Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

7 Kampus Muhammadiyah Tembus 25 Besar Universitas Islam Dunia, Bidik 100 Besar Global

Iklan Landscape Smamda
7 Kampus Muhammadiyah Tembus 25 Besar Universitas Islam Dunia, Bidik 100 Besar Global
Kampus UMM dan Umsura
pwmu.co -

Tujuh Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) berhasil masuk dalam 25 besar universitas Islam terbaik dunia versi uniRank. Capaian tersebut menempatkan perguruan tinggi Muhammadiyah semakin diperhitungkan di panggung pendidikan tinggi global.

Tujuh PTMA yang masuk dalam daftar tersebut adalah Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) di peringkat pertama, Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) di posisi kelima, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di peringkat ketujuh, serta Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) di posisi kedelapan.

Tiga PTMA lainnya ialah Universitas Ahmad Dahlan (UAD) di peringkat ke-17, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di posisi ke-19, dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di peringkat ke-22.

Capaian tersebut menjadi gambaran perkembangan PTMA dalam membangun pendidikan tinggi yang semakin berorientasi pada mutu dan reputasi internasional.

Namun, Muhammadiyah mengingatkan agar capaian pemeringkatan tersebut tidak menjadi alasan untuk berpuas diri. Masuknya tujuh PTMA dalam 25 besar dunia justru harus menjadi pijakan untuk memperkuat kualitas akademik, riset, publikasi ilmiah, dan internasionalisasi.

Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah Ahmad Muttaqin mengatakan pemeringkatan uniRank lebih banyak bertumpu pada aspek popularitas. Karena itu, reputasi PTMA perlu terus diperkuat dengan indikator akademik yang lebih substantif.

“Kita bersyukur dari 165 PTMA, 21 di antaranya sudah meraih peringkat unggul. Tapi itu belum cukup dan masih banyak hal yang perlu kita tingkatkan,” kata Muttaqin.

Menurut dia, publikasi ilmiah, dampak riset, internasionalisasi, dan reputasi akademik harus menjadi agenda utama pengembangan PTMA ke depan.

Bukan Sekadar Mengejar Peringkat

Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Bambang Setiaji menilai capaian tujuh PTMA tersebut tidak muncul secara instan. Prestasi itu merupakan hasil dari proses panjang dalam membangun sistem pendidikan tinggi Muhammadiyah.

Salah satu fondasinya adalah pengelolaan pendidikan berbasis wakaf atau nirlaba. Menurut Bambang, sistem tersebut memungkinkan hasil usaha dikembalikan untuk pengembangan perguruan tinggi, termasuk meningkatkan kualitas sumber daya akademik.

“Karena pemupukan dana itu sangat penting untuk jangka panjang suatu universitas. Dana tersebut nantinya dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas tenaga akademisi,” ujarnya saat dihubungi Jumat (24/7).

Menurut Bambang, pengelolaan yang sehat tidak hanya menghasilkan capaian dalam pemeringkatan. Lebih dari itu, sistem pendidikan yang kuat harus mampu membangun kultur akademik yang mendorong mahasiswa menjadi pribadi mandiri, inovatif, dan adaptif terhadap perubahan.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan PTMA tidak berhenti pada seberapa tinggi posisi sebuah kampus dalam pemeringkatan. Mutu akademik, karakter lulusan, kemampuan beradaptasi, dan kontribusi kepada masyarakat menjadi bagian penting dari pendidikan yang dikembangkan Muhammadiyah.

Lulusan Tak Cukup Hanya Jadi Pencari Kerja

Tantangan lain yang menjadi perhatian Muhammadiyah adalah masa depan lulusan di tengah perubahan struktur dunia kerja.

Muttaqin menilai menyusutnya lapangan kerja formal membuat sebagian lulusan perguruan tinggi akhirnya masuk ke sektor nonformal karena terbatasnya pilihan pekerjaan.

“Tanpa mengecilkan pekerjaan-pekerjaan tersebut, tetapi faktanya pekerjaan itu dijalani karena mereka tidak memiliki pilihan lain,” ujarnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Karena itu, PTMA didorong tidak sekadar mencetak lulusan yang siap menjadi pencari kerja. Perguruan tinggi juga harus membangun kemampuan mahasiswa agar mampu menciptakan lapangan pekerjaan melalui kreativitas, inovasi, dan pemanfaatan talenta.

“Talenta para alumni itu bisa dimanfaatkan tidak harus di lapangan industri. Karena itu dibutuhkan kreativitas dan inovativitas agar dapat mencapainya,” imbuhnya.

Perubahan teknologi, termasuk perkembangan kecerdasan artifisial (AI), menurut Muttaqin justru membuka peluang baru. Munculnya berbagai profesi dan model pekerjaan baru harus direspons dengan pendidikan yang adaptif.

Karena itu, PTMA terus menyesuaikan kurikulum agar lulusan tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga kemampuan menghadapi perubahan teknologi dan dunia kerja.

Ilmu, Karakter, dan Spiritualitas

Bambang menegaskan pendidikan PTMA juga memiliki dimensi pembentukan karakter. Penguasaan ilmu pengetahuan perlu berjalan beriringan dengan pembentukan kecerdasan spiritual dan moral.

Pendekatan bayani, irfani, dan burhani menjadi salah satu kerangka yang digunakan untuk membangun keseimbangan tersebut. Lulusan diharapkan memiliki kecerdasan intelektual sekaligus spiritual sehingga mampu menghadapi persoalan kehidupan secara bijaksana dan inovatif.

Orientasi itu menjadi bagian dari karakter pendidikan Muhammadiyah: membangun manusia yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap persoalan sosial dan mampu memberikan kontribusi nyata.

Setelah tujuh PTMA berhasil menembus 25 besar universitas Islam dunia, Muhammadiyah kini menyiapkan target yang lebih tinggi.

Muttaqin mengatakan penguatan reputasi global akan dilakukan dengan memperkuat integrasi antarsesama PTMA. Keunggulan setiap perguruan tinggi diharapkan dapat saling melengkapi sehingga membentuk kekuatan bersama.

“Kami telah merundingkan apa yang bisa kita bawa ke reputasi global. Selanjutnya aspek mana yang akan kita sasar,” ungkapnya.

Strategi itu dilakukan secara bertahap. PTMA yang belum meraih predikat unggul akan terus didampingi untuk meningkatkan mutu. Sementara PTMA yang telah unggul akan didorong menembus pemeringkatan internasional yang lebih tinggi.

Target akhirnya bukan lagi sekadar menjadi bagian dari universitas Islam terbaik dunia.

“Hingga kemudian kami berharap akan ada PTMA yang berhasil masuk ke peringkat seratus dunia, bahkan menduduki peringkat pertama,” tuturnya.

Capaian tujuh PTMA dalam pemeringkatan uniRank akhirnya bukan sekadar soal angka dan posisi. Bagi Muhammadiyah, prestasi tersebut menjadi momentum untuk memperkuat fondasi pendidikan tinggi yang unggul, memperluas reputasi internasional, meningkatkan dampak riset, serta melahirkan lulusan yang mampu menciptakan peluang di tengah perubahan zaman.

Dari tujuh kampus yang masuk 25 besar, Muhammadiyah kini membidik panggung yang lebih besar: membawa PTMA menembus 100 besar universitas dunia. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 29/07/2026 16:53
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu