Salat bukan sekadar kewajiban yang ditunaikan lima kali sehari. Salat seharusnya menjadi kekuatan yang menjaga seorang Muslim dari perbuatan keji dan mungkar.
Al-Qur’an menegaskan hal itu dengan sangat jelas:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)
Ayat ini menyimpan pesan yang sangat dalam. Salat yang benar tidak berhenti pada gerakan berdiri, rukuk, sujud, dan salam.
Salat seharusnya meninggalkan pengaruh dalam perilaku seseorang setelah ia keluar dari tempat salat.
Karena itu, ada pertanyaan sederhana yang layak kita ajukan kepada diri sendiri: setelah salat, apakah diri kita menjadi lebih mampu menahan diri dari keburukan?
Sebab, kemampuan salat dalam mencegah perbuatan keji dan mungkar sangat berkaitan dengan kualitas salat yang dilakukan.
Salat Bukan Sekadar Menggugurkan Kewajiban
Ketika seseorang sedang salat, setidaknya pada saat itu ia berhenti dari berbagai aktivitas duniawi. Ia meninggalkan pekerjaan, percakapan, urusan bisnis, hiburan, bahkan sejenak melepaskan perhatian dari telepon genggamnya.
Ia berdiri menghadap Allah Ta’ala.
Dalam beberapa menit itu, seorang hamba sedang berada dalam keadaan taat. Lisannya membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Tubuhnya rukuk dan sujud. Hatinya semestinya tunduk dan mengingat kebesaran Allah.
Tetapi salat tidak seharusnya berhenti ketika salam diucapkan.
Salat yang baik semestinya membawa bekas dalam kehidupan. Ia membuat seseorang lebih malu berbuat dosa, lebih kuat menahan hawa nafsu, lebih hati-hati menggunakan lisannya, dan lebih takut mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Di sinilah kualitas salat menjadi penting.
Ketika Salat Berhadapan dengan Godaan Kehidupan
Bayangkan seorang pegawai yang baru saja selesai salat Zuhur. Beberapa jam kemudian, ia mendapat kesempatan untuk memanipulasi sebuah laporan. Tidak ada yang melihat. Tidak ada kamera. Bahkan mungkin atasannya sendiri tidak akan mengetahui.
Secara duniawi, ia bisa saja mendapatkan keuntungan.
Namun, tiba-tiba ia teringat sujudnya.
Beberapa jam sebelumnya, dahinya menyentuh tempat sujud sambil mengakui bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Melihat. Ia pun teringat bahwa tidak ada satu pun perbuatannya yang benar-benar tersembunyi dari Allah.
Akhirnya, tangannya berhenti.
Ia memilih jujur meskipun kejujuran itu mungkin membuatnya kehilangan keuntungan.
Begitu pula seseorang yang sedang tergoda untuk menggunjing temannya. Ia mungkin sudah membuka mulut untuk menceritakan aib orang lain. Tetapi kemudian ia teringat bacaan salatnya, teringat bahwa beberapa waktu lalu ia berdiri menghadap Allah, lalu muncul kesadaran: bagaimana mungkin lisanku digunakan untuk mengingat Allah dalam salat, tetapi setelahnya digunakan untuk menyakiti orang lain?
Ia memilih diam. Di situlah salat mulai bekerja dalam kehidupan.
Salat tidak selalu membuat godaan menghilang. Godaan tetap ada. Keinginan berbuat salah juga mungkin tetap muncul. Tetapi salat yang berkualitas membangun rem di dalam diri.
Salat Membangun Rem Moral dalam Diri
Kualitas salat antara lain ditandai dengan hati yang kembali kepada Allah melalui pertobatan, kesadaran bahwa dirinya sedang menghadap Allah Ta’ala, serta kuatnya iman di dalam hati.
Ketika keadaan itu terus dipelihara, salat akan membentuk hubungan batin antara ibadah dan perilaku.
Seseorang yang benar-benar menghadirkan Allah dalam salatnya akan membawa kesadaran itu ke luar salat.
Ketika hendak berbohong, ia ingat Allah.
Ketika hendak mengambil hak orang lain, ia ingat Allah.
Ketika hendak melakukan perbuatan yang tidak pantas, ia ingat bahwa Allah melihatnya.
Ketika sedang marah dan ingin melukai orang lain dengan kata-kata, ia teringat bahwa lisannya baru saja digunakan untuk membaca kalam Allah.
Kesadaran seperti inilah yang perlahan menjadi penjaga diri.
Maka, ukuran keberhasilan salat bukan hanya seberapa cepat seseorang menyelesaikan lima waktu dalam sehari, tetapi juga seberapa jauh salat itu membentuk akhlaknya.
Salat yang Mengubah Perilaku
Ada orang yang rajin salat, tetapi masih mudah berdusta.
Ada yang tidak pernah meninggalkan salat, tetapi lisannya masih gemar mencela.
Ada yang tekun bersujud, tetapi tangannya masih ringan mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Ada pula yang rajin beribadah, tetapi mudah menyakiti hati orang lain.
Kondisi seperti ini bukan berarti kita boleh meremehkan salat. Justru sebaliknya, kita perlu bertanya lebih dalam: sudahkah salat kita benar-benar dihayati?
Sebab salat bukan hanya kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi juga pendidikan jiwa yang dilakukan berulang-ulang setiap hari.
Lima kali sehari Allah memanggil kita untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia.
Lima kali sehari kita diajarkan untuk berdiri di hadapan-Nya.
Lima kali sehari kita diingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang pekerjaan, uang, jabatan, popularitas, dan kesenangan.
Ada Allah yang harus kita sembah.
Ada kehidupan akhirat yang harus kita persiapkan.
Dan ada perilaku yang harus kita pertanggungjawabkan.
Jika kesadaran itu benar-benar tumbuh, maka salat akan menjadi lebih dari sekadar rutinitas. Salat menjadi sumber kekuatan untuk menolak keburukan.
Jangan Hanya Membawa Tubuh ke Tempat Salat
Kadang-kadang tubuh kita memang hadir di tempat salat, tetapi pikiran dan hati masih sibuk dengan urusan dunia.
Kita berdiri, tetapi hati ke mana-mana.
Kita rukuk, tetapi pikiran masih mengejar pekerjaan.
Kita sujud, tetapi hati belum benar-benar merasa membutuhkan Allah.
Karena itu, salat perlu terus diperbaiki. Bukan hanya gerakannya, tetapi juga kekhusyukan, kesadaran, keikhlasan, dan penghayatannya.
Sebab ketika hati benar-benar menghadap Allah, salat akan meninggalkan jejak.
Jejak itu mungkin tidak langsung terlihat dalam satu hari. Namun, sedikit demi sedikit ia membentuk karakter.
Dari yang mudah marah menjadi lebih mampu menahan diri.
Dari yang mudah berbohong menjadi lebih mencintai kejujuran.
Dari yang mudah menggunjing menjadi lebih menjaga lisan.
Dari yang mudah tergoda menjadi lebih kuat menolak kemungkaran.
Itulah salah satu buah salat yang sesungguhnya.
Maka, ketika kita membaca firman Allah bahwa “sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”, jangan hanya memahaminya sebagai sebuah ayat yang indah.
Mari kita jadikan ia sebagai cermin.
Sudahkah salat kita membuat kita lebih takut berbuat dosa?
Jika belum, mungkin bukan salatnya yang harus kita tinggalkan, tetapi kualitas salat kita yang harus terus diperbaiki.
Perbanyak istigfar. Hadirkan hati ketika salat. Pahami bacaan yang kita ucapkan. Rasakan bahwa kita sedang menghadap Allah. Dan setelah salam, usahakan agar ketundukan itu tetap hidup dalam perilaku sehari-hari.
Semoga salat kita benar-benar menjadi penjaga diri dari perbuatan keji dan mungkar, sekaligus menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah Ta’ala.
Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad.
Ya Allah, Ya Rabb, Ya Rahman, Ya Rahim, ampunilah kesalahan dan dosa-dosa kami. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang istikamah menjalankan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu.
Tetapkanlah iman dan Islam dalam hati kami. Limpahkan kepada kami kesehatan, hidayah, rahmat, dan perlindungan-Mu di dunia dan akhirat.
Ya Allah, berilah kami ilmu yang bermanfaat, rezeki yang berkah, dan amal yang Engkau terima.
Ya Allah, terimalah dan kabulkanlah doa-doa kami.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.”
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments