Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab V berjudul “Muhammadiyah Masa Kebangkitan (1956-2004)”, halaman 199 s/d sebagian 203.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 69
***
Halaman 199
Cabang Wlingi, {72} membina Ranting Doko, yang berdiri pada 1987, dirintis oleh Abdul Manan dan Abdul Manaf. Cabang Srengat, {73} Muhammadiyah masuk dan dikenal di Purwokerto, Srengat pertama kali melalui kegiatan volley ball pada 1950, yang dipelopori oleh Sofyan Affandi. Pada 1960, Sofyan Affandi mendatangkan Mohammad Sjamlan (aktivis Muhammadiyah), dan teman-temannya mantan anggota Masyumi.
Kedatangan Sjamlan dimaksudkan untuk mengenalkan Muhammadiyah secara lebih mendalam, sehingga pada tahun 1963 berdiri Cabang Srengat. Tokoh-tokoh yang membawa dan mengenalkan adalah Kyai Jawari, K. H. Mahali dari Wonorejo, Imam Mohtar (Kauman), Muharom dari Srengat, Sulaeman dari Srengat, dan H. Romli.
Pengenalan Muhammadiyah di Srengat tidaklah mulus. Kader, anggota dan simpatisan Muhammadiyah sering diteror dari golongan tradisional. Tekanan-tekanan itu justru membuat kader Muhammadiyah di Srengat kian bertambah mantap untuk berjuang. Guna menjaga ukhuwah diadakan satu forum untuk memberikan pengertian dan menggugah kesadaran. Namun forum itu tidak direspon positif.
Pada 1987 berdiri cabang Wates, dengan Ketua Abdul Qodir. Meski tidak memiliki amal usaha sendiri, upaya pengembangannya dilakukan melalui pendidikan formal. Pengajarnya sekaligus Kepala Sekolah di SMP Islam adalah Nasirudin, dikelola bersama Untung pada bulan Januari 1968.
Sekolah ini secara finansial pernah dibantu Marmin Siswoyo ketua PDM sekarang. Hubungan sosial Muhammadiyah dengan warga nahdliyin di wilayah itu berjalan baik karena salah satu pengurus cabangnya, H. Sa’had Junaedi, merupakan putra dari Kyai Syuaeb tokoh nahdliyin di Mojorejo. Cabang Kesamben, {74} terbentuk Pemuda Muhammadiyah 1966, lebih dulu daripada Cabang Muhammadiyah. Tokoh paling berperan
Halaman 200
adalah Kyai Zaenuri. Pada 1966 ia datang ke Kesamben untuk memberikan pengajian. Pengajian ini berjalan selama 5 tahun (1966-1971). Sekitar 1970 Abu Royani, Nasiruddin, Yanas, Kusmadi, Jasman, Zaenudin, Zaenal Ariffin, Masturi, Kurdi, dan Jumar {75} mendirikan Ranting Muhammadiyah Kesamben.
Muhammadiyah di Kecamatan Nglegok berawal dari Desa Banjarjo, yang disebut-sebut sebagai pengembangan pertama gerakan Muhammadiyah setelah di Kota Blitar. Kedatangan Abu Sudjak dari Jogjakarta sebagai utusan PB Muhammadiyah pada mulanya tinggal di desa tersebut sambil membuka usaha menjahit. Pada saat itu Nglegok (selain Banjarjo) merupakan tempat para eks Masyumi berkumpul. Mereka juga memiliki tujuan yang sama, yaitu mendirikan Muhammadiyah di wilayah itu.
Mereka adalah Makin Wiyato (Garum), Siswo Pranoto (Kesomben), Margono (pensiunan Guru – Nglegok), Priyadi (Ngentak), dan Zainuddin Wijaya (Nglegok) yang telah mengikuti Kursus Dasar Melati dan berniat untuk mendirikan Ranting Nglegok. Para tokoh tersebut pada dasarnya adalah aktivis Muhammadiyah. Pada 1964 sebelum terbentuk Cabang, sudah terdapat beberapa ranting, yaitu Ranting Kedawung, Nglegok, Penataran dan Banjarjo. Zainuddin Wijaya beserta beberapanya rekannya seperti Djuremi (Kedawung) dan Thoyib (Nglegok) berinisiatif mengordinasikan
Halaman 201
ranting-ranting tersebut dalam sebuah Cabang. Pada saat Gerakan 30 September/PKI 1965 meletus Ranting Jiwut terbentuk. Dalam pembentukan Cabang Nglegok tersebut disepakati bahwa Ranting Banjarjo menjadi kordinator pembentukan Cabang. Setelah ada kordinator cabang, oleh PDM dibentuklah Cabang Nglegok (1967). Pada saat baru terbentuk, Zainuddin Wijaya dan Priyadi (alm) diutus mengikuti Muktamar ke-37 di Yogyakarta.
Ketua ranting-ranting se-Cabang Nglegok adalah Sarodja (Ranting Nglegok), Djuremi (Ranting Kedawung), Sidik (Ranting Penataran), Thoyib (Ranting Jiwut), dan Hadi Sudarno (Ranting Banjarjo). Penggalangan massa pada awalnya dilakukan dengan cara mengundang orang-orang yang diduga bersimpati pada Muhammadiyah untuk mengikuti pengajian rutin sebulan sekali di tempat yang berpindah-pindah, diisi oleh Mohammad Samlan dari Tulungagung.
Cabang Garum, {76} keberadaannya diawali dari pertemuan dua orang yaitu Dzaenuri dari Blitar dan Abdul Salam di Slorok Kecamatan pada 1946. Dalam pertemuan itu dikenalkan paham Muhammadiyah oleh Dzaenuri meskipun tidak menyebut nama Muhammadiyah.
Abdul Salam tertarik dengan pemikiran-pemikiran Islam sebagaimana paparan Dzaenuri ini. Silaturrahim dengan diskusi masalah ke-Islaman berlanjut makin intensif, bahkan diikuti tetangga dan teman dekat Abdul Salam yang pusat kegiatannya berada di rumah Abdul Salam di Desa Slorok. Dari kegiatan ini akhirnya diperkenalkan nama Muhammadiyah. Terhadap ajakan itu Abdul Salam dan kawan-kawannya tidak keberatan.
Diskusi tersebut dilanjutkan dengan pengajian rutin dengan tempat berpindah-pindah, yaitu di Dukuh Slorok (rumah Abdul Salam, yang biasa dipanggil “Si Wo”), di Dukuh Menur dan Desa Karang Talun. Pengikutnya terus bertambah. Namun dalam pengajian tersebut tidak pernah disebut nama Muhammadiyah.
Tokoh-tokoh penggeraknya adalah Abdul Salam, Imam Kanapi (informan, yang pada waktu itu masih remaja), Sartono. Pengenalan Muhammadiyah berikutnya melalui jalur pendidikan. Pada 14 Juli 1947, didirikan Madrasah Ibtidaiyah Raudlatun Nasyiin yang diprakarsai Dzaenuri, Imam Kanafi dan Sartono. Tidak menggunakan nama Muhammadiyah untuk menghindari warga
Halaman 202
masyarakat yang tidak suka dengan Muhammadiyah. Melalui pendidikan inilah ajaran Muhammadiyah diperkenalkan. Pada 1950-an, berdiri pandu HW yang diprakarsai Dzaenuri, yang ditunjuk sebagai ketuanya Imam Kanapi. Mulai saat itulah simbul Muhammadiyah mulai digunakan, tetapi orang-orang belum tahu kalau gambar Matahari pada bendera HW itu simbul Muhammadiyah. Walau pada akhirnya masyarakat memahami.
Pada 1956 berdiri Pemuda Muhammadiyah Ranting Slorok (Pandu HW melebur menjadi Pemuda Muhammadiyah) dengan ketua Imam Kanapi sampai 1977. Sekitar 1956-an berdiri ranting Muhammadiyah Slorok dengan ketua Ibnu Mukti sampai tahun 1970-an. Berikutnya dipegang Moh. Shodiq sampai 1975.
Pada 1972-an berdiri Cabang Garum, dengan 3 ranting dan sebagai ketua, pertama adalah Mohammad Shodiq sampai tahun 1992. Kemudian berturut-turut sebagai ketua cabang adalah Imam Kanapi (1990-1995), Makin Wijata (1997) hanya satu tahun karena mengundurkan diri, dilanjutkan Priyanto (1997-2000), dan Sudarmanto (2000-2005).
Di Kanigoro Muhammadiyah pertamakali dikenalkan di Desa Jatinom oleh Hamim pada 1961. Hamim mengenal dari Anshori yang pada waktu itu sebagai ketua Pemuda Muhammadiyah Cabang Blitar (daerah pemudanya masih ikut Kediri), dan berkantor di jl. Seruni, sebelah rumah Moh. Barnawi. Perkenalan dan pertemanan Hamim dengan Anshori kian akrab. Hamim hampir setiap hari main ke kantor tersebut dan merasa tertarik berdialog tentang Muhammadiyah.
Hari-hari berikutnya Hamim tidak sendirian, ia mengajak teman-temannya, seperti Marmin Siswoyo, Purnomo, Mujiono dan Adi Wasito. Keberadaan mereka yang sering ke kantor pemuda akhirnya diketahui Parto Mukri, dan mereka diajak dialog. Atas dorongan dan wejangan dari Parto Mukri inilah Hamim dan kawan-kawan mengadakan pengajian sendiri di desa Jatinom dengan mengajak temannya yang lain seperti Jaeni, Mukhsin (guru MTs Al-Muslihun, sekarang MAN Tlogo), dengan kesepakatan bahwa Jaeni ditunjuk sebagai Kyai.
Kegiatan pengajian diperluas dan makin sering serta berpindah-pindah tempat. Ada 2 pusat kegiatan pengajian, yaitu desa Jatinom dan Satrean (kota kecamatan Kanigoro) yang berjarak Ik 5 km.
Halaman 203
terakhir, kegiatan dipusatkan di desa Satrean, meski warganya banyak dari Jatinom. Muhammadiyah Kanigoro yang mayoritas berasal dari ranting Jatinom, mayoritas warganya sebagai peternak ayam petelor. Pada periode 2000-2005, PDM Blitar dipimpin H. Marmin Siswoyo, dengan 10 cabang dan 29 ranting.
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments