Dari mimbar majelis taklim hingga ruang kelas madrasah, satu sistem dakwah dirajut agar terus hidup.
Salawati Tengah, Kabupaten Raja Ampat, berada di ujung barat Nusantara. Di tanah Raja Ampat yang dikenal dunia karena keindahan baharinya, ada perjuangan lain yang tak kalah menakjubkan: menjaga cahaya dakwah tetap menyala di pelosok negeri.
Di tengah tantangan geografis dan sosial kawasan 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), seorang da’i utusan Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bertugas di Distrik Salawati Tengah, Papua Barat Daya.
Ia tidak sekadar hadir untuk mengisi kekosongan. Ia merajut sebuah sistem, agar dakwah tetap hidup jauh setelah masa tugasnya usai.
Inilah semangat “Dakwah Bersistem”: sebuah ikhtiar besar memastikan denyut dakwah umat tidak berhenti hanya karena satu orang tidak lagi berada di tempat.
Wilayah 3T seperti Salawati Tengah selama ini sangat mengandalkan kehadiran da’i yang diutus dari pusat. Dan ketika masa tugas mereka berakhir, tak jarang api dakwah yang telah dirintis ikut meredup bersamanya.
Dari kesadaran akan kerentanan itulah, seluruh program yang dijalankan dirancang bukan sebagai kegiatan-kegiatan yang berdiri sendiri.
Melainkan sebagai satu sistem dakwah yang saling menopang: pembinaan jamaah, pendidikan formal, pendidikan Al-Qur’an, dan penguatan kelembagaan.
Merajut Kekuatan Lewat MIST
Pondasi utama gerakan ini bernama Majelis Ilmu Salawati Tengah (MIST), sebuah wadah koordinasi yang menyatukan lima majelis taklim se-Distrik Salawati Tengah.
Melalui MIST, kegiatan-kegiatan dakwah yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri kini terkoordinasi dalam satu sistem yang saling menguatkan.
Termasuk terselenggaranya Pengajian Akbar Bulanan, forum kajian gabungan yang mempertemukan jamaah lintas majelis taklim setiap bulannya.
Sistem inilah yang menjadi kunci: dakwah tidak lagi bertumpu pada satu orang, melainkan pada jaringan yang hidup dan terus bergerak meski wajah-wajah yang memimpinnya silih berganti.
Dari Mimbar Hingga Ruang Kelas
Pembinaan umat di Salawati Tengah berjalan di berbagai lini sekaligus, memadukan jalur nonformal dan formal dalam satu ekosistem dakwah:
- Majelis Taklim Al-Hidayah dan Majelis Taklim Al-Mukarramah, ruang kajian rutin bagi jamaah dewasa, sekaligus basis jamaah yang disatukan dalam koordinasi MIST.
- TPA Masjid Al-Furqan, wadah pembelajaran baca-tulis Al-Qur’an bagi anak-anak sejak usia dini.
- Rumah Qur’an Al-Badr Muhammadiyah Raja Ampat, pusat pembinaan tahfiz dan pendalaman Al-Qur’an yang lebih intensif di tingkat kabupaten.
- MA Muhammadiyah Kalobo dan MTs Muhammadiyah Waibu, jalur pendidikan formal yang menjadi ladang subur pembentukan generasi Qur’ani, tempat nilai-nilai keislaman ditanamkan secara terstruktur kepada generasi muda.
Kombinasi jalur nonformal dan formal ini memperlihatkan bahwa dakwah bersistem bukan sekadar wacana.
Melainkan sudah berjalan di lapangan: majelis taklim menjadi basis pembinaan jamaah akar rumput, pendidikan formal menjamin regenerasi berpikir Islami di kalangan pelajar, TPA dan Rumah Qur’an menopang penguatan Al-Qur’an lintas usia.
Sedangkan MIST hadir sebagai simpul yang menyatukan seluruh elemen tersebut dalam satu ekosistem dakwah yang saling menguatkan.
Menanam Akar, Bukan Menabur Benih
Keseriusan membangun sistem dakwah yang berkelanjutan ini tecermin dari perpanjangan masa penugasan da’i komunitas di Salawati Tengah hingga akhir tugasnya.
Rentang waktu yang memberi ruang cukup untuk benar-benar menanamkan akar, bukan sekadar menabur benih yang layu ketika musim berganti.
Orientasi yang dibangun bukan sekadar kegiatan-kegiatan yang terpisah dan bersifat sesaat, melainkan menciptakan sistem: jaringan kelembagaan, kaderisasi, dan forum koordinasi yang dapat terus berjalan dan berkembang secara mandiri, melampaui keberadaan satu individu.
Sebab dakwah yang kuat bukan yang bertumpu pada satu orang, tapi yang mengakar pada banyak orang.
Inilah warisan sesungguhnya yang ingin ditinggalkan para da’i LDK di Raja Ampat: bukan sekadar kenangan atas kehadiran mereka, melainkan sebuah sistem yang terus hidup dan berdenyut.
Dengan kader lokal yang terus dibina dan jaringan yang terus dirawat, satu hal menjadi harapan bersama:
Ketika satu babak penugasan usai, babak dakwah berikutnya di Salawati Tengah tidak pernah benar-benar berhenti, ia hanya berpindah tangan, dari satu penjaga estafet ke penjaga estafet berikutnya, dan api itu terus menyala.
Dengan sistem yang telah dirintis ini, pembinaan keislaman di Distrik Salawati Tengah diharapkan dapat terus tumbuh, terkoordinasi, dan berkelanjutan. Sekaligus menjadi model sinergi dakwah yang dapat direplikasi di wilayah 3T lainnya di Indonesia.





0 Tanggapan
Empty Comments