Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Irwan Aqib, M.Pd., mengajak seluruh kepala madrasah Muhammadiyah untuk berani keluar dari zona nyaman, melakukan inovasi, serta memiliki mimpi besar dalam memajukan lembaga pendidikan. Menurutnya, kualitas madrasah tidak akan meningkat tanpa keberanian pemimpinnya untuk melakukan perubahan.
Pesan tersebut disampaikan Prof. Irwan saat memberikan arahan dalam Rapat Kerja Duta Madrasah Muhammadiyah yang diselenggarakan Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah pada 23–25 Juli 2026 di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Tengah, Kamis (24/7/2026).
Kegiatan tersebut mengusung tema “Menguatkan Mutu untuk Mewujudkan Madrasah Muhammadiyah Unggul Berwawasan Global.”
Dalam paparannya, Irwan menegaskan bahwa tantangan pendidikan saat ini menuntut kepala madrasah menjadi motor penggerak perubahan, bukan sekadar menjalankan rutinitas administrasi.
“Perlu motivasi kepala madrasah agar memiliki keberanian untuk melakukan perubahan-perubahan. Jangan terlalu lama duduk di zona nyaman. Kepala sekolah harus lebih sibuk melakukan inovasi dan perubahan,” tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan sebuah madrasah sangat ditentukan oleh visi pemimpinnya. Karena itu, kepala madrasah harus memiliki cita-cita besar untuk membawa lembaga yang dipimpinnya menjadi pilihan utama masyarakat.
“Kepala sekolah harus memiliki mimpi besar untuk memajukan sekolah. Ujung dari seluruh pergerakan itu adalah mencapai ridha Allah SWT. Semua harus dimulai dengan niat yang ikhlas,” ujarnya.
Irwan juga meluruskan pandangan yang masih berkembang di masyarakat mengenai posisi sekolah dan madrasah di lingkungan Muhammadiyah.
Dia menegaskan, secara kelembagaan tidak ada perbedaan antara sekolah dan madrasah. Keduanya memiliki kedudukan yang sama sebagai amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan.
“Sebenarnya sekolah dan madrasah dalam Muhammadiyah tidak ada perbedaan. Sekolah dan madrasah memiliki posisi yang sama dalam Muhammadiyah,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui madrasah memiliki karakteristik tersendiri. Selama ini madrasah lebih banyak diminati oleh orang tua yang menginginkan pendidikan agama lebih kuat bagi anak-anak mereka.
“Madrasah biasanya diminati oleh orang tua yang memiliki nilai-nilai religius yang baik dan menginginkan anaknya memiliki pengetahuan agama yang baik,” jelasnya.
Karena itu, menurut Irwan, madrasah Muhammadiyah harus mampu memadukan keunggulan pendidikan agama dengan kualitas akademik sehingga memiliki daya saing yang tinggi.
Tampilkan KeunggulanÂ
Irwan Akib menilai sekolah dan madrasah Muhammadiyah perlu terus melakukan pembenahan agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin dinamis.
Dia mengingatkan bahwa persaingan antarlembaga pendidikan semakin ketat sehingga Muhammadiyah harus memiliki nilai lebih yang mudah dikenali masyarakat.
“Sekolah kita harus segera berbenah. Tampilan sekolah Muhammadiyah harus memiliki keunggulan yang kompetitif dan dapat menarik masyarakat. Kita harus memikirkan bagaimana sekolah Muhammadiyah lebih diminati masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, kepala sekolah tidak cukup hanya mengelola kegiatan operasional sehari-hari. Mereka harus menjadi inovator yang terus melahirkan gagasan baru demi meningkatkan mutu pendidikan.
Menjadi kepala sekolah, lanjutnya, juga bukan pekerjaan yang ringan. Dibutuhkan kesungguhan, pengorbanan, dan kesiapan menerima berbagai konsekuensi dalam membesarkan sekolah.
“Bekerja sebagai kepala sekolah itu butuh perjuangan untuk membesarkan sekolah. Bersedia menerima segala konsekuensi sebagai kepala sekolah,” katanya.
Irwan juga memberikan perhatian khusus terhadap kesejahteraan guru. Ia menegaskan bahwa seorang kepala sekolah harus lebih dahulu memikirkan kesejahteraan para guru dibandingkan kepentingan pribadinya.
“Tugas kepala sekolah adalah memikirkan kesejahteraan guru, bukan memikirkan kesejahteraan dirinya,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar pengelolaan guru tidak disamakan dengan sistem hubungan industrial.
“Guru tidak sama dengan buruh. Seharusnya bukan memakai istilah jam kerja. Terlambat masuk lalu dipotong, itu sama saja menjadikan guru sebagai buruh,” ujarnya.
Menurutnya, profesi guru merupakan panggilan pengabdian yang harus dihargai secara proporsional, sehingga pengelolaannya tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan profesionalisme.
Komunikasi dengan Pimpinan
Irwan juga mengingatkan pentingnya komunikasi yang harmonis antara kepala sekolah dengan pimpinan Muhammadiyah.
Ia meminta setiap persoalan diselesaikan melalui dialog, musyawarah, dan pendekatan kekeluargaan, bukan dengan sikap saling memaksakan kehendak.
“Pentingnya komunikasi antara kepala sekolah dan pimpinan. Jangan pakai ngotot-ngototan. Harus memiliki etika. Kalau ada masalah harus diselesaikan dengan kekeluargaan. Selesaikan dengan cara yang bijaksana,” pesannya.
Dia menambahkan, silaturahmi yang baik akan melahirkan suasana kerja yang sehat dan memperkuat sinergi dalam membangun pendidikan Muhammadiyah.
“Bangun silaturahmi dan komunikasi dengan baik,” imbuhnya.
Irwan mengajak para kepala madrasah untuk banyak belajar dari sejarah perjuangan tokoh-tokoh Muhammadiyah.
Menurutnya, para pendahulu Muhammadiyah berhasil membangun gerakan besar karena memiliki visi yang jauh ke depan, keberanian berinovasi, serta keikhlasan dalam berjuang.
“Kepala sekolah perlu membaca sejarah para pendahulu pejuang tokoh-tokoh Muhammadiyah untuk belajar visi, misi, dan perjuangan beliau. Pelajari bagaimana cara-cara mereka membangun Muhammadiyah,” katanya.
Ia pun menutup arahannya dengan pesan inspiratif agar para pemimpin pendidikan tidak sekadar mengikuti arus, tetapi mampu melahirkan terobosan yang memberikan manfaat bagi umat.
“Pesan saya, lakukan sesuatu yang orang lain belum pikirkan,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments