Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan kondisi medan yang sulit menjadi tantangan bagi tim Disaster Medical Committee (DMC) Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan (RSML) dalam menjangkau para penyintas gempa di Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Senin (24/08/2026).
Kondisi tersebut membuat mobilitas tim untuk memberikan pelayanan kesehatan ke sejumlah posko pengungsian menjadi terbatas. Selain BBM yang sulit diperoleh, kerusakan jalan akibat gempa membuat beberapa wilayah tidak dapat dijangkau kendaraan.
Sejumlah posko berada di kawasan perbukitan dengan akses jalan yang sulit. Untuk mencapai lokasi, relawan DMC RSML harus meninggalkan kendaraan dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
“Kelangkaan BBM menjadi salah satu kendala kami dalam bergerak menuju posko-posko. Ditambah kondisi medan yang sulit, terutama posko yang berada di perbukitan. Ada lokasi yang hanya bisa kami jangkau dengan berjalan kaki,” ujar dr. Muhammad Ivanda Dewantara (dr. Ivan), dokter DMC RSML.
Menurut dr. Ivan, kondisi tersebut membuat jangkauan pelayanan kesehatan belum dapat mencakup seluruh posko yang berada di wilayah terdampak. Masih terdapat sejumlah posko yang hingga hari ini belum mendapatkan pelayanan kesehatan secara langsung dari tim.
“Kami sebenarnya ingin menjangkau semua posko, tetapi aksesnya tidak mudah. Ada yang terkendala BBM, ada juga lokasi yang jalannya rusak dan harus ditempuh dengan berjalan kaki. Karena itu, masih ada posko yang belum sempat kami datangi,” jelasnya.
Jalan Kaki Tembus Perbukitan
Kondisi geografis menjadi tantangan tersendiri dalam respons kesehatan pascagempa. Beberapa posko pengungsian berada di wilayah yang lebih tinggi dan jauh dari akses jalan utama.
Tim DMC RSML harus berjalan kaki membawa perlengkapan pelayanan untuk mencapai masyarakat yang berada di lokasi tersebut. Perjalanan menjadi lebih berat karena medan yang menanjak dan kondisi jalan yang terdampak gempa.
Meski demikian, keterbatasan akses tidak menghentikan upaya relawan untuk menjangkau masyarakat.
Bagi tim DMC RSML, pelayanan dengan sistem mobile health service memang menuntut fleksibilitas. Ketika kendaraan tidak dapat masuk, relawan berupaya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki agar masyarakat yang berada jauh dari fasilitas kesehatan tetap memiliki kesempatan mendapatkan pelayanan.
Banyak Posko Masih Menunggu
DMC RSML mencatat masih terdapat posko-posko pengungsian yang belum mendapatkan pelayanan secara langsung. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebutuhan kesehatan masyarakat terus berjalan selama masa tanggap darurat.
Sebelumnya, tim telah melakukan pelayanan kesehatan di sejumlah wilayah, di antaranya Desa Golopau, Desa Nanga Mbaur, Desa Tembalajar, serta Persai, Desa Pota.
Pelayanan juga dilakukan dengan membantu Puskesmas Pota dalam layanan rawat jalan dan rawat inap.
Namun, luasnya wilayah terdampak dan sulitnya akses membuat pelayanan harus dilakukan secara bertahap.
“Kami berharap akses menuju posko-posko yang belum terjangkau bisa semakin terbuka. Karena kebutuhan masyarakat tetap ada, sementara beberapa posko masih menunggu pelayanan,” ujar dr. Ivan.
Menurutnya, dukungan berbagai pihak dibutuhkan agar mobilitas relawan dapat lebih maksimal. Ketersediaan BBM menjadi salah satu faktor penting untuk memastikan kendaraan dapat bergerak menjangkau wilayah terdampak.
Di sisi lain, relawan juga harus mempersiapkan tenaga dan perlengkapan untuk berjalan kaki ketika kendaraan tidak memungkinkan masuk ke lokasi.
“Semangat kami tetap untuk menjangkau masyarakat. Walaupun akses sulit, kami berusaha mencari cara agar pelayanan bisa sampai kepada penyintas, termasuk dengan berjalan kaki menuju posko yang berada di perbukitan,” pungkas dr. Ivan.
Kondisi tersebut menggambarkan tantangan respons kemanusiaan di wilayah terdampak gempa Manggarai Timur. Bukan hanya kebutuhan tenaga dan obat-obatan, tetapi juga akses transportasi dan ketersediaan BBM menjadi faktor penting agar pelayanan dapat menjangkau seluruh penyintas. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments