlangsung di Surabaya, 25 Februari – 3 Maret 1926.
Tepat pukul 20.00 malam, ketua sidang yang sekaligus Ketua (Umum) Pengurus Besar –sekarang Pimpinan Pusat/PP– Muhammadiyah, Haji Ibrahim, membuka rapat. Setelah doa pembukaan, agenda berlanjut pada ceramah yang disampaikan E. Raneft. Topiknya adalah kepanduan dan hubungannya dengan pendidikan generasi muda.
Bagi Muhammadiyah, tema kepanduan ini bukan perkara kecil. Sejak awal pertumbuhannya, pendidikan merupakan salah satu medan utama gerakan. Muhammadiyah tidak hanya mendirikan sekolah, tetapi juga berusaha membangun model pendidikan yang memadukan pengetahuan umum, pendidikan agama, kedisiplinan, dan pembentukan karakter.
Karena itu, pembicaraan mengenai kepanduan memiliki tempat tersendiri. Gerakan kepanduan dianggap dapat menjadi sarana pendidikan kaum muda di luar ruang kelas—membentuk kedisiplinan, keberanian, kemandirian, kerja sama, dan rasa tanggung jawab.
Namun malam itu ada sesuatu yang membuat ceramah Raneft lebih menarik. Ia menggunakan gambar-gambar proyeksi. Dengan kata lain, hampir satu abad sebelum istilah PowerPoint presentation menjadi bagian dari kehidupan perkantoran dan pendidikan, forum Muhammadiyah telah mengenal presentasi yang menggabungkan ceramah dengan visual.
Sekitar 1.000 orang menyaksikan ceramah kepanduan yang dilengkapi gambar-gambar proyeksi. Teknologi itu bukan sekadar hiburan. Tetapi menjadi bagian dari cara Muhammadiyah menyampaikan gagasan pendidikan modern.
Sebagai pengantar, Raneft terlebih dahulu membawa peserta menelusuri sejarah kepanduan. Ia menjelaskan gerakan yang didirikan Robert Baden-Powell, perwira Inggris yang kemudian dikenal sebagai pendiri gerakan kepanduan dunia. Buku Scouting for Boys yang terbit pada 1908 menjadi salah satu tonggak penting perkembangan kepanduan modern.
Gerakan itu kemudian berkembang cepat dan melampaui Inggris. Kepanduan tidak lagi hanya menjadi aktivitas yang berhubungan dengan latihan fisik atau kegiatan luar ruang, tetapi berkembang menjadi metode pendidikan kaum muda.
Gagasan tersebut menemukan tempat di Hindia Belanda. Organisasi kepanduan bermunculan di kalangan masyarakat bumiputra. Muhammadiyah sendiri kemudian mengembangkan kepanduan Hizbul Wathan, yang didirikan pada 1918 dan menjadi salah satu instrumen pendidikan kader serta pembentukan karakter generasi muda Muhammadiyah.
Dalam ceramahnya, Raneft mendorong agar kepanduan bumiputra berhubungan dengan gerakan kepanduan internasional. Ia menyarankan para pandu bumiputra bergabung dengan organisasi internasional Boy Scouts.
Dorongan itu menunjukkan satu hal: pada masa tersebut, kepanduan dipandang sebagai gerakan yang melampaui batas lokal. Ada jaringan, standar, metode pendidikan, dan model kepemimpinan yang berkembang secara internasional.
Ketika Ceramah Membutuhkan Layar
Di sinilah penggunaan proyektor menjadi menarik. Sumber laporan kongres mencatat bahwa ceramah Raneft diperjelas dengan penayangan gambar-gambar. Gambar itu diproyeksikan sehingga dapat dilihat bersama oleh peserta kongres.
Teknologi semacam ini pada 1926 bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh. Proyeksi gambar telah dikenal sejak akhir abad ke-19 dan digunakan dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, propaganda, serta hiburan. Bioskop juga mulai berkembang di Hindia Belanda sejak awal abad ke-20. Namun, membawa perangkat visual ke sebuah forum organisasi keagamaan adalah kemajuan luar biasa. Ini menunjukkan kemampuan Muhammadiyah memanfaatkan teknologi komunikasi yang tersedia pada zamannya.
Apalagi jumlah peserta mencapai sekitar 1.000 orang. Dalam forum sebesar itu, ceramah lisan memiliki keterbatasan. Gambar memungkinkan pembicara menjelaskan sesuatu secara lebih konkret kepada audiens yang besar. Peserta tidak hanya mendengar uraian tentang kepanduan, tetapi juga melihat materi yang sedang dijelaskan.
Dengan demikian, penggunaan proyektor dapat dibaca sebagai bagian dari strategi komunikasi modern Muhammadiyah. Modernitas Muhammadiyah tidak berhenti pada pendirian sekolah atau penggunaan metode pendidikan baru. Ia juga tampak dalam cara organisasi menyampaikan pengetahuan kepada publik.
Ada upaya membuat forum menjadi lebih efektif, informatif, dan menarik. Rapat yang berlangsung empat jam. Ceramah Raneft ternyata bukan presentasi singkat.
Pukul 22.00, pembicaraan dihentikan sementara untuk memberi kesempatan peserta beristirahat. Namun agenda belum selesai. Setelah jeda, ceramah dilanjutkan hingga sekitar tengah malam. Sekitar empat jam digunakan untuk membicarakan kepanduan.
Durasi tersebut menunjukkan besarnya perhatian yang diberikan kepada persoalan pendidikan generasi muda. Kepanduan tidak ditempatkan sebagai kegiatan tambahan yang bersifat rekreatif. Melainkan sebagai bagian dari pembentukan manusia dan masyarakat.
Bagi Muhammadiyah, perhatian terhadap generasi muda juga memiliki dimensi strategis. Organisasi yang lahir di Yogyakarta pada 1912 itu sedang berkembang menjadi salah satu organisasi Islam modern terbesar di Hindia Belanda. Sekolah, rumah sakit, kegiatan sosial, penerbitan, tabligh, dan kepanduan menjadi perangkat untuk membangun masyarakat Muslim yang berpendidikan dan terorganisasi.
Dalam konteks itu, kepanduan menjadi laboratorium pembentukan kader. Anak-anak muda tidak cukup hanya diajarkan pengetahuan. Mereka juga perlu dilatih untuk bekerja sama, memimpin, mengambil keputusan, dan memiliki disiplin.
Peristiwa di Stadstuin-Theater pada malam 2 Maret 1926 memberi gambaran lain mengenai karakter Muhammadiyah pada masa awal.
Sering kali modernitas Muhammadiyah hanya dipahami melalui sekolah atau pembaruan pemikiran Islam. Padahal, modernitas juga tampak dalam praktik sehari-hari organisasi: bagaimana rapat diselenggarakan, bagaimana pengetahuan disebarkan, bagaimana teknologi digunakan, dan bagaimana organisasi berhubungan dengan perkembangan dunia internasional.
Proyektor yang digunakan dalam ceramah Raneft menjadi salah satu jejak kecil dari proses tersebut. Teknologi bukan tujuan. Ia adalah alat. Malam itu, alat tersebut digunakan untuk membicarakan kepanduan, pendidikan, dan masa depan generasi muda bumiputra.
Hampir satu abad kemudian, pemandangan itu terasa akrab: seorang pembicara berdiri di depan audiens besar, menjelaskan materi sambil menampilkan gambar di layar. Tetapi prinsipnya sama: gagasan akan lebih mudah dipahami ketika kata-kata bertemu dengan gambar.
Dan pada 1926, Muhammadiyah sudah melakukannya.





0 Tanggapan
Empty Comments