PIMDA 072 Tapak Suci Putera Muhammadiyah Kota Probolinggo bersama Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Probolinggo menggelar Pembinaan dan Pengembangan Tapak Suci di Aula Lantai 2 Kantor PDM Kota Probolinggo, Selasa (22/9/2026).
Mengusung tema “Membentuk Pesilat Tangguh, Berkarakter dan Berprestasi”, kegiatan ini diikuti para pendekar, kader Tapak Suci, pembina cabang, pembina Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Institut Ahmad Dahlan Probolinggo, atlet, pelatih, manajer serta official.
Ketua PDM Kota Probolinggo, Drs. Muhammad Dawam Ichsan, M.Si., berpesan agar pesilat Tapak Suci menjadi atlet berkualitas dan sportif karena membawa nama baik Muhammadiyah.
“Lebih baik kalah terhormat daripada menang karena curang,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa sebagai Ortom Muhammadiyah, Tapak Suci harus menjunjung sportivitas dan menaati aturan dalam setiap pertandingan.
Estafet Kaderisasi
Sekretaris PDM sekaligus Sekretaris PIMDA 072 Tapak Suci Kota Probolinggo, Samsul Arifin, M.Pd., Pendekar Kepala (P.Ka), berbagi pengalaman panjangnya sebagai pelatih sejak 1990-an hingga kini.
Menurutnya, tongkat estafet kepelatihan perlu mulai diberikan kepada generasi berikutnya yang sebelumnya telah ditempa sebagai atlet, kader organisasi, maupun kader dakwah.
“Di Tapak Suci, kader dikembangkan melalui tiga jalur, yaitu kader calon atlet, kader organisasi, dan kader dakwah,” jelasnya.
Ia berpesan, di mana pun kader Tapak Suci melanjutkan pendidikan, bekerja, atau berpindah tempat, semangat mengembangkan Tapak Suci Putera Muhammadiyah harus tetap dibawa.
“Jadilah kader persyarikatan yang memberikan kemanfaatan bagi sesama,” pesannya.
Jangan Puas dengan Porsi Latihan
Wakil Ketua PDM Kota Probolinggo, Muhammad Erfan Riyadi, S.H., M.Pd., yang juga pernah menjadi atlet nasional, mengaku kembali bergairah ketika melihat generasi muda mengenakan seragam Tapak Suci.
Ia membagikan dua kiat kepada para atlet. Pertama, jangan hanya memenuhi porsi latihan yang diberikan pelatih, tetapi berusahalah melampauinya. Jika diminta 20 kali push-up, misalnya, ia membiasakan diri melakukan 25 kali.
Kedua, belajar dari atlet berprestasi dengan mengamati dan meniru teknik mereka secara positif. Ia mengenang pengalamannya ketika belajar dari teknik para pesilat berprestasi, termasuk Pendekar Sunarpi.
Pengalaman panjang tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa Tapak Suci tidak hanya membentuk kemampuan bertanding, tetapi juga membentuk pribadi dan kader persyarikatan.
Sementara itu, Drs. Luqman Hakim, M.M., Bendahara PDM Kota Probolinggo, yang juga pernah menjadi atlet sepak bola, menekankan pentingnya kekuatan fisik dan mental bagi seorang atlet.
Wakil Ketua PDM Kota Probolinggo, Drs. Sugi Sulaiman, mengingatkan agar pesilat Tapak Suci senantiasa menampilkan akhlaqul karimah di mana pun dan kapan pun. Hal-hal sederhana seperti makan dan minum dengan tangan kanan serta tidak sambil berdiri, menurutnya, juga bagian dari pembentukan karakter.
Motivasi tersebut semakin kuat karena ketiga putra-putrinya pernah menjadi atlet Tapak Suci dan menorehkan prestasi.
Sementara itu, Drs. Kris Hananto menekankan dua hal kepada para atlet: percaya diri untuk menjadi juara dan mampu mengendalikan emosi saat bertanding.
Menurutnya, emosi yang terkendali akan membantu atlet lebih fokus dalam mengumpulkan poin. Menang dan kalah merupakan bagian dari pertandingan, sehingga atlet harus tetap bersemangat dan konsisten mengembangkan kemampuan.
“Perjalanan kalian masih panjang,” pesannya.
Menutup pembinaan, seluruh jajaran PDM Kota Probolinggo turut memberikan doa dan dukungan agar Tapak Suci Putera Muhammadiyah Kota Probolinggo mampu kembali meraih prestasi terbaik pada Wali Kota Cup XI, 26–27 September 2026. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments