Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kuasa Algoritma Digital

Iklan Landscape Smamda
Kuasa Algoritma Digital
Oleh : Choiriyah, M.Sos Akademisi

Sejarah mencatat bahwa kemunculan internet pada awalnya dinilai sebagai “mesin pembebasan”.

Di awal dekade 2000-an, ruang siber diyakini akan menjadi panggung utopia di mana setiap individu memiliki suara yang setara, meruntuhkan tembok-tembok hierarki informasi, dan menghidupkan kembali roh demokrasi yang sempat layu.

Namun, dua dekade berikutnya, optimisme itu bergeser menjadi kecemasan kolektif.

Buku bunga rampai bertajuk Ruang Publik Digital dalam Cengkeraman Algoritma yang diterbitkan oleh Penerbit Kanisius pada akhir 2025 ini, hadir sebagai upaya kritis untuk membedah mengapa janji manis digitalisasi itu kini terasa seperti bumerang bagi kemanusiaan.

Dialektika Ruang Publik

Penyusunan buku ini  memakai pendekatan multidisipliner yang kaya, melibatkan lensa filsafat, komunikasi, psikologi, hingga etika media.

Para kontributor dalam karya ini memulai argumen mereka dengan meminjam konsep klasik Jürgen Habermas mengenai “ruang publik” (oeffentlichkeit).

Idealnya, ruang publik adalah arena di mana diskursus rasional terjadi tanpa tekanan, di mana argumen terbaiklah yang menang, bukan suara yang paling keras.

Namun, realitas digital hari ini justru menunjukkan kutub sebaliknya.

Pengelolaan ruang publik kita tidak lagi menggunakan nalar manusia, melainkan menggunakan logika algoritmik platform raksasa.

Algoritma, yang sering kali dipandang secara naif sebagai sekadar kode pemrograman teknis, dalam buku ini didefinisikan sebagai “agen kekuasaan tersembunyi”.

Mereka tidak netral. Di balik deretan angka dan variabelnya, terdapat kepentingan komersial yang masif untuk menjaga keterlibatan pengguna (engagement) selama mungkin demi keuntungan iklan.

Salah satu bagian paling krusial dalam buku ini adalah analisis mengenai mekanisme “kuasa algoritmik” dalam menciptakan fragmentasi audiens.

Personalisasi konten yang dilakukan secara otomatis oleh mesin pencari dan media sosial tanpa sadar telah mengurung pengguna dalam “gelembung filter” (filter bubbles).

Kita hanya mendapatkan suapan informasi yang sesuai dengan preferensi, selera, dan bias kita sendiri.

Akibatnya, terciptalah “kamar gema” (echo chambers).

Di dalam ruang ini, keyakinan seseorang terus-menerus diamplifikasi tanpa pernah berbenturan dengan perspektif yang berbeda.

Buku ini secara tajam memotret bagaimana fenomena ini menjadi ancaman eksistensial bagi demokrasi.

Alih-alih memfasilitasi dialog lintas identitas, ruang digital justru mendorong polarisasi ekstrem.

Perbedaan pendapat tidak lagi menjadi sebagai dinamika, melainkan sebagai ancaman yang harus “di- block” atau “di- report“.

Dalam lanskap seperti ini, kebenaran menjadi subjektif (post-truth), sementara misinformasi dan sensasionalisme mendapatkan panggung utama karena sifatnya yang memicu emosi—bahan bakar utama algoritma engagement.

SMPM 5 Pucang SBY

Menelusuri Jejak Solusi: Literasi dan Regulasi

Meski menyajikan kritik yang cukup pedas terhadap struktur teknologi saat ini, buku hasil suntingan RP. Pius Pandor, CP, dan Romanus Piter ini tidak terjebak dalam pesimisme buta.

Para kontributor, termasuk pemikir seperti Rm. Mayo dan praktisi komunikasi digital Carlos (Louderwithcarlos), menawarkan jalan keluar yang sistematis melalui tiga pilar utama.

Pertama, penguatan literasi digital yang komprehensif.

Literasi di sini bukan sekadar kemampuan teknis mengoperasikan gawai, melainkan kemampuan berpikir kritis untuk menyadari bahwa apa yang muncul di lini masa kita adalah hasil kurasi mesin yang memiliki motif tertentu. Masyarakat harus diajak “bangkit” dari ketidaksadaran digitalnya.

Kedua, pengembangan kerangka etika bermedia yang kokoh.

Para penulis menekankan pentingnya mengembalikan nilai-nilai humanisme dalam interaksi digital.

Teknologi harus ditempatkan kembali sebagai alat bagi manusia, bukan sebaliknya di mana manusia menjadi “data” yang diperbudak oleh algoritma.

Ketiga, perlunya regulasi yang bijak dan tegas dari pembuat kebijakan.

Buku ini menyuarakan pentingnya transparansi algoritma.

Negara dan otoritas terkait harus mampu mengawasi bagaimana platform global mengelola data dan opini publik agar tidak terjadi monopoli kebenaran yang merugikan kedaulatan warga negara.

Seruan untuk Bertindak

Ruang Publik Digital dalam Cengkeraman Algoritma bukan sekadar teks akademis yang kering.

Ia adalah sebuah manifesto dan seruan untuk bertindak (call to action).

Buku ini sangat relevan dibaca oleh mahasiswa, akademisi, pembuat kebijakan, maupun masyarakat umum yang merasa jengah dengan hiruk-pikuk media sosial yang kian toksik.

Melalui kompilasi pemikiran ini, kita diingatkan bahwa ruang publik digital adalah milik kita bersama, bukan properti eksklusif korporasi teknologi.

Mengembalikannya menjadi arena yang inklusif, demokratis, dan humanis adalah tugas kebudayaan kita di abad ke-21.

Membaca buku ini adalah langkah awal yang penting untuk merebut kembali kedaulatan berpikir kita dari cengkeraman kode-kode dingin bernama algoritma.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 03/05/2026 22:22
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡