Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dua Ekor Kambing Mati, Kisah Pengorbanan Rosyad Nurdin saat Memimpin IPM Paciran

Iklan Landscape Smamda
Dua Ekor Kambing Mati, Kisah Pengorbanan Rosyad Nurdin saat Memimpin IPM Paciran
Rosyad Nurdin (Guru Pondok Modern Muhammadiyah Paciran Lamongan & Mantan Ketua Umum PC IPM Paciran periode 2009/2011) (Ahmad Fauzul/PWMU.CO)

Paciran dikenal sebagai salah satu wilayah dengan tradisi kaderisasi Muhammadiyah yang kuat di Kabupaten Lamongan. Dari kawasan pesisir ini lahir sejumlah tokoh Muhammadiyah yang berkiprah di tingkat daerah maupun nasional. Di balik perjalanan panjang kaderisasi tersebut, tersimpan berbagai kisah yang jarang terdokumentasikan, termasuk cerita tentang pengorbanan seorang kader muda saat memimpin organisasi pelajar Muhammadiyah di tingkat cabang.

Salah satu kisah tersebut datang dari Rosyad Nurdin, mantan Ketua Umum Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Paciran periode 2009–2011. Sosok yang akrab disapa Pak Nurdin oleh murid-muridnya itu berasal dari keluarga sederhana yang sejak kecil terbiasa membantu orang tua menggembala dan merawat kambing.

Kebiasaan tersebut terus dijalani hingga dewasa. Di tengah aktivitas pendidikan dan organisasi, ia tetap bertanggung jawab mengurus ternak keluarga yang dipelihara di ladang. Pada tahun 2009, ketika berusia 24 tahun, Rosyad Nurdin dipercaya memimpin PC IPM Paciran.

Ada pengalaman yang masih diingatnya saat proses pemilihan ketua umum berlangsung. Ketika menghadiri Musyawarah Cabang (Musycab) di Perguruan Muhammadiyah Sidokelar, Paciran, ia sempat meninggalkan forum untuk pulang sejenak memberi makan kambing.

Sesampainya di ladang, ia mencari pohon imbo untuk mengambil daun dan ranting yang biasa digunakan sebagai pakan ternak. Saat berada di atas pohon, telepon genggamnya berdering. Setelah memeriksa pesan yang masuk, ia mendapati ucapan selamat dari sejumlah rekan atas terpilihnya dirinya sebagai Ketua Umum PC IPM Paciran.

Kabar tersebut diterimanya ketika masih berada di atas pohon dan sedang mencari pakan ternak. Momen itu menjadi salah satu pengalaman yang membekas dalam perjalanan organisasinya.

Setelah terpilih, Rosyad Nurdin bersama jajaran pengurus mulai mempersiapkan pelantikan kepengurusan yang dilaksanakan di Perguruan Muhammadiyah Sumuran, Paciran. Pada saat itu, pelantikan tidak hanya diisi dengan seremoni organisasi, tetapi juga dirangkai dengan tiga kegiatan lain yang diselenggarakan secara bersamaan.

Kegiatan tersebut mendapat perhatian dari berbagai kalangan Muhammadiyah di Lamongan. Bahkan, Pimpinan Daerah IPM Lamongan memberikan apresiasi atas pelaksanaan program yang dilakukan oleh PC IPM Paciran.

Namun, di balik kesibukan itu, Rosyad Nurdin menghadapi persoalan lain di rumah. Beberapa minggu sebelum kegiatan berlangsung, kambing peliharaannya melahirkan dua anak kambing yang memerlukan perawatan khusus. Kedua anak kambing tersebut harus diberi susu menggunakan dot secara rutin sebanyak tiga kali sehari.

SMPM 5 Pucang SBY

Kesibukan mengurus kegiatan organisasi membuat waktu yang dimilikinya semakin terbatas. Selama persiapan hingga pelaksanaan kegiatan pelantikan, ia hanya sempat memberikan susu satu kali dalam sehari.

Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, Rosyad Nurdin kembali ke ladang untuk melihat kondisi ternaknya. Saat itulah ia mendapati dua anak kambing yang baru lahir tersebut tergeletak di dalam kandang.

Setelah diperiksa, kedua anak kambing itu diketahui telah mati karena kekurangan asupan susu. Peristiwa tersebut menjadi pengalaman yang tidak mudah dilupakan dalam masa kepemimpinannya di IPM Paciran.

Meski demikian, ia tidak menyesali keputusan untuk tetap menjalankan amanah organisasi yang diembannya saat itu. Menurutnya, terdapat pelajaran dan manfaat yang diperoleh dari kegiatan tersebut.

Salah satunya adalah perhatian yang diberikan oleh almarhum Nadjib Hamid terhadap Perguruan Muhammadiyah Sumuran. Melalui kegiatan pelantikan tersebut, sekolah memperoleh bantuan dana sebesar Rp5 juta yang digunakan untuk pembangunan toilet sekolah.

“Ya tidak papa (kehilangan 2 ekor kambing), tapi justru saya bersyukur, karena kegiatan itu Pak Nadjib menyumbangkan uang 5 juta untuk digunakan membangun toilet sekolah,” ujarnya saat diwawancarai di kediamannya.

Kisah tersebut menjadi bagian dari perjalanan kaderisasi di Muhammadiyah Paciran. Di balik aktivitas organisasi yang tampak dari luar, terdapat berbagai pengalaman pribadi yang membentuk proses belajar, tanggung jawab, dan pengabdian para kader dalam menjalankan amanah yang dipercayakan kepada mereka. (*)

SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu