Pendekatan pembinaan berbasis konsekuensi logis diterapkan di Pesantren Muhammadiyah An Nur Sidoarjo sebagai bagian dari proses pendidikan kedisiplinan santri. Dalam sistem ini, setiap pelanggaran tidak langsung diarahkan pada hukuman fisik, melainkan pada bentuk tanggung jawab yang bersifat edukatif.
Salah satu bentuk penerapan konsekuensi logis diberikan kepada santri yang kedapatan membawa atau menggunakan telepon genggam di asrama tanpa izin atau di luar jadwal yang telah ditentukan.
Telepon genggam tersebut kemudian diamankan oleh pihak asrama dan hanya dapat diambil setelah santri menyelesaikan tugas yang ditetapkan, seperti menyetorkan hafalan Al-Qur’an sebanyak tiga juz dalam satu kali duduk atau menghasilkan karya tulis berupa buku.
Aturan tersebut diberlakukan tanpa pengecualian, termasuk kepada santri yang merupakan putra dari Kepala SMP Muhammadiyah 9 Boarding School Tanggulangin, Widiyanti, S.Pd., S.Psi., M.M. Saat diketahui menggunakan telepon genggam di luar ketentuan, ia tetap dikenakan konsekuensi yang sama.
Dalam pelaksanaan konsekuensi tersebut, santri memilih untuk tidak menempuh jalur hafalan, melainkan menulis sebuah buku yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran di lingkungan pesantren. Buku tersebut kemudian diberi judul “Lentera Hati: 100 Kultum untuk Menemani Perjalanan Imam”.
Buku tersebut berisi kumpulan materi kultum yang disusun sebagai referensi bagi santri yang menjalankan tugas sebagai imam maupun pengisi kultum di pesantren. Materi ditulis dengan bahasa sederhana dan disesuaikan dengan konteks kehidupan santri.
Pada Rabu (10/6/2026), buku tersebut diserahkan kepada Kepala MA Emas Pesantren Muhammadiyah An Nur Sidoarjo, Ahmad Fakhrudin Ibrahim, M.Pd., sebagai bentuk penyelesaian konsekuensi atas pelanggaran yang dilakukan.
Ahmad Fakhrudin Ibrahim, M.Pd., menerima karya tersebut dan menyampaikan apresiasi.
“Kami menerima buku ini dengan rasa bangga. Tidak semua anak mampu mengubah kesalahan menjadi sesuatu yang bernilai. Karya ini menunjukkan bahwa santri tidak hanya belajar bertanggung jawab atas kesalahannya, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Semoga buku ini menjadi inspirasi bagi santri-santri lainnya untuk terus berkarya dan menjadikan setiap pengalaman hidup sebagai sarana belajar,” ungkapnya.
Widiyanti, S.Pd., S.Psi., M.M., juga menyampaikan tanggapan atas proses yang dijalani.
“Saya sangat bersyukur. Dengan adanya kesalahan ini, anak saya justru memiliki sebuah karya. Ini menjadi bukti bahwa konsekuensi tidak harus berupa hukuman fisik. Kesalahan yang diolah dengan baik bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai. Insyaallah buku ini akan menjadi amal jariyah bagi anak saya apabila dibaca oleh banyak santri dan digunakan sebagai referensi kultum,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan pendidikan melalui konsekuensi logis memberikan ruang bagi santri untuk bertanggung jawab sekaligus menghasilkan karya yang bermanfaat.
Pihak pesantren menyampaikan bahwa pendekatan ini menjadi bagian dari upaya pembinaan karakter santri melalui tanggung jawab atas setiap tindakan yang dilakukan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments