Mengikuti irama Muktamar ke-49 di tahun 2027, Muhammadiyah Jatim pun akan menyelenggarakan acara serupa di tingkat provinsi. Biasanya masih dalam tahun yang sama dengan muktamar. Namanya Musyawararah Wilayah, biasa diakronimkan menjadi Musywil. Pertanyaannya, Musywil tahun depan itu ke-17, ke-14, ke-12 atau ke-19?
Merujuk pada perhelatan terakhir di tahun 2022, Musywil tahun 2027 adalah ke-17. Maklum saja, dalam backdrop acara itu terpampang jelas jika Musywil 2022 adalah ke-16. Dengan tema “Membumikan Islam Berkemajuan, Memajukan Jawa Timur”, kegiatan dilaksanakan di Ponorogo, 24–25 Desember 2022
Angka ke-16 di tahun ini memang berurutan dengan gelaran Musywil 2015 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, 14-15 November. Mengusung tema “Gerakan Pencerahan Menuju Jawa Timur yang Berkemajuan”, acara juga menegaskan sebagai Musywil ke-15.
Hal yang sama juga terlihat pada Musywil 2010 dan 2005. Dalam Musywil 2010 yang diadakan di Jember pada 9-10 Oktober, disebutkan acara itu adalah Musywil ke-14. Termasuk juga Musywil di Madiun pada 10–11 Desember 2005, disebutkan hajatan ke-13.
Namun jika ditelisik lagi, apakah tepat jika Musywil 2027 mendatang adalah Musywil ke-17? Pijakan angka 1 diambil dari permusyawaratan yang mana dan tahun berapa?
Jika merujuk pada istilah Musywil, maka seharusnya tahun 2027 adalah Musywil ke-14. Maklum saja, istilah Pimpinan Wilayah, yang kemudian melahirkan istitlah turnan Musywil, baru muncul pada 1965.
Melalui Muktamar ke-36 di Bandung, struktur pimpinan di tingkat provinsi dinamai Pimpinan Muhammadiyah Wilayah (PMW). Sebelum akhirnya dirubah menjadi PWM melalui muktamar 1985.
Jika Musywil diambil dari masa itu, maka sampai tahun 2022 lalu, Musywil baru dilaksanakan sebanyak 13 kali. Diawali pada bulan Oktober 1965, ketika terjadi pergantian pimpinan dari KH M. Saleh Ibrahim ke KH Oesman Muttaqien. Rapat itu diselenggarakan secara sederhana di Gedung PTDI Jl. Gentengkali, dengan sekretaris A. Latief Malik.
Jika peristiwa di Gentengkali itu dijadikan tolok hitungan, maka 2027 mendatang masuk angka ke-14. Urutannya adalah pertama (1965), kedua (1968), ketiga (1971), keempat (1974), kelima (1978), keenam (1985), ketujuh (1990), kedelapan (1995), kesembilan (2000), kesepuluh (2005), kesebelas (2010), keduabelas (2015), ketigabelas (2022), dan keempatbelas (2027).
Jika yang dijadikan acuan hitungan adalah musywil yang dihadiri PDM se-Jatim, maka Musywil 2027 baru yang ke-12. Musyawarah yang mengundang PDM se-Provinsi baru bisa dilakukan oleh PWM pada tahun 1971. Sementara pada 1965 dan 1968, pergantian dari KH M. Saleh Ibrahim-KH Oesman Muttaqien-KH M. Anwar Zain dilakukan dalam musyawarah yang dihadiri oleh para “tokoh”.
Sementara jika merujuk pada kelahiran cikal-bakal PWM yang bernama Perwakilan Pengurus Besar (PB) Muhammadiyah Wilayah Jatim, maka Musywil 2027 sudah masuk edisi ke-19. Pembentukan Perwakilan PB Muhammadiyah dilakukan dalam musyawarah pada 27-28 Oktober 1951 di Kantor Masyumi Jatim, Jl. Peneleh 18 Surabaya. Tahun 1951 sesungguhnya mengikuti periodesasi PB Muhammadiyah 1950-1953.
Hasil Musyawarah yang disahkan PB Muhammadiyah mengamanatkan KH Abdul Hadi sebagai Ketua, dibantu Nurhasan Zain, M. Saleh Ibrahim, Rajab Gani dan dr. M. Soewandhi. Berbeda dengan 4 koleganya yang berasal dari Perwakilan PB Muhammadiyah Daerah Surabaya, Rajab Gani berasal dari Perwakilan PB Daerah Malang.
Keberadaan Rajab Gani dalam struktur Perwakilan PB Wilayah menunjukkan bahwa musyawarah 1951 itu sudah setingkat “wilayah”. Belum lagi jika membuka buku Menembus Benteng Tradisi (2005) halaman 250, pengusulan pembentukan Perwakilan PB Wilayah ini dihadiri lengkap Perwakilan PB Daerah. Perwakilan PB Daerah yang hadir adalah Surabaya, Madura, Malang, Besuki, Kediri, dan Madiun.
Jika musyawarah di Kantor Masyumi pada 1951 itu dicatat sebagai Musywil pertama, maka tahun 1953/54 adalah Musywil kedua. Pada periode ini pula, berdasarkan Muktamar ke-32 Purwokerto, istilah PB diganti dengan Pimpinan Pusat (PP). Sehingga Perwakilan PB Muhammadiyah Provinsi Jatim menjadi Perwakilan PP Muhammadiyah Provinsi Jatim.
Musywil ke-3 dilaksanakan pada 1956/57, tentu saja mengikuti periodesasi Muktamar yang 3 tahunan. Musywil ke-4 dilaksanakan pada 1960 untuk periode 1959-1962. Dalam musywil ini ada transisi kepemimpinan dari KH Abdul Hadi ke KH M. Saleh Ibrahim. Saleh Ibrahim kembali terpilih sebagai Ketua dalam Musywil ke-5 tahun 1962, sebelum digantikan KH Oesman Muttaqien pada Oktober 1965 dalam Musywil ke-6.
Selanjutnya Musywil ke-7 (1968), ke-8 (1971), ke-9 (1974), ke-10 (1978), ke-11 (1985/86), ke-12 (1990), ke-13 (1995), ke-14 (2000), ke-15 (2005), ke-16 (2010), ke-17 (2015), dan ke-18 (2022).
Mumpung Musywil masih akan dilaksanakan tahun depan, rasanya tetap penting untuk melihat kembali penemuan angka 17 itu. Apakah akan tetap menjadi Musywil ke-17, atau mungkin diubah jadi Musywil ke-12, Musywil ke-14, atau bahkan Musywil ke-19?





0 Tanggapan
Empty Comments