Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Saat Juara SUCI 12 Chairul Mukmin Mampir ke Umsura, Tawa Mengalir Tanpa Panggung

Iklan Landscape Smamda
Saat Juara SUCI 12 Chairul Mukmin Mampir ke Umsura, Tawa Mengalir Tanpa Panggung
Chairul Mukmin saat syuting di Kampus Umsura. Foto: Istimewa

Tidak ada rombongan besar. Tidak ada pengawalan. Tidak pula penampilan yang sengaja dibuat mencolok.

Sabtu siang, 24 Juli 2026, seorang pria berkaus hitam yang dibalut kemeja terbuka melangkah santai memasuki lingkungan Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura).

Jika tidak mengenalnya, orang mungkin akan mengira dia hanya tamu biasa yang sedang berkunjung ke kampus.

Padahal, pria itu baru saja menyandang gelar paling bergengsi di dunia stand-up comedy Indonesia. Dialah Chairul Mukmin, Juara Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) Season 12.

Popularitas rupanya tidak mengubah pembawaannya. Mukmin tetap datang sendirian. Dia menyapa siapa pun dengan senyum tipis, berbicara pelan, dan sesekali melempar candaan yang membuat suasana langsung cair.

Begitulah sosok yang selama ini dikenal publik. Sederhana di luar panggung, tetapi mampu membuat ribuan orang tertawa ketika mikrofon berada di tangannya.

Kedatangannya ke Umsura sebenarnya tidak direncanakan sebagai agenda besar.

Kala itu Mukmin sedang berada di Surabaya untuk menghadiri sebuah acara. Di sela kesibukannya, ia menyempatkan diri mampir ke kampus yang kini mengusung tagline Home of Champions.

Kepala Biro Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Umsura, M. Febriyanto Firman Wijaya, mengatakan kunjungan tersebut berlangsung spontan.

“Kebetulan Mukmin ada acara di Surabaya, dia kemudian mampir ke kampus,” ujarnya.

Tidak ada seremoni khusus. Tidak ada panggung megah. Hanya perbincangan santai, berkeliling melihat lingkungan kampus, dan tentu saja tawa yang mengalir hampir sepanjang kunjungan.

***

Nama Choirul Mukmin melejit setelah keluar sebagai Juara SUCI 12 pada grand final yang disiarkan Kompas TV pada Juni 2026.

Mukmin merupakan guru honorer asal Ternate yang mewakili Yogyakarta. Dia juga alumnus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Sebelum akhirnya mengangkat trofi juara, ia berkali-kali gagal dalam audisi musim-musim sebelumnya.

Alih-alih menyerah, kegagalan itu justru menjadi bahan bakar. Di atas panggung, ia dikenal mengangkat keresahan dunia pendidikan, kehidupan guru, kritik sosial, hingga fenomena-fenomena sehari-hari yang sering luput dari perhatian.

Saat Juara SUCI 12 Choirul Mukmin Mampir ke Umsura, Tawa Mengalir Tanpa Panggung
Choirul Mukmin bersama M. Febriyanto Firman Wijaya. Foto: Istimewa

Cara bertuturnya tenang, tidak meledak-ledak, tetapi punchline-nya selalu datang pada waktu yang tepat.

Barangkali karena itulah komedinya terasa dekat dengan penonton. Ia tidak sekadar melucu, tetapi juga mengajak orang berpikir.

Saat berada di Umsura, Mukmin tidak keberatan ketika diminta membuat video promosi kampus.

Yang menarik, ia tidak membaca naskah formal layaknya presenter iklan.

Sebaliknya, ia melakukan apa yang paling dikuasainya: berdiri di depan kamera, lalu berceloteh dengan gaya khas stand-up comedy.

Dalam hitungan menit, gedung kampus, fasilitas pendidikan, hingga akreditasi program studi berubah menjadi bahan komedi yang segar.

Video itu kemudian diunggah melalui akun Instagram resmi Umsura dan langsung mengundang perhatian warganet.

Alih-alih terdengar seperti promosi yang dipaksakan, video tersebut terasa menghibur sekaligus informatif.

Berikut kutipan lengkap yang disampaikan Choirul Mukmin dalam video tersebut.

Bismillah, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Halo teman-teman, ini saya lagi main ke Surabaya ya. Kebetulan saya mampir sebentar di salah satu kampus Muhammadiyah terbaik di Indonesia, yaitu Umsura (Universitas Muhammadiyah Surabaya).

SMPM 5 Pucang SBY

Ini keren banget nih kampus ini. Sebelum rebranding, ini kan dijuluki sebagai kampus dengan sejuta inovasi. Keren ya? Ini kalau diuangkan ya, ini kayaknya udah lebih dari sejuta ya, soalnya kan dolar kan lagi…

Nah, sekarang tagline-nya menjadi Home of Champions, rumahnya para juara. Keren enggak? Ini kayaknya cocok deh kalau saya kuliah di sini, soalnya saya kan Juara SUCI 12 ya.

Dan ternyata banyak banget atlet nasional yang kuliah di Umsura ini. Kayak ada Rizky Ridho, kemudian Ramadhan Sananta, Erling Haaland… (suara hoaks). Waktu kuliah di sini Erling Haaland tuh namanya masih Haaland Wa Sahlan waktu itu.

Dan ini mereka ini nih kuliahnya di Manajemen. Mungkin mereka harus belajar bagaimana memanage kekayaan mereka ya sekarang ya. Cuman ini saya mau tanya nih sama Umsura nih, ini bener-bener dukung atlet enggak sih? Lapangan bolanya mana ya?!

Nah, di kampus ini juga ada namanya At-Tauhid Tower. Di dalamnya ada gedung perkuliahan, kemudian laboratorium dengan fasilitas unggul, dan uniknya ini tuh ada 13 lantai. Dan kata orang 13 itu kan angka sial. Tapi Muhammadiyah kita enggak percaya masalah-masalah sial kayak gitu. Muhammadiyah percaya kalau kuliah di Umsura, udah jelas untung.

Nah, di samping gedung ATT, ada namanya Gedung At-Ta’awun. Lantainya ada 23, hampir dua kali dari gedung ATT yang tadi. Ini gimana nih hitungannya? Apakah kesialannya dikali dua karena angka 13 tadi? Sorry, enggak. Muhammadiyah itu enggak percaya sama angka sial, Muhammadiyah percaya sama Allah.

Di Gedung At-Ta’awun ini juga ada Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi. Kalau Fakultas Kedokteran itu terakreditasi Unggul, sedangkan Kedokteran Gigi terakreditasi Baik. Ya udah jelas, lulusan dokter gigi dari kampus ini udah pasti baik-baik tuh. Nggak mungkin lah gebukin pasien gitu, ‘Buka mulutnya!’ Nggak mungkin. Keren!

Dari segala hal yang sudah saya paparkan tadi, ini rugi banget kalau kalian enggak daftar di sini. Kampus dengan fasilitas yang bagus, sangat berkah dan dirahmati Allah. Jadi daftarkan dirimu di Umsura, kampus unggul para juara.”

Bagi penonton stand-up, gaya Mukmin terasa khas. Dia tidak membangun humor dengan mengejek orang lain. Ia justru memanfaatkan logika yang dipelintir secara cerdas.

Kalimat tentang “Erling Haaland yang dulu bernama Haaland Wa Sahlan” adalah contoh bagaimana ia memainkan absurditas. Begitu pula ketika mempertanyakan keberadaan lapangan bola di kampus yang banyak dihuni atlet nasional.

Candaan tentang angka 13 pun tidak berhenti sebagai lelucon. Ia mengantarkan pesan sederhana bahwa Muhammadiyah tidak mempercayai mitos angka sial, melainkan bertawakal kepada Allah.

Humor menjadi jalan untuk menyampaikan nilai.

***

Ada ironi yang menarik dari kunjungan itu. Mukmin adalah juara nasional di dunia komedi. Sementara Umsura kini memperkenalkan diri sebagai Home of Champions, rumah bagi para juara.

Pertemuan keduanya terasa seperti kepingan puzzle yang saling melengkapi.

Di satu sisi ada kampus yang berusaha melahirkan prestasi di berbagai bidang, mulai akademik, olahraga, riset, hingga inovasi.

Di sisi lain hadir seorang guru honorer yang membuktikan bahwa juara tidak selalu lahir dari jalan yang mudah.

Dia pernah gagal berkali-kali. Ia datang dari daerah. Ia mengajar dengan segala keterbatasan. Namun semua itu tidak menghalanginya berdiri di panggung nasional sebagai yang terbaik.

Yang paling membekas dari kunjungan singkat itu mungkin bukan isi videonya. Bukan pula statusnya sebagai Juara SUCI 12. Melainkan kesederhanaannya.

Di tengah budaya selebritas yang sering identik dengan kemewahan, Mukmin hadir tanpa jarak. Ia berjalan santai, menyapa orang-orang di kampus, bercanda tanpa dibuat-buat, lalu pulang sebagaimana dia datang.

Barangkali itulah alasan mengapa komedinya mudah diterima banyak orang. Karena sebelum menjadi komika, dia tetap seorang guru.

Dan sebelum menjadi seorang juara, dia lebih dulu menjadi manusia yang tidak kehilangan kerendahan hati.

Kunjungan singkat di Umsura itu akhirnya bukan hanya menghasilkan sebuah video promosi yang menghibur.

Mukmin juga meninggalkan pesan sederhana: prestasi boleh setinggi langit, tetapi kesahajaan adalah pijakan yang membuat seseorang tetap membumi. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 27/07/2026 20:30
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu