Rabu, 30 September 2026, pagi. Di sejumlah WAG, beredar video pendek menarik. Video sekitar 35 detik itu, memperlihatkan tiga pemuda Palestina yang lolos dari usaha penangkapan oleh tentara penjajah Israel.
Video itu viral di media sosial. Banyak akun di IG, Facebook, YouTube, dan TikTok yang memostingnya. Salah satunya, Qudwah Indonesia (https://www.instagram.com/reels/Dd51OR5SAE-/).
Video tersebut mempertontonkan tiga pemuda Palestina yang berupaya menghindari kejaran pasukan Israel. Dua pemuda terlihat mengangkat tangan sambil menempelkan tubuhnya ke dinding di sebuah gang sempit. Sementara, satu pemuda lainnya, menjauh dari lokasi.
Hal yang ajaib, terjadi. Puluhan tentara Israel bersenjata lengkap yang mencarinya dan melintas tepat di depan kedua pemuda tersebut, tak melihatnya. Aneh, padahal sangat dekat. Pasukan Israel sempat menyisir area sekitar dua kali (arah bolak-balik), sebelum akhirnya meninggalkan lokasi.
Video tersebut menarik perhatian warganet. Mereka takjub, bahwa ketiga pemuda Palestina tersebut lolos dari penangkapan Israel. Allahu Akbar!
Semua, Baca!
Atas kisah pada video di atas, kita harus ”membaca”-nya secara tepat. Adakah pelajaran di dalamnya? Adakah pesan kepada semua umat manusia?
Seperti terhadap semua kejadian yang lain, kita harus ”membaca” peristiwa di video itu dengan menghubungkannya kepada ayat ini: ”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!”
Ayat tersebut, yang meminta kita untuk Iqra’, adalah ayat istimewa. Pertama, ini ayat pertama yang Allah firmankan kepada Nabi Muhammad Saw. Kedua, paling awal, kita diminta oleh Allah untuk aktif membaca (baik yang tertulis dan yang tak tertulis). Ketiga, di saat membaca, ”kaitkanlah” dengan Allah yang Maha Kuasa. Keempat, ambil pelajaran dari apa pun yang kita baca.
Silakan ”baca” ulang video tadi. Pasukan Israel, mengapa mereka tak bisa menangkap terutama dua pemuda Palestina itu? Bukankah, meski temaram, secara umum situasi tampak masih mudah untuk melihat objek apapun? Bukankah, posisi dua pemuda itu, tidak benar-benar dalam keadaan bersembunyi?
Abu Jahl ”Buta”
Mari baca sejarah! Di zaman Nabi Saw, ada kisah inspiratif. Itu, terkait ayat ini: ”Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat” (QS Yaasiin [36]: 9).
Atas hal apa, ayat tersebut turun? Berikut ini penjelasannya, lewat Asbabun Nuzul dari QS Yaasiin [36]: 9. Kala itu, di tengah-tengah sejumlah kaum Quraisy, Abu Jahl berkata: ”Sekiranya aku bertemu dengan Muhammad, pasti aku akan melawannya”. Ketika Nabi Saw benar-benar ada di dekatnya dan orang-orang menunjukkan bahwa Muhammad Saw berada di sisinya, tapi Abu Jahl tak melihatnya. Malah dia bertanya, ”Mana Muhammad?”
QS Yaasiin [36]: 9 turun sebagai penjelasan bahwa pandangan Abu Jahl di saat itu ditutup oleh Allah untuk melihat Nabi Muhammad Saw (HR Ibnu Jarir). Abu Jahl tak mampu melihat Nabi Saw, padahal berposisi si dekatnya. Allahu Akbar!
”Tutur” Tsur
Ada lagi, kisah tentang bagaimana cara Allah melindungi Hamba-Nya yang memperjuangkan Islam. Lihatlah, ketika Nabi Saw menunaikan perintah Allah untuk hijrah dari Mekkah ke Madinah.
Singkat kisah, saat dikejar kaum kafir Quraisy untuk ditangkap, Muhammad Saw dan Abu Bakar Ra sempat bersembunyi di gua – di Bukit Tsur. Itu, sebuah gua kecil. Para pengejar yang bersemangat, karena berharap imbalan yang tinggi, sampai juga di dekat gua itu. Mereka terpikir untuk memasukinya, dengan asumsi bahwa orang yang dikejarnya ada di dalamnya.
Ajaib, setelah seorang naik dan tak jadi masuk gua, dia bilang: ”Ada sarang laba-laba di tempat itu, yang memang ada sejak Muhammad sebelum lahir. Ada juga dua ekor burung dara hutan di lubang itu”.
Orang-orang kafir Quraisy makin yakin bahwa di dalam gua itu tak ada manusia ketika mereka melihat ada ranting-ranting pohon berserakan di mulut gua. Pikir mereka, tak mungkin orang bisa masuk ke gua tanpa memindahkan ranting-ranting itu terlebih dahulu.
Atas ketiga fakta itu, para pengejar memutuskan kembali ke tempat semula. Mereka tak jadi mencari ke dalam gua. Hal ini, membuat iman Abu Bakar Ra kepada Allah bertambah kuat (Haekal, Sejarah Muhammad, 2006: 184-185).
Perhatikan, Allah menutup ”pandangan” para musuh Islam dengan cara berbeda jika dibandingkan dengan contoh yang sebelumnya. Pertama, pada saat Abu Jahl dan kawan-kawannya akan mempersekusi Nabi Saw, Allah ”menutup” pandangan Abu Jahl. Ketika itu, meski Muhammad Saw ada di dekatnya, Abu Jahl tidak bisa melihat.
Kedua, berbeda dengan kejadian di gua – di Bukit Tsur. Pandangan musuh ”ditutup” Allah dengan memainkan logika mereka. Bahwa, tak mungkin orang masuk ke gua tanpa membuat rusak sarang laba-laba yang menutup pintunya. Bahwa, tak mungkin orang masuk gua tanpa ”memindahkan” dua burung dara dan memindahkan berbagai ranting pohon yang ada di mulut gua.
Lihat, hanya karena kehendak Allah saja ”tiga hal” terjadi di sekitar gua. Hal itu, membuat pandangan para musuh Islam menjadi seperti terhalang. Mereka, yang tak percaya Allah, menilainya dari sisi logika manusia yang sangat terbatas.
Pelajaran, Pelajaran!
Atas semua yang kita alami, untuk segenap yang kita baca, ambil pelajaran darinya. Taatilah ayat ini: “ ….. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan” (QS Al-Hasyr [59]: 2).
Terkait, di sepanjang sejarah, insya Allah akan selalu ada contoh-contoh tentang bagaimana Allah menolong para penolong agama-Nya. Hal ini, karena ada janji Allah lewat ayat ini: ”Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad [47]: 7).
Alhasil, yakini, Allah pasti menetapi janji-Nya. Optimislah, seperti penegasan Nabi Muhammad Saw kepada Abu Bakar Ra di gua – di Bukit Tsur: ”…… ’Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita’ ……” (QS At-Taubah [9]: 40). Jadi, jika kita hanya berdua, yakini bahwa Allah yang ketiga. Allahu Akbar! []





0 Tanggapan
Empty Comments