Muhammadiyah menyelenggarakan Muktamar ke-15 di Surabaya pada tanggal 25 Februari – 3 Maret 1926. Saat itu namanya masih Kongres, dan diselenggarakan setiap tahun. Salah satu pembicara dalam berbagai sidang yang dilakukan adalah dokter Soetomo. Sosok yang namanya diabadikan sebagai nama RSUD Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Surabaya.
Berbagai surat kabar Hindia Belanda pada masa itu merekam jalannya Muktamar secara rinci. Termasuk salah satu agenda rapat umum yang berlangsung pada Sabtu malam, 27 Februari 1926. Bertempat gedung Oriënt-Bioscoop, Surabaya. Lokasi yang sekarang berada di sekitar Jl. Bibis, Bubutan.
Rapat terbuka itu dihadiri tidak kurang 2.500 peserta. Juga 26 utusan dari berbagai organisasi kemasyarakatan, serta 18 perwakilan media massa. Salah satu tokoh yang mendapat kesempatan berpidato adalah dokter Soetomo. Sosok yang sejak dua tahun sebelumnya didaulat sebagai Penasehat PP Muhammadiyah bidang Kesehatan.
Dalam pidatonya, Soetomo terlebih dahulu menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh peserta Muktamar. Kesibukan yang sedang dihadapinya, kata dia, membuatnya tidak dapat menyampaikan materi pidato yang panjang.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kehadirannya di tengah-tengah Muktamar Muhammadiyah sudah merupakan bentuk penghormatan. Sekaligus ungkapan simpati yang mendalam terhadap perjuangan organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini.
Bagi Soetomo, Muhammadiyah telah menunjukkan sebagai organisasi masyarakat yang mampu bekerja secara nyata tanpa banyak mencari popularitas. Para penggeraknya, menurut Soetomo, merupakan orang-orang yang bekerja dengan penuh keikhlasan dan pengorbanan.
Ia menilai para aktivis Muhammadiyah telah membuktikan melalui tindakan nyata. Bahwa bangsa pribumi memiliki kemampuan untuk mewujudkan cita-cita besar apabila disertai semangat pengabdian.
“Mereka yang tidak banyak menonjol justru telah memperlihatkan kemampuan melalui kerja nyata dan pengorbanannya,” demikian inti pesan yang disampaikan Soetomo dalam pidatonya.
Pernyataan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap perkembangan Muhammadiyah. Saat itu baru berusia 14 tahun, tetapi telah berkembang pesat ke berbagai daerah di Hindia Belanda.
Dalam ceramah utamanya, Soetomo mengangkat tema mengenai pentingnya memberikan pertolongan kepada sesama yang membutuhkan. Menurutnya, tujuan utama Muhammadiyah bukan semata-mata mendirikan lembaga pendidikan ataupun pelayanan kesehatan. Melainkan menghadirkan pertolongan nyata bagi masyarakat yang sedang mengalami kesulitan.
Ia menjelaskan bahwa cita-cita besar Muhammadiyah adalah membantu kaum fakir, orang-orang yang membutuhkan, serta mereka yang tertimpa musibah. Semangat itu, tambah Soetomo, sejalan dengan ajaran Islam yang memerintahkan umatnya untuk saling menolong.
Dokter Soetomo menegaskan bahwa menolong orang lain pada hakikatnya juga merupakan bentuk menyelamatkan diri sendiri. Sebab, kehidupan masyarakat yang dipenuhi kepedulian akan melahirkan kekuatan bersama dalam menghadapi berbagai persoalan.
Karena itu, Soetomo mengajak seluruh peserta Muktamar agar terus mengembangkan semangat pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT.
Dalam kesempatan itu, Soetomo juga mengungkapkan kekagumannya terhadap perkembangan Muhammadiyah yang dinilainya sangat pesat.
Dalam waktu yang relatif singkat, organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu telah berhasil membangun berbagai sekolah, poliklinik, serta lembaga sosial. Bukan hanya berhasil membangun, tapi juga memberi manfaat langsung kepada masyarakat.
Menurutnya, capaian itu adalah bukti bahwa organisasi pribumi mampu mengelola kegiatan sosial secara profesional. Tentu jika dijalankan dengan semangat keikhlasan dan manajemen yang baik.
Ia kemudian membandingkan tradisi kepedulian sosial yang berkembang di Eropa dengan kondisi masyarakat di Hindia Belanda. Soetomo menjelaskan bahwa di berbagai negara Eropa, ketika terjadi bencana ataupun kesulitan yang menimpa masyarakat. Maka, tambahnya, seluruh lapisan penduduk, baik kaya maupun miskin, akan bergotong royong memberikan bantuan.
Budaya saling membantu itu, menurutnya, menjadi salah satu faktor yang memperkuat kehidupan masyarakat di sana. Sebaliknya, ia menilai tradisi semacam itu belum berkembang secara luas di kalangan masyarakat pribumi. Karena itu, Muhammadiyah dinilai memiliki peran strategis untuk menumbuhkan budaya kepedulian sosial yang lebih kuat.
Soetomo berharap semangat gotong royong yang diajarkan Muhammadiyah dapat menjadi contoh bagi masyarakat luas. Sehingga ketika terjadi kesulitan bersama, seluruh elemen bergerak memberikan bantuan tanpa memandang latar belakang.
Lebih lanjut, Soetomo mengaitkan gagasan itu dengan ajaran Islam. Menurutnya, Al-Qur’an telah memberikan tuntunan yang jelas mengenai pentingnya berkorban demi kepentingan umum ketika masyarakat menghadapi kesusahan. Ajaran itu, katanya, menjadi landasan moral bagi umat Islam untuk tidak bersikap acuh terhadap penderitaan orang lain.
Ia juga menyinggung persoalan anak yatim dan kaum miskin. Menurut Soetomo, secara prinsip tanggung jawab terhadap kelompok rentan memang berada di tangan pemerintah. Namun, hal itu tidak berarti masyarakat boleh menyerahkan seluruh beban tersebut kepada negara.
Sebaliknya, masyarakat harus ikut mengambil bagian dalam menjalankan tugas kemanusiaan tersebut. Keterlibatan masyarakat dalam membantu anak yatim, fakir miskin, maupun korban kesulitan justru akan memperkuat kehidupan sosial secara keseluruhan.
Lebih dari satu abad kemudian, pesan yang disampaikan dokter Soetomo di hadapan ribuan peserta Muktamar Muhammadiyah di Surabaya masih terasa relevan. Nilai gotong royong, pengorbanan, serta kepedulian terhadap fakir miskin dan anak yatim tetap menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang berkeadaban. Sebagaimana dicita-citakan Muhammadiyah sejak awal berdirinya.





0 Tanggapan
Empty Comments