Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Muhammadiyah Jatim Perkuat Kerja Sama dengan Tiongkok, Bidik Kesehatan dan Pendidikan

Iklan Landscape Smamda
Muhammadiyah Jatim Perkuat Kerja Sama dengan Tiongkok, Bidik Kesehatan dan Pendidikan
Jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur bertemu onsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Surabaya. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Muhammadiyah Jawa Timur (Jatim) mulai mengarahkan hubungan dengan Tiongkok ke kerja sama yang lebih konkret. Tak hanya pendidikan, kolaborasi juga dibidik pada bidang kesehatan, penanganan stunting, tuberkulosis (TBC), hingga pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Langkah itu mengemuka dalam pertemuan jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur dengan Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Surabaya, Mr Ye Su, Sabtu (25/7/2026) lalu.

Pertemuan tersebut dihadiri Ketua PWM Jawa Timur Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM, Wakil Ketua PWM Jawa Timur Ir. Tamhid Masyudi dan Dr. Hidayatulloh, Wakil Sekretaris PWM Jawa Timur Moh. Mudzakkir, Ph.D, serta Wakil Bendahara PWM Jawa Timur Fityan Izza Noor Abidin, SE, MSA, Ak.

Pertemuan yang berlangsung hangat dan akrab tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi. Di dalamnya dibicarakan berbagai peluang kolaborasi strategis antara Muhammadiyah Jawa Timur dan Tiongkok, terutama yang memiliki dampak langsung terhadap peningkatan kualitas manusia.

Ketua PWM Jawa Timur Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM, mengatakan pertemuan tersebut menjadi bagian dari langkah Muhammadiyah Jatim untuk memperluas kontribusi di tingkat internasional.

“Ini langkah nyata Muhammadiyah Jatim untuk terus berkontribusi dalam kancah internasional tanpa meninggalkan akar nilai-nilai Islam berkemajuan,” ujar Sukadiono kepada PWMU.CO, Kamis (30/7/2026).

Pertemuan itu sekaligus mempertemukan dua pengalaman dalam mengelola berbagai persoalan pembangunan manusia.

Tiongkok memiliki pengalaman panjang dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan pendidikan masyarakat, sedangkan Muhammadiyah memiliki jaringan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang luas.

Ye Su Ingin Kenal Sukadiono

Suasana pertemuan semakin cair ketika Ye Su mengaku ingin berkenalan secara langsung dengan Sukadiono yang kini memegang posisi strategis di tingkat nasional.

Selain sebagai Ketua PWM Jawa Timur, Sukadiono dipercaya sebagai Deputi II Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).

Ye Su menanyakan kabar Sukadiono sekaligus menggali tugas dan tanggung jawabnya di Kemenko PMK.

Muhammadiyah Jatim Perkuat Kerja Sama dengan Tiongkok, Bidik Kesehatan dan Pendidikan
Jamuan makan yang hangat dan penuh keakraban. Foto: Istimewa

Sukadiono menjelaskan, sebagai Deputi II Kemenko PMK, dirinya menangani sejumlah agenda strategis di bidang kesehatan yang melibatkan beberapa kementerian.

“Salah satu perhatian utamanya adalah peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, termasuk mendorong rumah sakit daerah agar naik kelas sehingga mampu memberikan pelayanan spesialistik, terutama bagi masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T),” terang Sukadiono.

Menurut dia, penguatan rumah sakit di daerah penting untuk memperkecil kesenjangan akses layanan kesehatan. Masyarakat di wilayah 3T diharapkan tidak harus selalu dirujuk ke kota besar hanya untuk mendapatkan layanan kesehatan spesialistik.

Pembicaraan kemudian bergeser pada persoalan kesehatan yang hingga kini masih menjadi tantangan Indonesia, terutama stunting dan TBC.

Sukadiono secara khusus menanyakan kepada Ye Su bagaimana Tiongkok mengatasi persoalan stunting dan TBC yang pernah menjadi tantangan serius di negara tersebut.

Pertanyaan tersebut menarik karena Indonesia hingga kini masih menghadapi pekerjaan besar dalam memperbaiki kualitas gizi masyarakat sekaligus mengendalikan penyakit menular seperti TBC.

Ye Su menjelaskan bahwa keberhasilan Tiongkok dalam menangani persoalan kesehatan tidak diperoleh secara instan. Dibutuhkan kerja keras, keseriusan, serta program yang dilakukan secara masif dan konsisten.

“Dibutuhkan kerja keras, keseriusan, serta langkah yang dilakukan secara masif dan konsisten,” ujar Ye Su.

Menurut dia, salah satu kunci pentingnya adalah perbaikan gizi masyarakat yang disertai dengan perhatian serius terhadap kebersihan lingkungan.

“Salah satu kuncinya adalah perbaikan gizi masyarakat dan perhatian serius terhadap kebersihan lingkungan,” imbuhnya.

Bagi Sukadiono, pengalaman tersebut relevan untuk dipelajari Indonesia. Sebab, agenda kesehatan tidak hanya menyangkut pengobatan ketika seseorang sudah sakit, tetapi juga pencegahan sejak dini.

Pemenuhan gizi, kesehatan ibu dan anak, kebersihan lingkungan, hingga pengendalian penyakit menular merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan manusia.

Dalam pertemuan tersebut, Sukadiono juga menjelaskan tugasnya dalam melakukan monitoring, salah satnya layanan bagi ibu hamil dan balita.

Penugasan tersebut diberikan Menko PMK Prof Pratikno sebagai bagian dari upaya memastikan program pemenuhan gizi menyentuh kelompok yang membutuhkan perhatian khusus.

Menurut Sukadiono, perguruan tinggi Muhammadiyah juga memiliki potensi untuk terlibat dalam agenda peningkatan kualitas gizi masyarakat.

“Salah satu contohnya adalah Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) yang menyiapkan menu khusus bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita,” terang Sukadiono.

Model tersebut menunjukkan bahwa institusi pendidikan tidak hanya menjadi tempat pembelajaran, tetapi juga dapat mengambil peran dalam menjawab persoalan kesehatan masyarakat.

Ye Su Undang Sukadiono ke Tiongkok

SMPM 5 Pucang SBY

Pembicaraan mengenai pengalaman Tiongkok dalam menangani stunting dan TBC tidak berhenti di meja pertemuan. Ye Su mengundang Sukadiono untuk melihat secara langsung penanganan TBC di Tiongkok.

Undangan tersebut membuka peluang pertukaran pengalaman yang lebih konkret. Sukadiono dapat melihat bagaimana Tiongkok membangun sistem pencegahan dan penanganan kesehatan masyarakat, sementara Muhammadiyah Jawa Timur memiliki pengalaman melalui jaringan rumah sakit dan institusi pendidikan yang dimilikinya.

Sukadiono pun merespons undangan tersebut dengan membawa perspektif Muhammadiyah Jawa Timur.

Dia menjelaskan, jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah-Aisyiyah (RSMA) memiliki peran dalam pelayanan kesehatan, termasuk sebagai rumah sakit rujukan TBC.

Muhammadiyah Jatim Perkuat Kerja Sama dengan Tiongkok, Bidik Kesehatan dan Pendidikan
Ketua PWM Jawa Timur Prof. Sukadiono bersama Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Surabaya, Mr Ye Su. Foto: Istimewa

Dengan demikian, jika kunjungan tersebut terealisasi, agenda ke Tiongkok berpotensi tidak hanya menjadi kunjungan pejabat pemerintah. Lebih jauh, kunjungan itu dapat menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara pemerintah Indonesia dan jaringan pelayanan kesehatan Muhammadiyah.

Dari Kesehatan ke Pendidikan

Kerja sama Muhammadiyah Jawa Timur dengan Tiongkok juga bergerak di sektor pendidikan.

Wakil Ketua PWM Jawa Timur Ir. Tamhid Masyudi mengatakan, salah satu perkembangan terbaru adalah rencana kunjungan delegasi Guangzhou University ke Muhammadiyah Jawa Timur pada 19 Agustus 2026.

“Salah satu perkembangan terbarunya adalah rencana kunjungan delegasi Guangzhou University ke Muhammadiyah Jawa Timur pada 19 Agustus 2026 mendatang,” katanya.

Delegasi tersebut direncanakan mengunjungi dua perguruan tinggi Muhammadiyah, yakni Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) dan Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura).

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari tindak lanjut hubungan yang sebelumnya dibangun melalui kunjungan Muhammadiyah Jawa Timur ke Tiongkok.

Pada April 2026, Rektor dan sejumlah kepala sekolah Muhammadiyah telah berkunjung ke Guangzhou dan Shenzhen.

“Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya membuka peluang kerja sama sekaligus melihat secara langsung perkembangan pendidikan dan berbagai inovasi yang berkembang di Tiongkok,” terang Tamhid.

Kini, kunjungan balasan Guangzhou University ke Jawa Timur menjadi tahap berikutnya.

Hubungan yang sebelumnya dimulai melalui perkenalan dan kunjungan mulai bergerak menuju pola kerja sama dua arah.

Rangkaian agenda tersebut menunjukkan bahwa langkah Muhammadiyah Jawa Timur membangun hubungan dengan Tiongkok tidak berhenti pada diplomasi kelembagaan.

Ada agenda yang lebih substantif, yakni kesehatan, pendidikan, pengembangan SDM, dan pertukaran pengetahuan.

Muhammadiyah Jatim memiliki modal sosial yang kuat untuk membangun kerja sama lintas negara. Jaringan perguruan tinggi, sekolah, rumah sakit, dan berbagai lembaga sosial Muhammadiyah menyediakan ruang yang luas bagi kolaborasi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Di sisi lain, Tiongkok memiliki pengalaman panjang dalam membangun sistem pendidikan, kesehatan, teknologi, serta pengembangan SDM dalam skala besar.

Pertemuan dengan Ye Su karena itu menjadi ruang untuk mempertemukan dua kekuatan tersebut: pengalaman dan kapasitas Tiongkok dengan jaringan sosial-keumatan Muhammadiyah.

Bagi Muhammadiyah Jawa Timur, kerja sama internasional bukan semata-mata tentang memperluas jaringan. Yang lebih penting adalah memastikan hubungan tersebut menghasilkan manfaat konkret bagi masyarakat.

Kesehatan menjadi salah satu pintu masuk yang strategis. Stunting, kesehatan ibu dan anak, MBG, hingga TBC merupakan persoalan yang berkaitan langsung dengan kualitas SDM Indonesia. Sementara pendidikan menjadi investasi jangka panjang.

Rencana kunjungan Guangzhou University ke Umsida dan Umsura pada 19 Agustus 2026 menjadi salah satu penanda bahwa hubungan Muhammadiyah Jawa Timur dengan Tiongkok mulai diarahkan menuju kerja sama yang lebih terstruktur.

Dari pertemuan dengan Konsul Jenderal Tiongkok di Surabaya, pembicaraan kini bergerak menuju agenda kunjungan, pertukaran pengalaman, dan peluang kolaborasi konkret.

Karena itu, langkah Muhammadiyah Jatim ke Tiongkok layak dibaca lebih dari sekadar diplomasi silaturahmi.

Ada kesehatan yang bisa dipelajari bersama. Ada pendidikan yang membuka ruang kolaborasi. Ada pengembangan SDM yang menjadi kepentingan bersama.

Dan ada satu prinsip yang tetap menjadi pijakan Muhammadiyah Jawa Timur: terbuka terhadap dunia, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai Islam berkemajuan. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 30/07/2026 08:44
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu