Setiap anak memiliki keunikan, potensi, dan cara tersendiri untuk menunjukkan kemampuannya.
Semangat itulah yang tampak dalam pembelajaran kain jumputan bagi Peserta Didik Penyandang Disabilitas (PDPD) program inklusi MI Muhammadiyah 2 Badas (Mimda), Kamis (8/10/2026).
Sebanyak 19 PDPD mengikuti kegiatan yang berlangsung pukul 10.00 WIB tersebut. Melalui teknik jumputan, mereka belajar mengenal warna dasar sekaligus menciptakan motif unik pada kain.
Kembangkan Kemampuan Lewat Aktivitas Bermakna
Kegiatan ini menjadi bagian dari program inklusi Mimda yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan peserta didik melalui aktivitas yang menyenangkan dan bermakna.
Proses pembuatan kain jumputan dilakukan melalui tahapan sederhana. Peserta didik belajar mencubit dan mengikat bagian kain menggunakan karet, kemudian mencelupkannya ke dalam pewarna.
Dari ikatan-ikatan sederhana itu, muncul motif yang beragam dan tidak selalu sama antara satu kain dengan kain lainnya.
Di balik aktivitas tersebut, terdapat banyak keterampilan yang dilatih. Gerakan mengikat dan mencelup membantu mengembangkan motorik halus serta koordinasi mata dan tangan.
Peserta didik juga belajar membedakan tekstur kain, mengenal warna, memahami pola, dan melihat hubungan sebab-akibat dari proses yang mereka lakukan.
Lebih dari sekadar belajar keterampilan seni, kegiatan ini menjadi ruang untuk menumbuhkan kesabaran, konsentrasi, kemandirian, dan rasa percaya diri.
Setiap tahapan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mencoba, mengikuti instruksi, serta menyelesaikan karya sesuai kemampuan masing-masing dengan pendampingan yang diperlukan.
“Program inklusi Mimda tidak berhenti pada kegiatan mewarnai kain. Sekolah juga mengembangkan program lain, seperti life skill dan berenang, sebagai upaya memberikan pengalaman belajar yang beragam bagi peserta didik” ujar Koordinator Bidang Inklusi Umum, Sania Rahma Yulia.
Bawa Pesan Keberagaman
Pembelajaran kain jumputan ini juga membawa pesan penting tentang keberagaman. Setiap kain memiliki motif dan karakter yang berbeda.
Begitu pula setiap anak yang memiliki potensi, kebutuhan, serta cara belajar yang tidak selalu sama. Perbedaan bukanlah penghalang untuk berkarya, melainkan bagian dari keunikan yang patut dihargai.
“Hasil karya peserta didik rencananya akan dipamerkan dalam Festival Bulan Bahasa (FBB) Mimda pada Kamis (15/10/2026), sebagai bagian dari peringatan Milad ke-144 Muhammadiyah” imbuh Koordinator Bidang Inklusi Khusus, Nabila Nadya Filyanda.
Pameran tersebut diharapkan menjadi kesempatan bagi peserta didik untuk menunjukkan hasil belajar mereka kepada warga madrasah dan orang tua.
Karya sederhana itu sekaligus menjadi bukti bahwa pendidikan inklusif bukan hanya tentang memberikan kesempatan belajar. Tetapi juga membuka ruang agar setiap anak dapat berkembang, berkarya, dan memperoleh apresiasi.
Melalui kegiatan ini, Mimda menegaskan bahwa pendidikan yang bermakna adalah pendidikan yang melihat potensi setiap anak.
Sebab, seperti motif jumputan yang beraneka rupa, setiap anak istimewa dengan caranya sendiri.





0 Tanggapan
Empty Comments