Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Foskam Jatim Gandeng Jawa Pos, 50 Guru Muhammadiyah Dilatih Menulis Opini

Iklan Landscape Smamda
Foskam Jatim Gandeng Jawa Pos, 50 Guru Muhammadiyah Dilatih Menulis Opini
Ketua Foskam Jatim, Edy Susanto, M.Pd. Foto: Mulyanto/PWMU.CO
pwmu.co -

Forum Silaturahim Kepala Sekolah Muhammadiyah SD-MI Jawa Timur (Foskam Jatim) periode 2025–2027 mendorong guru Muhammadiyah tidak hanya kuat mengajar, tetapi juga mampu menuangkan gagasan melalui tulisan.

Upaya itu diwujudkan melalui Pelatihan Menulis Opini bersama tim Jawa Pos di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo, Sabtu (15/8/2026).

Pelatihan tersebut diikuti 50 guru SD-MI Muhammadiyah dari berbagai daerah di Jawa Timur. Peserta datang dari sejumlah wilayah, mulai Ngawi di bagian barat hingga Bangkalan di Madura.

Tim redaksi dan jurnalis Jawa Pos hadir sebagai narasumber. Mereka membekali peserta dengan teknik menulis opini yang tajam, berbobot, argumentatif, sekaligus memiliki peluang untuk diterbitkan di media massa.

Ketua Foskam Jatim, Edy Susanto, M.Pd., mengatakan pelatihan tersebut menjadi ruang untuk menggali dan mengembangkan potensi menulis para guru.

“Kami mengundang para ahli menulis dari Jawa Pos agar teman-teman guru menjadi lebih kompeten dalam menuangkan gagasan,” kata Edy.

Menurut dia, tradisi menulis bukan sesuatu yang asing bagi Muhammadiyah. Sejak awal, gerakan tersebut memiliki perhatian kuat terhadap literasi dan penyebaran gagasan melalui tulisan.

Karena itu, kemampuan menulis bagi guru Muhammadiyah tidak semata-mata berkaitan dengan keterampilan akademik. Lebih dari itu, menulis dapat menjadi bagian dari dakwah dan sarana menyampaikan gagasan pendidikan kepada masyarakat.

“Menulis merupakan budaya Muhammadiyah sejak dulu. Salah satu ciri sekolah Muhammadiyah adalah kuat dalam literasi. Ini adalah bagian dari dakwah kita. Karena itu, ikuti acara ini dengan sungguh-sungguh,” tegasnya.

Menulis untuk Meninggalkan Legacy

Edy menilai pelatihan tersebut tidak boleh berhenti pada kegiatan sehari. Para guru diharapkan menghasilkan karya nyata yang dapat dibaca dan memberi manfaat bagi masyarakat.

SMPM 5 Pucang SBY

Karena itu, Foskam Jatim menargetkan lahirnya karya bersama dari para peserta pelatihan.

“Momen ini juga menjadi latihan untuk mengasah kemampuan sekaligus menciptakan legacy. Kita ingin menghasilkan karya tulisan. Targetnya, kita bisa menerbitkan buku bersama hasil karya para guru,” ujarnya.

Gagasan tersebut sekaligus menjadi upaya membangun budaya literasi yang lebih kuat di lingkungan sekolah Muhammadiyah. Guru tidak hanya menjadi pengguna informasi, tetapi juga produsen pengetahuan dan gagasan.

Foskam Jatim Gandeng Jawa Pos, 50 Guru Muhammadiyah Dilatih Menulis Opini
Para guru Muhammadiyah mengikuti pelatihan menulis di Jawa Pos. Foto: Mulyanto/PMW.CO

Program pelatihan ini merupakan bagian dari agenda kerja Foskam Jatim dalam memperkuat literasi dan numerasi di sekolah Muhammadiyah. Penguatan dua kemampuan dasar tersebut dinilai penting untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran dan kesiapan peserta didik menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang merupakan program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI.

Edy menegaskan, penguatan literasi merupakan bagian dari ikhtiar Foskam Jatim untuk mendorong sekolah Muhammadiyah semakin unggul. Keunggulan tersebut tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari mutu layanan, kualitas pembelajaran, dan pembentukan karakter.

Pelatihan menulis opini bersama Jawa Pos menjadi salah satu langkah untuk memperluas peran guru Muhammadiyah di ruang publik. Melalui tulisan, guru dapat menyampaikan pengalaman, gagasan pendidikan, kritik, sekaligus menawarkan solusi atas berbagai persoalan bangsa.

Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari Gerakan Guru Menulis yang digagas Jawa Pos. Melalui gerakan ini, guru didorong untuk menjadikan aktivitas menulis sebagai bagian dari pengembangan profesional sekaligus kontribusi bagi masyarakat.

Bagi Foskam Jatim, semakin banyak guru yang mampu menulis berarti semakin banyak pula gagasan pendidikan Muhammadiyah yang dapat hadir di ruang publik. Dari ruang kelas, gagasan itu diharapkan bergerak menjadi tulisan, kemudian menjadi pengetahuan yang memberi manfaat lebih luas. (*)

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu