Kader Muhammadiyah dapat berkiprah di berbagai bidang, mulai dari menjadi akademisi, dokter, komisaris, hingga menteri. Namun, berbagai capaian tersebut harus tetap diabdikan untuk kepentingan persyarikatan, bukan menjadikan Muhammadiyah sebagai alat untuk meraih kepentingan pribadi.
Pesan tersebut disampaikan Abdullah Sidiq Notonegoro dalam pemaparannya pada kegiatan IMM UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) di Gedung PWM Jawa Timur, Ahad (1/11/2026). Di hari yang sama dengan hari kelahirannya, Sidiq Notonegoro menyampaikan pesan tentang pentingnya menjadikan diri dan kemampuan kader sebagai modal perjuangan Muhammadiyah.
Abdullah Sidiq menegaskan bahwa Muhammadiyah merupakan gerakan ideologis. Karena itu, kader yang telah ditempa dalam organisasi harus mampu membawa nilai-nilai Muhammadiyah ketika berkiprah di berbagai bidang kehidupan.
Fokal IMM Jawa Timur itu juga mengingatkan pesan Kiai Dahlan tentang pentingnya mengabdikan berbagai kemampuan dan profesi kepada Muhammadiyah. Menurutnya, kader boleh menjadi apa saja, tetapi tetap harus memiliki orientasi perjuangan yang jelas.
“Dari itu semua kemudian kembalilah kepada Muhammadiyah, itu yang dimaksud dengan ideologi,” tutur dosen Universitas Muhammadiyah Gresik tersebut.
Ia menjelaskan, Muhammadiyah membutuhkan kader yang memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin, baik di bidang pemerintahan, dunia usaha, maupun profesi lainnya. Namun, kapasitas tersebut seharusnya menjadi modal bagi persyarikatan untuk menjalankan perjuangannya.
“Jadi diri kita ini adalah modal untuk Muhammadiyah,” tegasnya.

Abdullah Sidiq mengingatkan agar kader tidak membalik orientasi tersebut. Muhammadiyah, menurutnya, tidak boleh dijadikan kendaraan untuk memperoleh jabatan atau keuntungan pribadi.
“Jangan dibalik. Jangan dibalik Muhammadiyah dijadikan modal diri untuk jadi komisaris, untuk jadi menteri, untuk jadi ini dan itu,” ujar pria yang juga editor PWMU.CO.
Ia menilai, persoalan organisasi dan umat tidak akan terselesaikan apabila kader belum mampu menyelesaikan persoalan dalam dirinya sendiri. Karena itu, kader perlu membangun integritas dan memperkuat kesadaran ideologis sebelum membawa nama organisasi ke ruang publik.
Dalam pemaparannya, Abdullah Sidiq juga menjelaskan makna IMM sebagai sebuah ikatan. Menurutnya, ikatan memiliki kekuatan karena menyatukan kader dalam kesamaan nilai dan ideologi.
Ia menilai keberadaan IMM di luar perguruan tinggi Muhammadiyah menjadi keistimewaan tersendiri. Organisasi tersebut dapat menjadi ruang bagi mahasiswa dari beragam latar belakang untuk mengenal dan mempelajari Muhammadiyah.
Abdullah Sidiq berharap kader IMM mampu mempertahankan ideologi organisasi ketika berkiprah di berbagai sektor. Dengan begitu, keberhasilan pribadi tidak membuat kader melupakan organisasi yang menjadi tempat mereka tumbuh dan berproses.
Ia menegaskan bahwa penguatan ideologi menjadi bekal penting agar kader tetap memiliki arah perjuangan, sekalipun kelak menduduki posisi strategis di masyarakat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments