Kedengkian atau hasad merupakan salah satu penyakit hati yang telah ada sejak awal sejarah kehidupan manusia. Kisah Qabil yang membunuh saudaranya, Habil, menjadi bukti bahwa hasad yang dipelihara dapat berubah menjadi kebencian yang berujung pada tindakan yang sangat keji. Peristiwa tersebut mengajarkan bahwa ketika kedengkian bercampur dengan amarah yang tidak terkendali, seseorang dapat kehilangan akal sehat dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.
Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah menjelaskan bahwa hasad adalah keinginan agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang. Senada dengan itu, Ibnu Taimiyah mendefinisikan hasad sebagai rasa benci terhadap kebaikan atau kenikmatan yang dimiliki orang lain.
Kedua definisi tersebut menunjukkan bahwa hasad bukan sekadar iri hati, melainkan keinginan agar orang lain kehilangan nikmat yang telah Allah anugerahkan kepadanya. Sifat seperti ini sangat dilarang dalam Islam karena tidak pernah mendatangkan manfaat, justru melahirkan kegelisahan, permusuhan, dan menjauhkan seseorang dari persaudaraan.
Pendengki biasanya merasa tidak senang melihat orang lain memiliki ilmu, prestasi, atau kelebihan yang lebih baik darinya. Ia lupa bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing serta menyadari bahwa “di atas langit masih ada langit.”
Imam Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa sifat dengki dapat menimbulkan berbagai dampak buruk, seperti sulit tidur, hilangnya nafsu makan, wajah yang tampak muram, hingga akhlak yang semakin buruk.
Rasulullah SAW juga telah memperingatkan umatnya agar menjauhi penyakit hati ini. Beliau bersabda:
“Jauhilah oleh kalian sifat dengki. Maka sesungguhnya dengki itu dapat memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api menghanguskan kayu bakar.”
(HR Abu Dawud)
Hadis tersebut mengingatkan bahwa amal saleh yang telah dikumpulkan dengan susah payah dapat lenyap karena penyakit hasad. Oleh sebab itu, seorang mukmin harus berusaha membersihkan hatinya dari rasa iri dan dengki agar memperoleh ketenangan hidup serta keberkahan amal.
Hasad yang Diperbolehkan
Islam mengenal satu bentuk hasad yang dibenarkan, yaitu ghibthah, yakni keinginan memiliki kebaikan yang sama tanpa berharap nikmat orang lain hilang.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak boleh hasad (ghibthah) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan kepadanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al-Qur’an dan As-Sunnah), kemudian ia mengamalkan dan mengajarkannya.”
(HR Bukhari)
Hadis ini mengajarkan agar seorang muslim berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan berlomba menjatuhkan orang lain.
Empat Cara Mengubur Kedengkian
1. Bertawakal kepada Allah SWT
Orang yang bertawakal selalu memulai segala usaha dengan doa, disertai ikhtiar, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Sikap ini akan melahirkan ketenangan hati sehingga tidak mudah iri terhadap keberhasilan orang lain.
2. Bertakwa kepada Allah SWT
Ketakwaan tercermin melalui amal saleh, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Hati yang dipenuhi ketakwaan tidak akan memberi ruang bagi sifat dengki karena menyadari bahwa setiap ketentuan Allah mengandung hikmah terbaik.
3. Bersyukur atas Nikmat Allah SWT
Rasa syukur menjadikan seseorang merasa cukup atas karunia yang telah diterimanya. Orang yang bersyukur memahami bahwa rezeki setiap manusia telah diatur Allah SWT sehingga ia tidak akan iri terhadap nikmat yang dimiliki orang lain.
4. Bergaul dengan Orang-Orang Saleh
Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter. Bergaul dengan orang-orang yang saleh akan menghadirkan teladan yang baik, memperkuat akhlak mulia, dan mengikis sifat-sifat buruk seperti iri, sombong, serta dengki.
Penutup
Kedengkian tidak pernah membawa keuntungan. Sebaliknya, ia hanya melahirkan kebencian, kegelisahan, dan menggerogoti pahala amal kebaikan yang telah dilakukan.
Seorang mukmin hendaknya membersihkan hati dari iri dan dengki, kemudian menggantinya dengan rasa syukur, tawakal, dan semangat berlomba dalam kebaikan. Dengan hati yang bersih, seseorang akan lebih mudah menghadirkan manfaat bagi sesama dan meraih ketenangan hidup.
Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari penyakit hati berupa hasad serta membimbing langkah kita menuju cahaya kebaikan yang membawa manfaat bagi banyak orang. Aamiin.





0 Tanggapan
Empty Comments