Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Perjalanan Spiritual Guru Smamita: Dari Katolik Menjadi Mualaf hingga Berjuang demi Lima Anak

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Perjalanan Spiritual Guru Smamita: Dari Katolik Menjadi Mualaf hingga Berjuang demi Lima Anak
Perjalanan Spiritual Guru Smamita: Dari Katolik Menjadi Mualaf hingga Berjuang demi Lima Anak. Foto: Istimewa/PWMU.CO
Oleh : Wildan Nanda Rahmatullah Guru Sejarah SMA Muhammadiyah 1 Taman, Sekretaris Redaksi PWMU.CO

Suasana kantin SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) pagi itu terasa tenang. Di sela aktivitas mengajar, Guru Seni Budaya Smamita, Yosefin Niken Eko Savitri, S.Pd. membuka lembaran perjalanan hidup yang tidak mudah. Perjalanan yang membawanya dari pencarian panjang tentang Tuhan hingga akhirnya menemukan Islam sebagai jalan hidupnya.

“Saya sebetulnya mulai berpikir kritis terkait ketuhanan sejak duduk di bangku kelas 5 SD,” tuturnya saat diwawancarai di kantin Smamita, Senin (27/7/2026). “Saya mulai merasakan keresahan dan tidak yakin dengan agama yang saya anut saat itu,” sambung Niken.

Karena tidak ada fondasi agama yang kuat dan pernah juga mengalami kepenatan hingga menganut paham atheis, Niken akhirnya mulai tertarik dengan Islam. Pertanyaan demi pertanyaan terus tumbuh seiring bertambahnya usia. Rasa ingin tahunya akan Islam semakin besar, Ia mulai mendatangi sejumlah pondok pesantren bersama seorang teman yang ayahnya memiliki kedekatan dengan pengasuh pondok.

“Saya mengunjungi berbagai pondok pesantren itu bukan untuk waktu yang lama, karena keterbatasan waktu mungkin seminggu atau beberapa kali saja,” kenangnya.

Kunjungan-kunjungan singkat itu menjadi bagian dari pencarian spiritual yang panjang. Bukan sekadar ingin mengetahui agama lain, melainkan benar-benar mencari jawaban atas kegelisahan yang selama bertahun-tahun memenuhi pikirannya.

Dari sekian banyak agama mengapa harus Islam yang dipilih ?

“Menurut pandangan saya, Islam itu banyak mengajarkan kebaikan. Dalam aktivitas sehari-hari, saya selalu diingatkan akan keberadaan Allah. Contoh saja shalat wajib 5 waktu, kapan pun kita membutuhkan dan minta tolong, Allah selalu ada,” terang Niken.

Tekad untuk memeluk Islam akhirnya semakin bulat sekitar tahun 2012. Pada masa itu, Niken rutin mengikuti pembinaan keislaman di Masjid Al-Falah Surabaya setiap Rabu dan Jumat.

Di tempat itulah ia merasakan sesuatu yang berbeda.

Bukan hanya materi keislaman yang dipelajari, tetapi juga kehangatan orang-orang yang menerimanya tanpa prasangka. Banyak ibu-ibu yang mengikuti pengajian menyambutnya dengan penuh kasih. Sebagian besar di antaranya merupakan warga Muhammadiyah.

Dari merekalah, Niken merasakan bahwa Islam hadir dengan wajah yang ramah dan memudahkan.

“Melalui Muhammadiyah, saya melihat bagaimana mudahnya beragama Islam,” ungkapnya.

Dalam proses belajar itu pula, ia mendapat bimbingan dari Ustadz Drs. H. Achmad Zawawi Hamid. Dari sang ustadz, ia belajar memahami ajaran Islam secara bertahap hingga keyakinannya semakin mantap. Ustadz Drs. H. Achmad Zawawi Hamid adalah pengurus dan Ketua/Kepala Bagian Muhtadin (pembinaan mualaf) di Masjid Al Falah Surabaya, yang juga aktif mengisi kajian rutin seperti kajian akidah dan memandu ikrar masuk Islam.

Keputusan besar itu kemudian mengubah banyak hal dalam dirinya.

Ia mengaku menjadi pribadi yang jauh lebih tenang dan sabar, lebih mampu mengendalikan emosi, dan lebih senang berbagi kepada sesama.

“Dulu saya itu paling enggan memberi pengemis. Saya berpikir, kita sudah bekerja banting tulang, sementara ada orang yang mendapat uang hanya dengan meminta pada orang lain. Pikiran seperti itu hilang setelah saya masuk Islam,” ujarnya.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Perubahan itu bukan hanya tampak dalam cara memandang orang lain, tetapi juga dalam cara menghadapi setiap ujian kehidupan.

Setelah memeluk Islam, Niken menikah dengan orang yang dari keluarga besar Muhammadiyah. “Dari keluarga besar pun saya banyak mengambil pembelajaran baik. Allah menganugerahkan lima orang anak, terdiri atas satu putra dan empat putri,” kisahnya.

Kebahagiaan keluarga itu kemudian diuji ketika sang suami meninggal. Sejak saat itu, seluruh tanggung jawab membesarkan kelima anak berada di pundaknya seorang diri.

Sambil menahan haru, Niken berkisah tentang hari-hari yang penuh perjuangan.

“Setelah suami saya meninggal, kini saya berjuang untuk membesarkan kelima anak saya sepenuh hati,” tuturnya.

Ada satu peristiwa yang hingga kini tidak pernah ia lupakan.

Suatu malam, rekening yang biasa ia gunakan tiba-tiba terblokir. Besoknya, anak-anak harus berangkat sekolah. Di tangannya saat itu hanya tersisa uang Rp2.000.

Malam itu ia hanya bisa menunaikan shalat Isya, kemudian berdoa memohon pertolongan kepada Allah.

Di luar dugaannya, tidak lama kemudian ada dana yang masuk ke rekening tabungan yang sebelumnya dibuat khusus untuk putri bungsunya.

Bagi sebagian orang, peristiwa itu mungkin tampak biasa. Namun bagi Niken, itulah jawaban atas doa yang dipanjatkannya di tengah keadaan yang nyaris tanpa harapan.

Pengalaman-pengalaman itulah yang semakin menguatkan keyakinannya bahwa pertolongan Allah selalu datang pada waktu yang paling tepat.

Kini, Niken menjalankan usaha peninggalan almarhum suaminya sembari tetap mengabdikan diri sebagai guru Seni Budaya di SMA Muhammadiyah 1 Taman.

Di balik kesibukan mengajar, ia terus berjuang menjadi ibu sekaligus ayah bagi lima anaknya.

Perjalanan hidup Yosefin Niken Eko Savitri bukan sekadar kisah seseorang yang berpindah keyakinan. Lebih dari itu, kisah ini adalah tentang keberanian mencari kebenaran, keteguhan memegang iman, serta keyakinan bahwa di balik setiap kesulitan, Allah selalu membuka jalan bagi hamba-Nya yang terus berharap kepada-Nya. (*)

SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu