Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab II berjudul “Jawa Timur Awal Abad ke-20”, halaman 29, 30, dan sebagian 31.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 13
***
Halaman 29
Selanjutnya, perkembangan Islam mendapat dukungan para raja/sultan, bangsawan, penguasa lokal, dan para pedagang atau saudagar, terutama di kota-kota pelabuhan di pesisir utara Jawa. Dalam prosesnya, perkembangan Islam – yang diawali dengan proses akulturasi – pada abad-abad selanjutnya, muncul pula faham manunggaling kawula Gusti, yang di dalam khazanah peradaban Islam disebut faham Wujudiyah.
Sudah sejak semula para penyebar Islam di Jawa generasi awal, yaitu Wali Sanga, telah terlibat polemik antara mereka yang mendukung faham manunggaling kawula Gusti yang dipelopori oleh Syekh Siti Jenar dan kelompok lainnya.(41) Akan tetapi data-data dari Babad Doho (42), Serat Darmo Gandhul (43) dan Serat Gatholoco (44) menunjukkan bahwa yang menjadi sasaran kritik dan hujatan kaum “intelektual Jawa” adalah justru Sunan Bonang.
Dan tidak mustahil para Wali Sanga juga terlibat dalam ajaran tersebut. Karya-karya tulis Sunan Bonang pada abad ke-16 cukup menonjol, misalnya Het Boek van Bonang, Suluk Wujil, dan Suluk Sukarsa yang kesemuanya memiliki unsur-unsur kental mengenai manunggaling kawula-Gusti (45). Sumber-sumber tradisi menyatakan bahwa Sunan Bonang mencapai tingkat atau maqam Wahdat (Jawa: wadat), yaitu tingkat orang yang telah mampu bersatu dengan Tuhan (46).
Puncak dari proses adaptasi antara sufisme Islam dan kebatinan Jawa pada abad ke-19 mencapai sinkretisme (47). Corak keislaman tersebut terus berkembang, khususnya di pusat-pusat kekuasaan Jawa, seperti Surakarta dan Jogjakarta yang mencapai puncaknya pada pertengahan abad ke-19, seperti tercermin pada karya R. Ng. Ronggowarsito, Serat Hidayat Djati (48).
Kentalnya pengaruh mistik Kejawen yang dikembangkan di daerah pedalaman Jawa Timur itu juga telah menjadi kendala
Halaman 30
tersendiri bagi perkembangan Muhammadiyah yang berpaham modern dan rasional.
Perkembangan budaya tradisional tersebut sangat kuat pengaruhnya pada dekade kedua dan ketiga abad ke-20, bahkan sampai dekade 1950-an, pascakemerdekaan Indonesia (49). Dalam masyarakat tradisional, pada transisi abad ke-19–20, telah terjadi berbagai gerakan keagamaan, namun belum sampai merambah pada hal-hal yang mendasar, yaitu pemurnian akidah atau tauhid.
Gerakan-gerakan yang terjadi selain masih bersifat lokal, juga sangat tergantung kepada kharisma pimpinan yang memiliki ciri-ciri: (1) milenarisme, (2) keyakinan datangnya Ratu Adil (mesianistik), (3) kembali kepada keaslian budaya (nativistik), dan (4) gerakan menghidupkan kembali tradisi lama yang terancam kepunahan (revivalisme).(50)
Gerakan ini kebanyakan dikendalikan oleh para pemimpin tradisional, ulama kharismatis, haji, dan ahli-ahli “ngelmu” kanoragan, seperti tercermin pada gerakan H. Ahmad Rifai di Kajen (Pati), H. Kasan Mukmin (Bendungan), Dermojoyo (Bendungan, Nganjuk), Entong Gendut (sekitar Batavia) (51). Gerakan-gerakan tersebut berakhir dengan kegagalan, meskipun tidak berarti faham-faham pembaharuan mudah masuk.
Kesulitan masuknya faham-faham pembaharuan disebabkan (1) akseptabilitas kepemimpinan ke daerah pedesaan masih terbatas pada kelompok elit tertentu seperti kyai, bangsawan, para pedagang atau saudagar dan pemimpin-pemimpin tradisional; (2) belum merambahnya pendidikan, komunikasi, transportasi modern ke pedesaan hingga belum terbentuk kelompok yang siap menerima faham-faham pembaharuan;
(3) kondisi sosial-ekonomi masyarakat pedesaan saat itu masih merupakan masyarakat ekonomi tertutup atau hampir seluruhnya hidup dari pertanian yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri, (4) belum banyak kaum migran (pendatang) dan saudagar yang berasal dari, atau telah terpengaruh faham-faham modernisme di Surakarta, Jogjakarta, dan Jakarta.
Akibatnya, faham-faham pembaharuan pada permulaan abad ke-20 baru dapat disemaikan di berbagai daerah perkotaan yang telah memiliki berbagai sarana modern seperti pendidikan, transportasi, kelompok sosial-ekonomi, dan lembaga sosial khususnya organisasi
Halaman 31
pergerakan nasional. Untuk wilayah Jawa, agama Katolik disebarkan pertama kali di Banyuwangi dan Panarukan oleh orang-orang Portugis, sejak 1559 (52).
Pada awal abad ke-20, umat Katolik sudah memiliki keuskupan, antara lain keuskupan Surabaya yang wilayahnya meliputi Jawa Timur bagian barat; Karesidenan Surabaya, Kediri, Madiun dan Bojonegoro, dan dua kabupaten di Jawa Tengah bagian timur; Kabupaten Rembang dan Blora. Gereja Bunda Maria Surabaya selesai dibangun pada 1900, dan rumah sakit RKZ dibangun pada 1934 (53).
Agama Kristen Protestan berkembang di Jawa melalui misi zending, namun sampai 1815 belum memiliki pengikut di Sunda dan Jawa. Pembaptisan pertama orang-orang Jawa Timur dilakukan pada 1843 terhadap pengikut Dasimah, penduduk Wiyung, Surabaya. Pada 1848 terbentuk desa yang banyak dihuni oleh umat Kristen di Mojowarno, Jombang, dan pada 1931 dibangun Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW).(54)
***
Buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota Tim adalah Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Sementara konsultannya adalah M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments