Bangunan masjid ini agak berbeda dengan masjid lain-lainnya di Surabaya, dan Indonesia umumnya. Bangunan masjid biasanya lurus menghadap barat, ia justru lebih condong ke utara. Tak heran jika saat terjadi pembetulan arah kiblat, saf masjid ini justru serong ke kiri. Bukan serong kanan sebagaimana umumnya.
Bangunan itu bernama Masjid Al-Akbar. Sama-sama di Surabaya, ia tentu bukan Masjid Nasional Al-Akbar yang berada di Jambangan. Ia sebuah masjid yang membelah gang, sehingga posisinya persis di tengah-tengah gang. Berukuran 15 x 4,5 meter, ia terletak di Jalan Pandean II, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya.
Ada kisah dramatis tentang pembetulan saf yang tepat mengarah kiblat (rasydul ‘ain) itu. Bukan hanya perdebatan sengit antar warga, tapi juga “singkur-singkuran kepala” saat menjalankan salat. Bukan hanya sekali dua kali, tapi hingga berhari-hari.
“Pembetulan saf yang mengarah kiblat ini dilakukan sekitar tahun 1989 menjelang Idul Fitri. Dan, dari perhitungan ilmu falak dan bantuan kompas, memang saf harusnya serong ke kiri agar tepat menghadap Kakbah di Mekkah,” cerita saksi sejarah yang rumahnya sebelah masjid, Budi Irawan, Ahad (07/06/2026).
Geger saf miring ke kiri sempat membuat suasana masjid menjadi hangat. Maklum saja, pembetulan saf itu dilakukan pada hari Jum’at. Beberapa jam menuju salat Jumatan, saf yang tepat mengarah Kakbah itu baru selesai digaris. Garis saf yang baru langsung disaksikan banyak jamaah yang melaksanakan salat Jum’at.
“Menjelang Idul Fitri itu, ada muballigh Muhammadiyah dari Yogyakarta, Kiai Machnun yang sedang mampir salat di Masjid Al-Akbar. Beliau sebenarnya sedang menginap di hotel Singaraja yang tak jauh dari masjid ini,” lanjut Budi yang juga anggota Majelis Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi (MPID) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya itu.
Machnun yang dimaksud adalah Machnun Husein, Sekretaris DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) 1971-1974 yang juga wartawan Majalah Suara Muhammadiyah. Dia dijadwalkan akan mengisi imam dan khutbah salat Idulfitri di Tugu Pahlawan.
Saat menunggu salat Idulfitri inilah Machnun mampir ke Masjid Al-Akbar untuk salat fardlu. “Saat mampir salat di masjid ini, beliau merasa arah kiblat masjid ini tidak lurus mengarah Kakbah. Terlalu mengarah ke utara,” lanjut Budi.
Karena mendapati arah kibat yang kurang lurus, Kiai Machnun pun mengajak diskusi dengan para ta’mir masjid. Hasil diskusi adalah mengukur kembali arah kiblat Masjid Al-Akbar dengan alat bantu kompas dan perhitungan ilmu falak. “Kebetulan ada jamaah yang juga mahasiswa Teknis Fisika ITS, dia juga bisa menghitung arah kiblat.”
Dengan alat bantu kompas dan perhitungan ilmu falak yang dilakukan oleh jamaah setempat, hasilnya sesuai dengan dugaan Kiai Machnun. Ternyata arah kiblat masjid itu lebih mendekati arah utara dibanding arah barat. Sehingga saf pun harus serong ke kiri.

Setelah digaris saf yang lurus Kakbah, di hari Jumat itu pun memunculkan perdebatan sebelum khotbah dilaksanakan. Meski dalam khotbah Jum’at kemudian, khatib mengangkat tema tentang kiblat yang mengarah Kakbah, ada jamaah yang tidak menerima perubahan garis saf itu.
“Kompas hanya ciptaan manusia, sementara matahari ciptaan Allah swt. Lebih benar mana ciptaan manusia dan ciptaan Allah,” begitu argumentasi penolak pembetulan saf yang ditirukan Budi Irawan.
Meski dijelaskan berulangkali bahwa posisi matahari dalam setiap tahunnya tidak sama saat terbit dari timur, ada saja yang tidak terima. Tak ayal, saat jamaah mendirikan salat Jum’at banyak kelucuannya. Ada yang tetap menghadap lurus sebelum saf dibetulkan, dan ada pula yang mau serong ke kiri.
“Sehingga saat rukuk maupun sujud, ada saja jamaah yang beradu kepala. Sebab, satunya lurus tapi sebelahnya miring serong ke kiri,” jelas Budi sambil tertawa mengenang kejadian masa kecilnya itu.
“Tawuran” kepala saat salat itu ternyata tidak hanya sekali dalam salat Jumat itu saja. Melainkan masih berjalan berhari-hari berikutnya. Jamaah yang yakin kiblatnya lurus, tetap saja lurus. Sementara jamaah lainnya sudah serong ke kiri.
Namun, lambat laun, dengan kemajuan ilmu pengetahuan, perubahan saf di masjid itu diterima oleh jamaah. Apalagi setelah membandingkan dengan masjid-masjid lainnya, dengan menarik garis lurus peta, terlihat jelas bagaimana saf yang betul.
Dan, hingga kini, masjid di tengah gang itu pun tetap menjadi salah satu masjid unik di Surabaya. Bukan saja posisinya yang membelah gang tepat di tengah-tengah gang. Tapi juga garis safnya yang serong miring ke kiri. Bukan serong miring ke kanan.





0 Tanggapan
Empty Comments