Aroma minyak panas dan singkong yang baru diiris memenuhi Balai Desa Balungtawun, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan, Selasa (28/7/2026).
UMKM dan warga tampak sibuk mengolah singkong menjadi keripik. Ada yang memotong bahan, merendam, hingga menggoreng, sementara peserta lain berdiskusi mengenai cara menghasilkan produk dengan rasa dan kualitas yang lebih baik.
Aktivitas tersebut merupakan bagian dari program Umbika (Usaha Masyarakat Berbasis Inovasi Kreatif dan Adaptif) yang digelar Kelompok KKN P 72 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) di Desa Balungtawun.
Sebanyak 15 pelaku UMKM dan warga desa mengikuti pelatihan yang membahas berbagai aspek pengembangan usaha, mulai dari produksi, pengemasan, pengelolaan keuangan, legalitas usaha, hingga pemasaran digital.
Pelatihan ini menjadi kesempatan untuk memahami bahwa usaha rumahan tidak hanya bergantung pada kualitas rasa, tetapi juga membutuhkan pengelolaan yang lebih terencana.
Mengolah Singkong, Mengawali Langkah Usaha
Kegiatan diawali dengan materi mengenai sanitasi produksi, penggunaan peralatan, serta pemilihan bahan baku yang aman dan berkualitas.
Setelah mendapatkan pemahaman dasar, peserta mempraktikkan langsung pembuatan keripik singkong, mulai dari proses pemotongan, perendaman, hingga penggorengan sesuai prinsip pengolahan pangan yang baik.
“Biasanya saya jualan keripik cuma dari mulut ke mulut, nggak tahu caranya bikin kemasan yang menarik. Sekarang jadi tahu, harus ada label, harus ada NIB juga ternyata,” ujar Anik, salah satu peserta pelatihan UMBIKA.
Kemasan Menjadi Identitas Produk
Setelah praktik produksi, peserta mendapatkan pembekalan mengenai pengemasan dan pelabelan produk.
Mereka dikenalkan pada pentingnya kemasan sebagai identitas produk agar lebih mudah dikenali konsumen sekaligus memberikan informasi yang jelas mengenai produk yang dijual.
Hal tersebut dirasakan oleh Rahayu, peserta yang menjalankan usaha camilan rumahan.
“Dulu kemasan saya cuma pakai plastik bening diikat karet. Sekarang tahu pentingnya label, jadi kelihatan lebih niat kalau dijual,” tuturnya.
Catatan Keuangan, Dasar Usaha Berkelanjutan
“Tidak hanya membahas produk, kami juga mengajak peserta memahami pengelolaan usaha dari sisi administrasi,” terang Ahmad Fauzan Al-Baihaqi selaku Ketua KKN.
Dalam sesi pengelolaan keuangan, peserta mempelajari pencatatan sederhana terkait pemasukan dan pengeluaran agar aktivitas usaha dapat dipantau dengan lebih tertib.
Lalu pada sesi legalitas usaha, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya memiliki dokumen pendukung usaha, seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT), dan sertifikasi halal.
“Materi tersebut diberikan untuk membantu pelaku UMKM memahami langkah yang diperlukan dalam mengembangkan usaha secara berkelanjutan,” tutur Fauzan.
Mengukur Pemahaman, Menyusun Pendampingan
Untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta, tim KKN P 72 Umsida melakukan evaluasi melalui pengisian kuesioner sebelum dan sesudah kegiatan, khususnya terkait materi legalitas usaha.
Hasil evaluasi tersebut menjadi bahan penyusunan pendampingan lanjutan sesuai kebutuhan masyarakat Desa Balungtawun.
Rangkaian pelatihan kemudian ditutup dengan materi pemasaran digital. Peserta diperkenalkan dengan penggunaan media sosial dan marketplace, termasuk TikTok Shop sebagai salah satu media promosi.
Selain itu, imbuhnya, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya membangun identitas merek agar produk lokal lebih mudah dikenal masyarakat.
Sekretaris Desa Balungtawun, Sri, mengapresiasi pelaksanaan program UMBIKA sebagai bentuk kolaborasi antara pemerintah desa dan perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan kapasitas masyarakat.
“Desa Balungtawun terbuka dalam setiap program KKN Umsida untuk bersinergi meningkatkan sumber daya desa dan mengenalkan digital marketing kepada masyarakat Desa Balungtawun,” ujarnya.
Menjelang kegiatan berakhir, hasil praktik keripik singkong mulai dikemas oleh peserta. Dari proses produksi hingga pengenalan pemasaran digital, pelatihan UMBIKA memberikan pengalaman baru bagi pelaku UMKM Balungtawun untuk melihat usaha mereka dari sudut pandang yang lebih luas. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments