Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi – 13

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi – 13

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab II berjudul “Jawa Timur Awal Abad ke-20”, halaman 27, 28, dan sebagian 29.

Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 12

***

Halaman 27

2. Kebangkitan Nasional

Dalam dekade pertama dan kedua abad ke-20 terjadi perubahan mendasar dalam perjuangan Bangsa Indonesia menentang penjajahan Belanda. Perubahan itu disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Terbentuknya organisasi modern sebagai wadah perjuangan bersifat nasional serta untuk mencapai tujuan kemerdekaan yang dimotori golongan terpelajar merupakan faktor-faktor internal.

Sedang pengaruh gerakan nasionalis Turki Muda, kemenangan revolusi nasionalis Cina oleh Dr. Sun Yat Sen dan rasa bangga karena kemenangan Jepang atas Rusia pada 1905 adalah faktor pendorong dari luar.

Dalam konteks inilah kemudian lahir Budi Utomo (1908) dengan perintisnya Dr. Wahidin Sudirohusodo dan pelopornya Dr. Sutomo. Sebenarnya kalangan komunitas muslim justru telah mendahuluinya, yaitu dengan didirikannya Serikat Dagang Islam (SDI) oleh Tirtoadisurya, di Bogor, pada 1905.

Berbeda dengan Budi Utomo, saat itu SDI belum memiliki instrumen sebagai organisasi modern, seperti Anggaran Dasar atau Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), susunan kepengurusan, dan tujuan gerakan atau perjuangan.

Baru pada 1912 kelengkapan organisasi itu terpenuhi setelah SDI diubah menjadi SI di bawah kepemimpinan H. Samanhudi dan H.O.S. Cokroaminoto. Semula, gerakan SI berpusat di Surakarta, namun kemudian setelah Cokroaminoto terpilih sebagai Ketua, pusat gerakan dipindahkan ke Surabaya. Apalagi di bawah kepemimpinan Cokroaminoto, SI kemudian menggelar Kongres di Surabaya yang mendapatkan perhatian besar dari masyarakat di Surabaya.

Dengan cepat jumlah cabang dan anggota SI berkembang secara mengesankan. Lebih dari itu, Surabaya kemudian menjadi pusaran pergerakan nasional. Saat itu, SI dalam gerakannya, juga menemukan momentum, yang semula bersikap koperatif dengan pihak pemerintah Belanda berubah menjadi non-koperatif atau anti-Belanda. SI juga memanfaatkan media pers dalam propagandanya, yaitu Sarotama dan Oetoesan Hindia.

Kediaman Cokroaminoto menjadi pusaran (Jawa: ulegan) pertemuan para pejuang revolusioner, seperti Alimin, Darsono, Semaun (SI Semarang) dan Soekarno. Di kemudian hari, Alimin, Darsono dan Semaun terpengaruh oleh ideologi komu-

Halaman 28

nis dan pada 1920 mendirikan Partai Komunis Indonesia (PKI). Di tingkat wilayah Jogjakarta sendiri KH. Ahmad Dahlan juga aktif tidak hanya sebagai anggota, tetapi juga menjadi pengurus SI.

Faham Marxisme menyusup ke tubuh SI lewat ISDV, dan mengakibatkan pecahnya SI menjadi SI Putih yang berhaluan Islam dan SI Merah yang Marxis. SI Merah di Semarang kemudian menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia) pada 1920.

SMPM 5 Pucang SBY

Selama dekade kedua abad ke-20, bangsa Indonesia sedang hangat membicarakan pembentukan Volkraad, Dewan Rakyat, dan Cokroaminoto diminta pemerintah untuk duduk di dalamnya. Untuk memperbaiki struktur, dalam kongres nasional di Madiun, 17-20 Februari 1923, nama SI berubah menjadi Partai Sarekat Islam (PSI), dan berubah lagi menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) pada 1930.(39)

Partai Nasionalis Indonesia (PNI) berdiri di Bandung, dan dipimpin oleh Ir. Soekarno. Peristiwa penting terjadi pula dalam dekade ketiga, yakni Sumpah Pemuda, tahun 1928, yang mencetuskan keinginan untuk bersatu bangsa, negara, dan bahasa, yaitu Indonesia.

Demikian situasi kebangkitan nasional yang diwarnai dengan gerakan kepartaian yang ingin memperjuangkan nasib bangsa ini, agar dapat secepatnya merdeka dari penjajahan Belanda. Walau berbagai organisasi politik muncul, namun selama dekade kedua dan ketiga abad ke-20 SI mendominasi panggung politik di Indonesia.

C. Situasi Keagamaan

Penduduk yang berdomisili di kota-kota besar, terutama di Surabaya, pada dekade kedua dan ketiga abad ke-20 tergolong sangat heterogen dan majemuk dalam berbagai segi, sehingga memungkinkan timbulnya berbagai pemikiran, pembaruan, dan perubahan. Dalam kondisi sosial budaya seperti inilah Muhammadiyah berdiri secara resmi, antara lain, di Surabaya pada 1921.

Pada masa transisi dekade tersebut, Surabaya telah menjadi ajang pemikiran-pemikiran pembaharuan dan perjuangan di bidang politik (SI, Indonsesiche Studie Club), budaya (Budi Utomo), ekonomi (SI), dan keagamaan

Halaman 29

(Grup Tashwirul Afkar, Al-Irsyad, Muhammadiyah, Persis, Mathla’ul Anwar dan NU).

Dalam hal keagamaan, penduduk Jawa Timur memeluk beragam agama. Namun mayoritas beragama Islam. Para wali penyebar Islam di Jawa juga bermula dari Jawa Timur: Maulana Malik Ibrahim (Gresik, 1419), Sunan Ampel (Surabaya, 1420-1475), Sunan Drajat (Lamongan, 1520), dan Sunan Bonang (Tuban, 1525).(40)

***

Buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggotanya adalah Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Sementara konsultannya adalah M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

 

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 25/05/2026 08:02
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu