Sebanyak 23 tumpeng berisi hasil bumi dikirab masyarakat Desa Sumberjo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, dalam rangkaian Syukuran Gedang, Sabtu (22/8/2026).
Kirab tersebut menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas melimpahnya potensi hasil bumi Desa Sumberjo. Kegiatan berlangsung meriah dengan melibatkan masyarakat, unsur pemerintahan, serta mahasiswa KKN-P Kelompok 37 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).
Syukuran Gedang baru dilaksanakan untuk kedua kalinya di Desa Sumberjo. Tradisi ini dikemas sebagai upaya untuk mengenalkan sekaligus menjaga potensi hasil bumi yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Sebagian besar warga Desa Sumberjo berprofesi sebagai petani dan perhutani. Kondisi tersebut menjadikan sektor pertanian sebagai salah satu potensi utama desa.
Rangkaian acara dimulai dengan upacara pemberangkatan Kirab 23 Tumpeng Hasil Bumi dari Dusun Sidolegi. Sebelum kirab dimulai, masyarakat bersama perangkat desa, tamu undangan, dan peserta kegiatan mengikuti prosesi pemberangkatan menuju Lapangan Desa Sumberjo.
Tumpeng yang dibawa warga berisi berbagai hasil bumi, mulai dari sayuran hingga buah-buahan. Pisang menjadi salah satu komoditas yang cukup melimpah di wilayah tersebut.
Beragam hasil bumi itu kemudian disusun dan dikemas dalam bentuk tumpeng sebagai simbol rasa syukur masyarakat terhadap hasil pertanian yang dimiliki Desa Sumberjo.
Antusiasme warga terlihat sepanjang perjalanan kirab dari Dusun Sidolegi menuju lokasi utama kegiatan. Setibanya di Lapangan Desa Sumberjo, seluruh tumpeng dikumpulkan untuk mengikuti rangkaian syukuran dan doa bersama.
Setelah prosesi syukuran selesai, warga bersama-sama mengikuti rebutan 23 tumpeng hasil bumi. Masyarakat mengambil bagian dari hasil bumi yang sebelumnya dikirab.
Momen tersebut berlangsung meriah dan menjadi simbol berbagi serta kebersamaan masyarakat Desa Sumberjo dalam menikmati hasil bumi yang menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Mahasiswa KKN-P Kelompok 37 Umsida juga turut mengambil bagian dalam mendukung pelaksanaan kegiatan. Keterlibatan mereka menjadi bentuk partisipasi dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat selama menjalankan program pengabdian di Desa Sumberjo.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa juga mendapat kesempatan untuk mengenal lebih dekat potensi, tradisi, dan kehidupan sosial masyarakat setempat.
Partisipasi mahasiswa menjadi bagian dari upaya membangun hubungan dan kolaborasi dengan masyarakat. Keterlibatan dalam kegiatan desa tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan program kerja, tetapi juga kehadiran dalam aktivitas sosial dan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Kepala Desa Sumberjo, Ismiatun, mengatakan Syukuran Gedang baru dilaksanakan sebanyak dua kali. Tradisi itu berangkat dari kondisi masyarakat Desa Sumberjo yang mayoritas bekerja sebagai petani dan perhutani.
Selain itu, Desa Sumberjo memiliki potensi hasil bumi yang melimpah, khususnya pisang. Potensi tersebut kemudian dikemas dalam sebuah tradisi agar dapat dikenal dan diteruskan oleh generasi berikutnya.
“Acara Syukuran Gedang ini baru dilaksanakan dua kali. Mayoritas penduduk di desa ini petani dan perhutani, dan kebetulan bahan baku seperti pisang sendiri di sini sangat melimpah. Karena sangat melimpah, harapannya generasi-generasi penerus kita nanti bisa mengetahui bahwa potensi di desa kita itu sangat melimpah. Jadi, alangkah baiknya kalau kita buat acara yang dikemas menjadi Syukuran Gedang,” ujar Ismiatun.
Menurut Ismiatun, keberlanjutan tradisi tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh kalangan, mulai dari anak muda, ibu-ibu, bapak-bapak, hingga para petani.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga ketersediaan bahan baku melalui tebang tanam. Selain mempertahankan tradisi, masyarakat juga perlu mengenalkan dunia pertanian kepada anak-anak sejak dini.
“Pesan saya untuk seluruh masyarakat Desa Sumberjo, mari kita pertahankan tradisi kenduren besar atau Syukuran Gedang ini. Kita rangkul semua kalangan, baik anak muda, ibu-ibu, bapak-bapak, khususnya para petani, agar tradisi ini tidak punah. Kita juga harus tebang tanam supaya tidak kehabisan bahan baku untuk meneruskan tradisi ini. Anak-anak muda sekarang jarang yang mau bertani, jadi ini menjadi PR bagi orang tua untuk mengenalkan pertanian sedini mungkin. Kesan saya sangat berkesan karena masyarakat Desa Sumberjo sangat kompak, rukun, guyub, dan semangat gotong royongnya luar biasa. Anak-anak mudanya juga sangat kompak,” ungkapnya.
Selain masyarakat dan mahasiswa KKN-P Kelompok 37 Umsida, Syukuran Gedang turut dihadiri Staff Khusus Menteri Desa PDT Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia, Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc., M.E.I., Anggota DPRD Kabupaten Jombang dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Subur, S.H., serta Camat Wonosalam beserta staf, Yudha Asmara, S.STP., M.E.
Hadir pula Kapolsek Wonosalam beserta anggota, Danramil Wonosalam beserta anggota, seluruh kepala desa se-Kecamatan Wonosalam, serta PPL Pertanian Kecamatan Wonosalam.
Melalui Syukuran Gedang, masyarakat Desa Sumberjo tidak hanya merayakan hasil bumi, tetapi juga berupaya menjaga tradisi dan mengenalkan potensi pertanian kepada generasi muda.
Semangat gotong royong yang terlihat sepanjang rangkaian kegiatan menunjukkan bahwa pelestarian tradisi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat. Tradisi Syukuran Gedang pun diharapkan terus dilaksanakan sebagai bagian dari upaya menjaga identitas dan mengenalkan kekayaan hasil bumi Desa Sumberjo kepada masyarakat yang lebih luas.





0 Tanggapan
Empty Comments