Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Masjid Dhirar dan Bahaya Niat yang Tersembunyi

Iklan Landscape Smamda
Masjid Dhirar dan Bahaya Niat yang Tersembunyi
Ilustrasi: OpenAI
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Ada sebuah pelajaran penting dalam sejarah Islam yang tidak cukup dibaca sebagai kisah masa lalu. Namanya Masjid Dhirar. Sebuah bangunan yang tampak seperti tempat ibadah, tetapi di balik pendiriannya tersimpan maksud untuk menimbulkan kemudaratan dan memecah belah kaum muslimin.

Kisah ini mengajarkan bahwa tidak semua yang tampak baik benar-benar lahir dari niat yang baik. Tidak semua yang menggunakan simbol agama sedang memperjuangkan nilai-nilai agama.

Bahkan, sesuatu yang dibangun dengan nama Allah pun harus diuji dengan tujuan dan dampak yang ditimbulkannya.

Sebab, yang tampak dari luar belum tentu sama dengan yang tersembunyi di dalam hati.

Bangunan yang Kehilangan Ruhnya

Peristiwa Masjid Dhirar terjadi pada masa Rasulullah saw. Menjelang atau sesudah Perang Tabuk, sekelompok orang mendirikan sebuah masjid di Madinah. Mereka kemudian meminta Rasulullah saw. berkenan salat di dalamnya.

Alasan yang mereka sampaikan terdengar baik. Masjid itu, menurut mereka, diperlukan untuk membantu orang-orang yang lemah dan mereka yang kesulitan datang ke masjid ketika malam gelap atau cuaca buruk.

Namun, di balik alasan tersebut, tersimpan maksud lain. Pendirian masjid itu dikaitkan dengan upaya menimbulkan kemudaratan, memperkuat kekafiran, dan memecah belah kaum beriman.

Allah membongkar maksud tersebut melalui wahyu-Nya.

Dalam Surah At-Taubah ayat 107, Allah berfirman tentang orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan, kekafiran, dan perpecahan di antara orang-orang mukmin.

Rasulullah saw pun tidak diperkenankan melaksanakan salat di masjid itu. Allah kemudian mengingatkan bahwa masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama lebih berhak menjadi tempat beliau menunaikan salat. Pesan ini termaktub dalam Surah At-Taubah ayat 108.

Masjid yang dimaksud sebagai pembanding adalah Masjid Quba, yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai masjid yang dibangun atas dasar takwa.

Dalam riwayat tafsir, Rasulullah saw memerintahkan agar Masjid Dhirar dihancurkan. Bangunan itu akhirnya tidak bertahan sebagai tempat ibadah.

Dua bangunan sama-sama memakai nama masjid. Keduanya sama-sama tampak sebagai tempat mendekatkan diri kepada Allah. Namun, tujuan pendiriannya berbeda. Yang satu dibangun di atas takwa, sedangkan yang lain menjadi sarana untuk merusak persatuan.

Di sinilah kisah itu menemukan relevansinya. Masalahnya bukan semata-mata bangunan. Masalahnya adalah niat yang menyimpang di balik simbol kebaikan.

Ketika Kebaikan Menjadi Alat Persaingan

Bayangkan sebuah kampung yang memiliki masjid kecil. Warganya saling mengenal. Mereka bergotong royong membersihkan halaman, menyiapkan makanan untuk pengajian, membantu tetangga yang sakit, dan mengumpulkan dana untuk keluarga yang tertimpa musibah.

Suatu hari, sekelompok warga mendirikan tempat kegiatan baru. Pada mulanya, gagasannya baik. Mereka ingin memperluas pelayanan, memperbanyak pengajian, dan menghidupkan kegiatan sosial.

Namun, perlahan-lahan suasana berubah. Setiap kegiatan mulai dibandingkan. Jumlah jamaah dihitung. Sumbangan dipamerkan. Keberhasilan kelompok sendiri dibesar-besarkan, sedangkan kekurangan kelompok lain menjadi bahan pembicaraan. Orang yang dahulu duduk bersama dalam satu saf kini saling menjaga jarak.

Pertemuan yang seharusnya menjadi ruang mencari ilmu berubah menjadi tempat membicarakan keburukan orang lain. Kegiatan yang semestinya mempererat persaudaraan justru memperlebar jarak.

Bangunannya tetap berdiri. Pengajiannya tetap berlangsung. Bahkan, jamaahnya mungkin semakin banyak.

Namun, ada sesuatu yang perlahan hilang: keikhlasan untuk menerima bahwa orang lain juga bisa berbuat baik.

Ilustrasi ini bukanlah kisah Masjid Dhirar yang sebenarnya. Namun, ia membantu kita memahami bagaimana sebuah kegiatan yang bermula dari tujuan baik dapat kehilangan ruhnya ketika dikuasai persaingan, kebencian, dan keinginan untuk mengalahkan pihak lain.

Tentu, tidak setiap persaingan atau perbedaan pendapat merupakan kemunafikan. Perbedaan dapat memperkaya umat, sedangkan kritik bisa menjadi jalan perbaikan. Yang perlu diwaspadai ialah ketika nama agama digunakan untuk membenarkan kebencian, fitnah, dan perpecahan.

Sebab, ukuran keberhasilan dakwah bukan hanya seberapa ramai sebuah kegiatan, melainkan juga apakah manusia menjadi lebih baik setelah mengikutinya.

Masjid memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Di sana orang bersujud, belajar, berdoa, dan bertemu sesama muslim. Di sana pula perbedaan kedudukan sosial semestinya luruh di hadapan Allah.

Orang kaya berdiri berdampingan dengan orang miskin. Pejabat bersisian dengan rakyat biasa. Orang yang dikenal luas berada dalam saf yang sama dengan mereka yang tak pernah disebut namanya.

Salat mengajarkan kesetaraan. Saf mengajarkan keteraturan. Sujud mengingatkan bahwa manusia tidak pantas menyombongkan diri.

Tetapi, nilai-nilai itu bisa berhenti sebagai gerakan tubuh jika tidak dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari.

Seseorang dapat berdiri dalam saf yang sama, tetapi hatinya menyimpan kebencian kepada orang di sebelahnya. Ia dapat fasih berbicara tentang ukhuwah, tetapi mudah menyebarkan kabar yang merusak kehormatan saudaranya. Ia dapat mengajak orang lain berbuat baik, tetapi diam-diam berharap orang yang berbeda dengannya mengalami kegagalan.

Di sinilah kita perlu berhati-hati. Jangan sampai agama hanya menjadi bahasa yang kita ucapkan, bukan nilai yang kita hidupi.

Masjid Dhirar mengingatkan bahwa simbol keagamaan tidak otomatis menjamin kelurusan tujuan. Nama yang baik tidak dengan sendirinya membuat sebuah perbuatan menjadi baik. Begitu pula pujian manusia tidak selalu menjadi tanda bahwa Allah meridai apa yang kita kerjakan.

Yang perlu diperiksa bukan hanya apa yang kita bangun, melainkan juga untuk apa bangunan itu didirikan.

Bukan hanya berapa banyak orang yang mengikuti kita, melainkan juga ke mana kita membawa mereka.

Bukan hanya seberapa lantang kita berbicara tentang persatuan, melainkan apakah kehadiran kita benar-benar membuat orang-orang lebih mudah bersaudara.

Penyakit Hati yang Bersembunyi di Balik Amal

Persoalan ini tidak hanya berlaku bagi pengelola masjid, pemimpin organisasi, atau mereka yang aktif dalam kegiatan dakwah. Ia juga menyentuh kehidupan pribadi kita.

Seorang ayah dapat menasihati anaknya agar jujur, tetapi ia sendiri terbiasa menyembunyikan kebenaran demi keuntungan. Seorang guru dapat mengajarkan akhlak, tetapi mempermalukan murid yang tidak disukainya. Seorang aktivis dapat menggalang dana untuk orang miskin, tetapi menggunakan bantuan itu untuk membangun citra diri.

Perbuatannya mungkin terlihat baik. Sebagian manfaatnya bahkan benar-benar dirasakan orang lain. Namun, ketika kepentingan pribadi mulai menguasai tujuan, kita perlu berhenti sejenak dan memeriksa diri.

Apakah kita membantu karena ingin meringankan beban orang lain, atau karena ingin disebut dermawan?

SMPM 5 Pucang SBY

Apakah kita berdakwah untuk menyampaikan kebenaran, atau untuk menunjukkan bahwa kelompok kita paling benar?

Apakah kita mengkritik demi perbaikan, atau karena tidak tahan melihat orang lain memperoleh penghargaan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak mudah dijawab. Sebab, manusia pandai menemukan alasan untuk membenarkan dirinya sendiri.

Kita bisa menyebut iri hati sebagai kepedulian. Kita bisa menyebut ambisi sebagai perjuangan. Kita bisa menyebut upaya menjatuhkan orang lain sebagai pembelaan terhadap kebenaran.

Padahal, di balik kata-kata yang terdengar mulia, mungkin ada kepentingan yang sedang kita lindungi.

Karena itu, muhasabah tidak cukup dilakukan dengan menghitung amal yang telah kita kerjakan. Kita juga perlu memeriksa penyakit hati yang mungkin tumbuh bersamanya.

Ikhlas bukan berarti merasa diri sudah bersih dari kepentingan. Ikhlas justru menuntut keberanian untuk terus mengoreksi diri.

Membangun Quba, Bukan Mengulang Dhirar

Kisah Masjid Dhirar tidak semestinya menjadi alasan untuk mudah menuduh pihak lain munafik. Penilaian terhadap isi hati bukanlah kewenangan kita. Apalagi menjadikan perbedaan pandangan sebagai bukti bahwa seseorang sedang mengikuti jejak kaum munafik.

Pelajaran yang lebih penting justru terletak pada keberanian untuk memulai pemeriksaan dari diri sendiri.

Dalam keluarga, apakah kehadiran kita mendatangkan ketenteraman atau justru memperpanjang pertengkaran?

Dalam organisasi, apakah kita membuka ruang bagi gagasan yang berbeda atau hanya nyaman bersama orang-orang yang selalu menyetujui kita?

Dalam dakwah, apakah kita sibuk membangun kepercayaan kepada Allah dan sesama manusia atau lebih sibuk membangun nama kelompok sendiri?

Di ruang publik, apakah ucapan kita membantu orang memahami persoalan atau justru memperkeruh keadaan?

Pertanyaan itu berlaku bagi siapa saja, termasuk orang yang merasa sedang berada di pihak yang benar.

Kita mungkin tidak sedang membangun masjid. Namun, setiap hari kita membangun sesuatu melalui ucapan, keputusan, dan tindakan. Kita membangun kepercayaan atau meruntuhkannya. Kita merawat persaudaraan atau mengikisnya. Kita menumbuhkan harapan atau memperbesar kecurigaan.

Semua itu bermula dari niat, tetapi tidak berhenti di sana. Niat yang baik perlu diwujudkan melalui cara yang baik dan dipertanggungjawabkan melalui dampaknya.

Sebuah kegiatan tidak menjadi benar hanya karena tujuannya diklaim mulia. Cara yang zalim tidak berubah menjadi baik hanya karena dibungkus dengan kalimat perjuangan.

Di sinilah Masjid Quba menjadi lambang penting. Takwa bukan sekadar sesuatu yang tertulis dalam spanduk atau disebut dalam pidato. Takwa harus menjadi dasar dalam menentukan tujuan, memilih cara, memperlakukan sesama, dan menyelesaikan perbedaan.

Membangun di atas takwa berarti bersedia bekerja tanpa harus selalu mendapat pujian. Bersedia mengakui kelebihan orang lain. Bersedia memperbaiki kesalahan sendiri. Dan bersedia menjaga persaudaraan meskipun tidak selalu sepakat dalam segala hal.

Sebelum Meminta Orang Lain Berubah

Pada akhirnya, kisah Masjid Dhirar mengajak kita menengok ruang yang paling sulit diperiksa: hati sendiri.

Kita mudah menemukan kesalahan orang lain. Kita mudah mengomentari organisasi lain. Kita cepat menilai cara orang berdakwah, mengelola masjid, atau memperjuangkan kepentingannya.

Namun, ketika giliran diri sendiri yang diperiksa, kita sering mempunyai banyak pembelaan.

Mungkin kita pernah membantu seseorang, tetapi kecewa ketika bantuan itu tidak diketahui orang lain. Mungkin kita pernah mengucapkan selamat atas keberhasilan seorang kawan, tetapi diam-diam merasa tersaingi. Mungkin kita pernah mengajak orang bersatu, tetapi sulit menerima jika gagasan kita tidak dipilih.

Hal-hal seperti itu tidak serta-merta menjadikan kita sama dengan para pendiri Masjid Dhirar. Namun, semuanya dapat menjadi pintu masuk untuk melakukan muhasabah sebelum penyakit hati tumbuh semakin jauh.

Kita tidak perlu menunggu amal kita menjadi besar untuk memeriksa niat. Justru pada pekerjaan kecil, niat sering diuji dengan lebih jujur.

Ketika tidak ada yang memuji, apakah kita tetap bekerja? Ketika orang lain berhasil, apakah kita tetap bisa ikut bersyukur? Ketika pendapat kita ditolak, apakah kita masih mampu menghormati orang yang berbeda?

Dan ketika nama kita tidak disebut, apakah kebaikan yang kita lakukan masih terasa layak untuk diteruskan?

Barangkali di situlah letak ujian yang sesungguhnya.

Masjid Dhirar telah menjadi bagian dari sejarah. Bangunannya tidak lagi berdiri sebagaimana dahulu. Namun, pelajarannya tetap hidup dan perlu dibaca dengan hati-hati.

Jangan sampai kita begitu sibuk membangun sesuatu yang tampak suci, tetapi lupa merawat nilai-nilai yang membuatnya bermakna.

Jangan sampai kita rajin mengajak orang menuju kebaikan, tetapi kehadiran kita justru membuat mereka saling menjauh.

Dan jangan sampai kita merasa sedang membela agama, padahal yang sebenarnya sedang kita bela hanyalah ego sendiri.

Sebab, yang membuat sebuah bangunan bernilai di hadapan Allah bukan semata-mata bentuknya, kemegahannya, atau banyaknya orang yang datang. Yang lebih mendasar adalah ketakwaan yang menjadi landasannya dan kebaikan yang tumbuh darinya.

Maka, sebelum sibuk menilai bangunan orang lain, marilah memeriksa fondasi diri sendiri. Apakah ia berdiri di atas takwa? Atau diam-diam sedang dibangun oleh iri hati, ambisi, dan keinginan untuk menang sendiri? (*)

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir QS. At-Taubah: 107-110, Sirah Nabawiyah – Ibnu Hisyam, Asbabun Nuzul – Imam Al-Wahidi.

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 10/10/2026 21:45
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu