SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) memperluas wawasan global siswa melalui kunjungan ke Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Senin-Kamis (21-24/9/2026).
Lawatan ini tidak sekadar mengenalkan lingkungan kampus di negeri jiran. Kegiatan tersebut juga membuka wawasan siswa mengenai peluang melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan Smamita berkesempatan berdialog dengan sejumlah dosen USIM asal Indonesia. Pertemuan ini memberikan inspirasi bahwa pelajar Indonesia memiliki peluang untuk belajar dan berkiprah di lingkungan akademik internasional.
Salah seorang dosen USIM, Dr Aulia Naufal Zaenal Arifin, mengatakan perjalanan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi bukan hanya tentang memperoleh gelar. Menurutnya, pendidikan juga menjadi ruang untuk membangun jejaring dan memberikan kontribusi di mana pun seseorang berada.
“Ketika kita sudah terjun di dunia akademis, mulai S1, S2, bahkan S3, fokus kita akan berlabuh di kampus. Di mana pun kampus kita berada, kita harus bisa memberikan warna,” ujarnya.
Menurut Aulia, pengalaman menempuh pendidikan di luar negeri dapat menjadi kesempatan untuk membangun jejaring antara Indonesia dan Malaysia. Jejaring tersebut dapat berkembang menjadi berbagai bentuk kerja sama.
“Selain belajar, kita juga membuat jaringan-jaringan networking. Dari situlah kemudian terbangun kerja sama antara kampus-kampus di Malaysia dan Indonesia,” jelasnya.
Sekolah Perlu Membangun Jaringan Internasional
Aulia juga berpesan agar sekolah tidak berhenti membangun jaringan pada lingkup lokal. Menurutnya, sekolah perlu menjalin hubungan dengan perguruan tinggi, termasuk kampus internasional.
Langkah tersebut dapat membantu siswa memiliki gambaran pendidikan yang lebih luas setelah menyelesaikan sekolah. Ia berharap sekolah dapat membuka jalan bagi alumni untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
“Sekolah harus membangun jaringan. Dengan begitu, alumni atau siswa yang keluar dari sekolah tersebut memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri dan membawa nama baik almamaternya,” tuturnya.
Pesan serupa ia sampaikan kepada orang tua. Menurut Aulia, kekhawatiran orang tua ketika anak hendak menempuh pendidikan di luar negeri merupakan hal yang wajar.
Namun, orang tua juga perlu membuka wawasan mengenai kesempatan belajar di luar negeri. Pengalaman tersebut dapat memberikan pengetahuan dan lingkungan belajar yang lebih luas.
“Orang tua harus ikut perkembangan zaman. Pemikiran kita harus terbuka. Jangan membatasi bahwa pendidikan hanya ada di Indonesia. Banyak kampus bagus di luar negeri, termasuk di Malaysia,” katanya.
Ia menambahkan, Malaysia dapat menjadi salah satu pilihan bagi pelajar Indonesia karena jaraknya relatif dekat. Kondisi tersebut memungkinkan orang tua lebih mudah mengunjungi anak yang sedang menempuh pendidikan.
“Kalau ke Malaysia, dari Indonesia relatif dekat. Dengan pesawat sekitar dua jam. Jadi, insyaallah orang tua tidak perlu terlalu khawatir,” ujarnya.
Ajak Siswa Melihat Dunia Lebih Luas
Aulia juga mengajak siswa Smamita berani melihat dunia dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, pengalaman belajar di tempat baru dapat membuka cara pandang sekaligus memperkaya pengetahuan.
“Jangan melihat dunia hanya dari kacamata Sidoarjo, Surabaya, atau Jawa Timur. Kalau kita melihat Indonesia hanya dari satu daerah, pandangan kita akan sangat sempit,” pesannya.
Ia mendorong siswa menjadi generasi yang berani menjelajah, belajar, dan membangun pengalaman internasional.
“Dunia ini luas. Kita harus pergi sejauh-jauhnya untuk mengetahui bahwa ilmu dan pengetahuan itu luas,” tambahnya.
Smamita dan USIM Punya Kesamaan Visi
Sementara itu, Kepala Smamita Edwin Yogi Laayrananta, S.Pd., M.I.Kom., mengatakan kunjungan ke USIM menjadi momentum untuk memperluas silaturahmi sekaligus membangun jejaring pendidikan internasional.
Menurut Edwin, Smamita dan USIM memiliki kesamaan karakter, terutama dalam upaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai keislaman.
“USIM ini sebenarnya memiliki kemiripan dengan Smamita. Kami ingin menggabungkan antara sains, keimanan, dan keilmuan,” jelasnya.
Ia merujuk pada pesan Allah SWT dalam QS al-Mujadalah ayat 11 tentang Allah SWT meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.
Edwin berharap kunjungan tersebut dapat menjadi pintu bagi siswa Smamita untuk mengenal lebih dekat perguruan tinggi di luar negeri, termasuk USIM.
“Kami berharap siswa Smamita bisa kuliah di luar negeri, termasuk di USIM. Karena itu, kami selalu berusaha mengarahkan siswa agar memiliki wawasan global sesuai dengan visi Smamita,” ungkapnya.
Kunjungan tersebut juga mempertemukan siswa dengan dosen-dosen USIM asal Indonesia. Pertemuan ini menunjukkan bahwa akademisi Indonesia memiliki peluang untuk berkiprah dan memberikan kontribusi di lingkungan pendidikan internasional.
Bagi Smamita, kunjungan ke USIM bukan sekadar perjalanan akademik. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membuka wawasan siswa agar berani memiliki cita-cita pendidikan yang lebih luas, termasuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi di luar negeri. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments