Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mahasiswa Baru Rentan Stres saat Adaptasi Kuliah, Dosen Psikologi UMY Bagikan Tips Jaga Kesehatan Mental

Iklan Landscape Smamda
Mahasiswa Baru Rentan Stres saat Adaptasi Kuliah, Dosen Psikologi UMY Bagikan Tips Jaga Kesehatan Mental
Ilustrasi: OpenAI
pwmu.co -

Masa penerimaan mahasiswa baru dan orientasi kampus menjadi fase penting yang menandai awal kehidupan di perguruan tinggi. Di balik antusiasme memulai perjalanan akademik, mahasiswa baru harus menghadapi berbagai perubahan sekaligus, mulai dari sistem pembelajaran yang lebih mandiri, lingkungan sosial yang lebih luas, hingga tuntutan mengatur kehidupan tanpa bergantung pada orang tua.

Apabila tidak dikelola dengan baik, proses transisi tersebut dapat memicu tekanan psikologis. Kondisi ini terutama dialami mahasiswa yang baru pertama kali merantau atau tinggal jauh dari keluarga.

Dosen Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Cahyo Setiadi Ramadhan, S.Psi., M.Psi., Psi., mengatakan tekanan yang dirasakan mahasiswa baru merupakan respons yang wajar terhadap banyaknya perubahan dalam waktu yang bersamaan.

“Perubahan dari lingkungan sekolah menuju lingkungan kampus membawa banyak penyesuaian. Mahasiswa bertemu teman dari berbagai daerah dan berada di lingkungan yang jauh lebih besar. Bagi mereka yang belum pernah merantau, proses adaptasi juga mencakup penyesuaian dengan tempat tinggal baru,” ujar Cahyo, Jumat (24/7/2026).

Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut beradaptasi dengan pola pembelajaran di perguruan tinggi, tetapi juga membangun relasi sosial baru, mengatur waktu secara mandiri, serta menghadapi ekspektasi akademik yang berbeda dibandingkan saat di sekolah.

“Berbagai perubahan itu tentu dapat menjadi tekanan. Namun, apakah tekanan tersebut berkembang menjadi masalah psikologis atau tidak sangat bergantung pada resiliensi, pengalaman, dan cara seseorang menyikapinya,” tambahnya.

Tantangan Generasi Z di Era Media Sosial

Cahyo menilai anggapan bahwa Generasi Z lebih rentan mengalami gangguan kesehatan mental dibandingkan generasi sebelumnya tidak sepenuhnya benar.

Menurutnya, kondisi psikologis seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti lingkungan keluarga, pola asuh, pengalaman hidup, kemampuan mengelola emosi, hingga dukungan sosial.

Ia menjelaskan, Generasi Z tumbuh di era internet dan media sosial yang menghadirkan tantangan baru. Kemudahan mengakses kehidupan orang lain sering kali mendorong kebiasaan membandingkan diri, yang kemudian memicu fear of missing out (FOMO), rasa tertinggal, hingga kecemasan.

SMPM 5 Pucang SBY

“Media sosial membuat seseorang lebih mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Pikiran seperti, ‘Mengapa teman saya sudah seperti itu, sementara saya belum?’ dapat meningkatkan kerentanan terhadap kecemasan,” jelasnya.

Meski demikian, Cahyo menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak berarti Generasi Z lebih lemah.

“Mereka hanya menghadapi dinamika dan tantangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya,” tegasnya.

Cahyo juga menekankan bahwa masa orientasi kampus seharusnya menjadi sarana membantu mahasiswa baru mengenal lingkungan akademik, membangun jejaring pertemanan, serta memahami budaya belajar di perguruan tinggi. Orientasi tidak semestinya menjadi kegiatan yang justru menambah tekanan psikologis.

Ia menyarankan mahasiswa baru tetap mempertahankan rutinitas positif yang telah dimiliki, seperti berolahraga, menjalankan hobi, beribadah, tidur yang cukup, serta menjaga komunikasi dengan keluarga dan orang-orang terdekat.

“Kebiasaan baik dapat menjadi jangkar ketika menghadapi perubahan. Selain itu, jangan ragu membangun pertemanan baru dan tetap berkomunikasi dengan orang tua, terutama pada masa-masa awal kuliah,” ujarnya.

Menurut Cahyo, dukungan keluarga tetap berperan penting meskipun mahasiswa mulai belajar hidup mandiri. Orang tua perlu memberikan ruang agar anak dapat mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan membangun kemandirian secara bertahap.

“Orang tua perlu memberikan ruang bagi anak untuk belajar mandiri sambil tetap memberikan dukungan. Proses ini akan lebih optimal apabila kampus dan keluarga bersama-sama mendampingi mahasiswa menjalani masa transisinya,” tutupnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 25/07/2026 08:40
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu