Selama ini dakwah kerap identik dengan mereka yang berdiri di mimbar. Padahal, di belakang banyak perjuangan itu ada perempuan yang menjaga rumah, menguatkan suami, dan ikut menanggung beban perjuangan.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua PDM Kota Surabaya Ustaz Suhadi M Sahli dalam acara Napak Tilas Risalah Dakwah dan Konsolidasi Pimpinan Majelis Tabligh PDM Kota Surabaya di Hotel Indies Malioboro, Yogyakarta, Ahad-Selasa (23-25/8/2026).
Suhadi secara khusus menyoroti peran perempuan dan keluarga yang kerap tidak terlihat dalam narasi perjuangan. Menurutnya, kiprah seorang suami dalam dakwah tidak dapat dilepaskan dari dukungan istri yang berada di belakangnya.
“Terima kasih kepada ibu-ibu, pembangkit semangat, pendorong, dan motivator,” ujar Suhadi.
Dia bahkan menyebut keluarga, terutama istri, sebagai salah satu sumber kekuatan yang membuat seorang laki-laki mampu terus menjalankan amanah perjuangan.
“Perjuangan bapak-bapak luar biasa karena ada pembangkitan dari ibu. Kalau tidak ada ibu yang membangkitkan, suami tidak bisa bangkit,” tuturnya.
Untuk menggambarkan besarnya peran perempuan dalam perjuangan, Suhadi mengajak peserta meneladani keteguhan Siti Hajar. Kisah perempuan yang ditinggalkan Nabi Ibrahim alaihis salam bersama putranya, Ismail, di lembah yang tandus itu menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu hadir dalam bentuk yang terlihat heroik.
Siti Hajar menjalani situasi berat dengan keyakinan bahwa apa yang dilakukan Nabi Ibrahim merupakan bagian dari perintah Allah. Ia kemudian berikhtiar mencari pertolongan dengan berlari antara Safa dan Marwah hingga akhirnya Allah menghadirkan Zamzam.
“Anak kecil ditinggal di gurun, ditinggal suami, dan dia rela karena panggilan Allah. Semoga hidupnya ditolong Allah. Setidaknya kita meniru,” kata Suhadi.
Bagi Suhadi, kisah tersebut menunjukkan bahwa perjuangan seorang laki-laki juga membutuhkan keteguhan orang-orang yang berada di lingkaran terdekatnya. Karena itu, keluarga tidak semestinya diposisikan sebagai urusan yang terpisah dari dakwah.
Justru keluarga menjadi fondasi yang memungkinkan perjuangan berlangsung lebih panjang.
Perempuan Bukan Penonton dalam Perjuangan
Suhadi juga mengangkat kisah Asma binti Yazid yang pernah menyampaikan pertanyaan kepada Rasulullah ﷺ mengenai kesempatan perempuan memperoleh pahala perjuangan.
Pertanyaan itu lahir dari kesadaran bahwa laki-laki memiliki sejumlah ruang amal yang secara sosial lebih banyak terlihat, seperti berjamaah dan berjihad. Sementara itu, banyak perempuan menjalankan tanggung jawab keluarga di rumah.
Menurut Suhadi, kisah tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak menempatkan perempuan sebagai penonton dalam perjuangan. Setiap orang memiliki ruang pengabdian dan amal yang dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan ikhlas karena Allah.
“Pertanyaan luar biasa. Belum pernah ada wanita bertanya seperti ini,” ujarnya.
Karena itu, perjuangan tidak boleh hanya diukur dari siapa yang berada di depan. Ada perjuangan yang berlangsung di rumah: mendampingi keluarga, menjaga anak, memberi ketenangan kepada pasangan, serta menciptakan ruang yang memungkinkan seseorang menjalankan amanah sosial dan dakwah.
Dengan perspektif itu, keberhasilan seorang aktivis dakwah tidak sepenuhnya merupakan prestasi personal. Ada keluarga yang ikut menopangnya.
Suhadi kemudian mengingatkan peserta pada Surah at-Taubah ayat 20-21 mengenai orang-orang beriman yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka.
Ia menjelaskan bahwa konsep fi sabilillah tidak semata-mata dimaknai dalam ruang yang sempit. Dalam perspektif Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, sabilillah berarti jalan Allah.
“Seluruh gerakan, perbuatan, dan amal shalih untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi itu fi sabilillah,” jelasnya.
Karena itu, dakwah tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Harta, ilmu, tenaga, waktu, jabatan, kedudukan, maupun kemampuan tertentu dapat menjadi modal perjuangan jika diarahkan untuk agama dan kemaslahatan umat.
“Bi amwalihim, dengan harta. Wa anfusihim, dengan jiwa,” katanya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap kecenderungan menjadikan dakwah sekadar aktivitas organisasi atau perebutan posisi. Menurut Suhadi, yang lebih penting bukan seberapa tinggi posisi seseorang, melainkan seberapa jauh ia benar-benar mengambil bagian dalam perjuangan.
“Bukan yang elit, tapi yang alit, jika tidak berjuang,” tegasnya.
Mengubah Cara Pandang tentang Dakwah
Pesan Suhadi pada akhirnya membawa dakwah kembali kepada fondasinya: pengabdian kepada Allah yang melibatkan seluruh ekosistem kehidupan, termasuk keluarga.
Dakwah bukan hanya tentang orang yang berbicara di depan publik. Ia juga tentang pasangan yang memberi dukungan, keluarga yang menjaga ketenangan rumah, orang tua yang mendidik anak, serta setiap individu yang menggunakan apa pun yang dimilikinya untuk kemaslahatan.
Karena itu, konsolidasi Majelis Tabligh tidak cukup dimaknai sebagai penguatan struktur organisasi. Lebih jauh, ia perlu menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa gerakan dakwah membutuhkan manusia-manusia yang memiliki orientasi akhirat sekaligus keluarga yang kokoh.
“Orang itu mikir akhirat, dunia dapat. Jika mikir dunia, akhirat tidak dapat,” ungkap Suhadi.
Ia mengajak para pimpinan Majelis Tabligh menjadikan perjuangan dakwah sebagai bagian dari orientasi hidup, bukan sekadar aktivitas tambahan di tengah kesibukan dunia.
Dengan demikian, dakwah tidak berhenti di mimbar dan forum organisasi. Ia hidup di rumah, dibangun melalui keteladanan, dikuatkan oleh keluarga, dan diwujudkan melalui seluruh potensi yang dimiliki setiap orang. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments