Ada manusia yang sepanjang hidupnya sibuk memperbaiki dunia, tetapi lupa memperbaiki dirinya sendiri. Ia mudah melihat kesalahan orang lain, cepat menemukan kekurangan orang lain, bahkan begitu bersemangat menasihati orang lain.
Namun, ketika berhadapan dengan cermin, ia tiba-tiba kehilangan keberanian untuk bertanya: jangan-jangan sumber masalah yang selama ini ia cari berada di dalam dirinya sendiri?
Psikologi modern melihat tabiat manusia sebagai sesuatu yang terbentuk dari perpaduan berbagai faktor. Kepribadian dipengaruhi oleh bawaan biologis, pengalaman, lingkungan, pendidikan, serta kebiasaan yang terus diulang.
Karena itu, manusia tidak sepenuhnya menjadi tawanan tabiatnya. Ada ruang untuk berubah, meskipun perubahan itu membutuhkan kesadaran, latihan, dan proses yang tidak selalu nyaman.
Dalam teori Big Five Personality, misalnya, manusia dapat dilihat melalui lima dimensi kepribadian: keterbukaan, ketelitian, ekstraversi, keramahan, dan neurotisme.
Tidak ada manusia yang sepenuhnya identik dengan manusia lainnya. Ada yang mudah bergaul, ada yang pendiam; ada yang teratur, ada yang spontan; ada yang tenang, ada pula yang mudah cemas dan tersulut emosi.
Perbedaan itu menunjukkan betapa kompleksnya manusia ketika mencoba memahami dirinya sendiri.
Namun, persoalannya bukan sekadar bagaimana kepribadian terbentuk. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang kita lakukan terhadap kecenderungan buruk yang ada dalam diri kita?
Sebab, memiliki kecenderungan marah bukan alasan untuk menjadi pemarah. Memiliki rasa iri bukan pembenaran untuk menjadi pendengki. Dan memiliki ambisi bukan alasan untuk menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang diinginkan.
Di sinilah ajaran tasawuf menawarkan jalan yang lebih dalam. Dalam tradisi Islam, perubahan manusia bukan hanya persoalan perilaku yang tampak di luar, tetapi juga perjalanan membersihkan sesuatu yang jauh lebih tersembunyi: hati.
Proses itu dikenal sebagai tazkiyatun nafs, penyucian jiwa—sebuah perjuangan panjang untuk membebaskan diri dari penyakit batin yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain.
Tahap pertama disebut takhalli: mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela. Riya’, hasad, takabur, bakhil, cinta dunia yang berlebihan, dan berbagai penyakit hati tidak cukup hanya disembunyikan.
Ia harus dikenali, diakui, kemudian dilawan. Sebab, penyakit hati yang disembunyikan dengan wajah yang baik tetaplah penyakit.
Bahkan terkadang manusia menjadi begitu pandai menutupinya sampai ia sendiri tidak menyadari bahwa penyakit itu telah menguasai dirinya.
Setelah itu datang tahalli: menghiasi jiwa dengan sifat-sifat terpuji. Kesombongan dilawan dengan tawaduk. Kebencian dilunakkan dengan kasih sayang. Kekikiran dilawan dengan kemurahan hati. Ketidaksyukuran dilatih dengan syukur.
Dengan demikian, perubahan bukan sekadar berhenti melakukan keburukan, tetapi menggantinya dengan kebajikan. Hati yang kosong dari keburukan harus diisi dengan kebaikan agar tidak kembali dikuasai oleh hawa nafsu.
Kemudian ada tajalli, yang dalam tradisi tasawuf menggambarkan pengalaman kedekatan spiritual dengan Allah.
Pada tahap ini, kebaikan tidak lagi semata-mata menjadi pencitraan perilaku. Ia tumbuh dari kesadaran batin bahwa Allah senantiasa hadir dalam pengawasan-Nya.
Seseorang berbuat baik bukan karena ingin dipuji, tetapi karena hatinya semakin mengenal kepada siapa seluruh amal itu dipersembahkan.
Karena itu, perubahan tabiat membutuhkan mujahadah—kesungguhan melawan kecenderungan buruk dalam diri.
Ada saat ketika kita harus menahan kata-kata yang ingin dilontarkan, menekan ego yang ingin menang sendiri, memaafkan ketika hati ingin membalas, dan memilih diam ketika kemarahan meminta untuk berbicara.
Perjuangan terbesar manusia sering kali bukan melawan orang lain, melainkan melawan dirinya sendiri.
Lalu ada muhasabah. Setiap hari manusia perlu bertanya kepada dirinya: hari ini siapa yang telah aku sakiti? Kebaikan apa yang telah aku lakukan? Mengapa aku marah? Mengapa aku iri? Mengapa aku ingin dipuji?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu dapat menjadi cermin bagi jiwa. Sebab, seseorang yang tidak pernah mengevaluasi dirinya akan mudah menganggap semua kesalahannya sebagai kesalahan orang lain.
Dzikir dan istighfar kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Bukan sekadar rangkaian kata yang diucapkan oleh lisan, tetapi usaha untuk mengembalikan kesadaran hati kepada Allah.
Manusia bisa jatuh berkali-kali. Yang membedakan bukan apakah ia pernah jatuh, melainkan apakah ia bersedia bangkit, mengakui kesalahannya, dan kembali memperbaiki dirinya.
Pada akhirnya, psikologi dan tasawuf memang berbicara dengan bahasa yang berbeda.
Psikologi membantu manusia memahami pola kepribadian, emosi, pikiran, dan perilakunya. Tasawuf mengajak manusia melangkah lebih jauh: bukan hanya memahami diri, tetapi juga membersihkan jiwa dan mengarahkannya kepada Allah.
Keduanya dapat menjadi pintu untuk satu kesadaran penting—manusia tidak harus selamanya menjadi tawanan tabiat buruknya.
Sebab, musuh yang paling sulit dikalahkan sering kali bukan orang yang berdiri di hadapan kita.
Ia adalah ego yang bersembunyi di dalam dada, hawa nafsu yang pandai mencari pembenaran, dan penyakit hati yang semakin kuat setiap kali kita menolak mengakuinya.
Maka, sebelum sibuk mengubah orang lain, mungkin ada satu pekerjaan yang jauh lebih mendesak: mengubah diri sendiri. *
Referensi
- Al-Qur’an — QS. Asy-Syams [91]: 7–10. Tentang jiwa manusia, potensi keburukan dan ketakwaan, serta pentingnya menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs).
- Imam Al-Ghazali — Ihya’ ‘Ulum al-Din. Relevan untuk pembahasan penyakit hati seperti takabur, hasad, riya’, marah, serta proses pembinaan dan penyucian jiwa.
- John, O. P., Naumann, L. P., and Soto, C. J. (2008) — “Paradigm Shift to the Integrative Big Five Trait Taxonomy”. Referensi akademik untuk bagian psikologi modern mengenai Big Five Personality dan lima dimensi kepribadian.





0 Tanggapan
Empty Comments